sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Wunderkind berkreasi musik tanpa bertemu fisik

Kelima anak usia 9 hingga 11 tahun tersebut, berasal dari kota berbeda dan belum pernah bertemu secara fisik.

Indah Nawang Wulan
Indah Nawang Wulan Senin, 12 Apr 2021 09:19 WIB
Wunderkind berkreasi musik tanpa bertemu fisik

Pandemi Covid-19 yang berlangsung lebih dari satu tahun, membuat jutaan anak-anak tercerabut dari kehidupan sosialnya. Keseharian anak-anak yang biasanya padat aktivitas sekolah, les musik, klub olahraga dan ekstrakurikuler, harus dibatasi. Sebagian aktivitas yang biasa dilakukan tatap muka, terpaksa beralih ke daring dengan mengandalkan penggunaan gawai.

Seiring waktu, sederet masalah pun muncul. Salah satunya, kecanduan gawai. Penggunaan gawai seharusnya selesai saat proses belajar daring berakhir, namun faktanya tak sedikit orang tua yang membiarkan anak berkutat dengan gawai hingga sore bahkan malam hari. Sayangnya, bagi sebagian siswa, gawai tak lagi digunakan mendukung proses pendidikan, namun untuk mengakses konten lainnya, terutama game online. 

Sadar akan fakta mengkhawatirkan tersebut, sebagian orang tua mencari beragam cara mendorong anak-anak lebih produktif mengisi waktu di rumah. Salah satunya bermain musik, bahkan membuat proyek kolaborasi musik. Seperti yang dilakukan oleh Wunderkind, band yang digawangi Aisha (vokal), Tata (bass), Biel (gitar), Vicki (gitar) dan Mika (drum). Kelima anak usia 9 hingga 11 tahun tersebut, berasal dari kota berbeda dan belum pernah bertemu secara fisik. Namun keterbatasan jarak, tak membuat mereka berhenti membuat karya. Salah satunya dengan mengaransemen ulang lagu It's The Hard Knock Life, soundtrack film drama musikal Annie.  

"Anak-anak ini punya kesamaan suka musik, lalu bertemu secara daring dan sepakat membuat kolaborasi musik. Belum pernah ketemu sama sekali, ngobrolnya ya lewat sosial media," kata Ferganata Indra ayah dari Vicki. 

Ya, keterbatasan jarak di tengah pandemi Covid-19, tak seharusnya membuat anak-anak berhenti membuat karya. Kemudahan teknologi menyediakan beragam saluran komunikasi, bahkan untuk menciptakan hal-hal rumit seperti kolaborasi musik. "Ngobrolnya lewat chat instagram sama whatsapp. Enggak ada kesulitan besar. Kalaupun ada, bisa kami obrolin," kata Tata sang bassist.

"Ngobrolnya kadang malam, karena siang kami fokus sekolah daring," tambah Aisha, vokalis Wunderkind. 

"Kesulitannya di awal-awal ya, apalagi aku mainin drum yang harus bener ketukan, tempo enggak boleh salah. Biasanya sehabis sekolah daring, aku mulai latihan ngulik lagunya," kata Mika. 

Menurut Budayawan Sutanto Mendut, penggunaan gawai pada anak-anak, terlebih di tengah pandemi memang tak bisa terelakkan, bahkan mustahil dipisahkan.

Sponsored

"Yang bisa dilakukan orang tua adalah mengarahkan penggunaan gawai dan teknologi untuk hal-hal yang lebih produktif, seperti membuat kolaborasi musik. Berjejaring musik secara virtual, bisa kok menghasilkan karya-karya besar yang diakui dunia bahkan", kata Sutanto saat peluncuran video musik Wunderkind secara daring, Sabtu (10/4).

Ya, pandemi Covid-19 memang membawa wajah baru bagi seluruh sektor, termasuk di industri musik nasional.

Menurut Promotor kondang dan perwakilan Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) Anas Syahrul Alimi, pandemi menjadi tantangan baru untuk lebih adaptif di industri musik. "Selain perubahan pola pada sisi bermusik seperti yang dilakukan Wunderkind, kami sebagai promotor juga berubah. Konser musik polanya wajib protokol kesehatan dari sisi venue dan penonton. Ini menyesuaikan semua." kata Anas.

Berita Lainnya