sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kepentingan Erick Thohir hingga Hary Tanoe di bisnis Telkom

Erick Thohir, Wahyu Trenggono, hingga Hary Tanoesoedibjo memiliki kepentingan bisnis yang sama dengan Telkom maupun Telkomsel.

Fajar Yusuf Rasdianto
Fajar Yusuf Rasdianto Selasa, 18 Feb 2020 21:09 WIB
Kepentingan Erick Thohir hingga Hary Tanoe di bisnis Telkom
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 385.980
Dirawat 63.556
Meninggal 13.205
Sembuh 309.219

Sindiran Menteri Badan Usaha Milik Negera (BUMN) Erick Thohir menyoal kinerja PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang kurang moncer menimbulkan banyak respons di kalangan investor.

Erick ketika itu (12/2) menyebut bahwa Telkom sebagai induk terlalu bergantung kepada anak usahanya, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Nyaris 70% penghasilan Telkom, kata dia, disumbang oleh Telkomsel.

“Enak di Telkom, Telkomsel dividen, revenue Telkomsel digabung ke Telkom hampir 70%, mendingan enggak ada Telkom, mending Telkomsel langsung dimiliki Kementerian BUMN, dividennya jelas,” terang Erick seperti disadur Tempo.co di Menara Mandiri, Jakarta, Rabu (12/2).

Sebagian pihak menilai bahwa pernyataan Erick tidak pantas karena Telkom merupakan perusahaan publik yang setiap gerak-geriknya selalu menjadi sorotan investor. Dan sudah barang tentu, apa yang disampaikan Erick itu akan berdampak pada pergerakan harga saham Telkom di lantai bursa.

Di sisi berbeda, sindiran Erick kepada Telkom juga disinyalir syarat kepentingan bisnis. Seperti diketahui, pada April 2019 lalu, kakak kandung Erick Thohir, yakni Garibaldi ‘Boy’ Thohir telah menyuntikkan dana besar ke PT Hutchison 3 Indonesia (Tri Indonesia) melalui skema penyerapan saham hasil penerbatan saham baru (rights issue) perseroan senilai Rp47 triliun.

Tri Indonesia bermain di bisnis yang sama dengan Telkomsel sebagai penyedia jaringan seluler. Ekspansi bisnis Tri menjadi lebih leluasa dengan kucuran dana segar tersebut.

Masih di dalam tubuh BUMN, juga ada nama Arya Sinulingga yang menjadi Staf Khusus (Stafsus) Kementerian BUMN. Nama Arya terafiliasi dengan Grup MNC milik Hary Tanoesoedibjo.

Arya sempat menjabat sebagai Direktur Holding PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN) sebelum akhirnya bergabung sebagai Stafsus di Kementerian BUMN. Tidak hanya Arya, ada nama putri Hary Tanoe, yakni Angela Tanoesoedibjo yang menjabat sebagai Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Kabinet Indonesia Maju.

Sponsored

Salah satu anak usaha MNC, yakni MNC Play bermain di sektor yang sama dengan lini bisnis Telkom, yaitu IndiHome. Keduanya sama-sama bermain di bisnis fiber optik dan TV berlangganan.

Selain itu, dari sisi kabinet juga ada nama Wahyu Sakti Trenggono, Wakil Menteri Pertahanan yang terafiliasi dengan perusahaan menara pemancar, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG). ‘Mas Treng’ begitu dirinya disapa bahkan dikenal sebagai ‘Raja Menara’ di Indonesia.

Pada 2015 silam, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) anak usaha dari Telkom sempat berencana untuk melakukan tukar guling saham (share swap) dengan TBIG. Alasannya kala itu, industri menara di Indonesia sudah hiperkompetisi dan lokasi menara saling tumpang tindih.

Untuk menyelesaikan persoalan itu maka diperlukan aksi tukar saham dengan TBIG supaya kinerja perusahaan menara bisa lebih maksimal. Meski pada akhirnya, rencana tersebut dibatalkan karena tidak mendapatkan persutujuan dari komisaris. Simak laporan lengkapnya di sini.

Infografik gaduh Erick Thohid di Telkom dan Telkomsel. Alinea.id/Oky Diaz Fajar

Berita Lainnya