Mengukur sentimen publik atas LGBT

Maraknya persekusi transpuan belakangan, membuat kami tertarik mengukur sentimen publik atas mereka di internet dan media.

Mengukur sentimen publik atas LGBT
Unjuk rasa LGBT./ Guardian

Berkaca dari riset Human Rights Watch (HRW) dalam "Takut Tampil di Hadapan Publik dan Kini Kehilangan Privasi: Dampak Hak Asasi Manusia dan Kesehatan Masyarakat dari Kepanikan Moral Anti-LGBT”, sepanjang 2017 ada 300 penyintas yang ditangkap polisi di klub malam, salon, dan kediaman pribadi. Dalihnya sederhana, mereka diduga punya orientasi seksual dan identitas gender berbeda.

Terkait laku penyerangan atas dua transpuan di Bekasi belakangan, menurut Arus Pelangi, merupakan buntut dari pemahaman keliru soal transpuan, atau lebih umum kelompok Lesbian, Gay, Bisex, Transgender (LGBT).

Tak hanya diserang secara fisik, mereka juga diserang secara verbal, dan tak jarang dibatasi hak-haknya. Menurut Rebecca Nyuei, koordinator Transchool—sekolah pro bono transpuan—dari 224 transpuan yang didampingi, hanya 34% yang memiliki KTP. Dilansir VOA, ketiadaan KTP ini konon disebabkan oleh pengusiran dari rumah atau kabur karena tidak nyaman dengan perlakuan yang diterima, ketika mereka masih sangat belia, dan terpaksa bekerja atau hidup di jalan. Tanpa kartu identitas, para transpuan pun sulit mengakses layanan dasar kesehatan, BPJS, atau sekadar membuka rekening di bank.

Sayangnya, hal ini terus direpetisi dalam bentuk ujaran kebencian dan bahasa kekerasan yang massif, baik di jagat maya bahkan dalam deklarasi di sejumlah daerah.

Bagaimana sebenarnya sentimen media dan publik di jagat maya dalam melihat fenomena LGBT ini?


Berita Terkait

Kolom

Infografis