Malam satu Suro: Antara budaya dan misteri

Bagi sebagian orang, malam satu Suro dianggap keramat dan menyeramkan. Benarkah begitu?​​​​​​​

Malam satu Suro: Antara budaya dan misteri Suzanna pemeran Suketi dalam film "Malam Satu Suro" (1988)/ Youtube

Bulan Suro muncul ketika Sultan Agung, Raja Mataram (1613-1645) memerintah. Ketika itu, Sultan Agung mengganti kalender Saka, yang sudah ada sejak zaman Hindu menjadi kalender Jawa. Menurut Isdiana dalam skripsinya di Universitas Agama Islam Negeri Raden Intan Lampung berjudul Tradisi Upacara Satu Suro dalam Perspektif Islam, sebagai penganut Islam, Sultan Agung ingin segala hal yang berkaitan dengan perilaku orang Jawa selalu terikat nilai-nilai Islam.

Kalender Jawa ciptaan Sultan Agung tersebut dimulai dari satu Suro tahun Alip 1555, tepat pada satu Muharram 1043 Hijriah. Lebih lanjut, Isdiana menulis, penentuan tahun baru Jawa kalender Sultan Agung tersebut mulai diberlakukan pada 8 Juli 1633.

Penulis buku Sajen dan Ritual Orang Jawa Wahyana Giri menyebut, kalangan keraton Yogyakarta dan kasunanan Surakarta memaknai bulan Suro sebagai bulan yang suci. Di bulan Suro itu, menurut Wahyana, orang harus introspeksi, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kalangan keraton tersebut, menggunakan momen bulan Suro sebagai bulan untuk membersihkan diri, melawan godaan hawa nafsu.

“Secara turun-temurun, orang-orang di keraton dan kasunanan menggelar berbagai tradisi laku tirakat. Salah satunya menggelar selamatan khusus selama satu minggu berturut-turut dan tidak boleh berhenti,” tulis Wahyana Giri dalam Sajen dan Ritual Orang Jawa (2009).


Berita Terkait