sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mengulik efektivitas rapid test

Rapid test tidak bisa digunakan sebagai alat uji diagnostik Covid-19.

Fajar Yusuf Rasdianto
Fajar Yusuf Rasdianto Selasa, 01 Sep 2020 10:21 WIB
Mengulik efektivitas rapid test
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 236519
Dirawat 55000
Meninggal 9336
Sembuh 170774

Indonesia hingga saat ini masih menggunakan tes antibodi (rapid test) untuk beberapa keperluan. Misalnya sebagai syarat melakukan perjalanan jauh dan prosedur persalinan. 

Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menyatakan rapid test sebetulnya tidak bisa dijadikan alat diagnosa Covid-19. Pasalnya, tes ini tak bisa mendeteksi ada atau tidaknya virus SARS-Cov2 dalam tubuh. Tes ini hanya mendeteksi ada atau tidaknya imun yang muncul setelah sembuh dari infeksi virus.

Sebuah hasil studi yang dipublikasi Chrocane Library pada 25 Juni 2020 lalu menunjukkan bagaimana cara tes cepat antibodi bekerja. Riset ini mengambil 54 sampel tes antibodi di daratan Asia, Eropa, Amerika dan China. Hasilnya menampilkan tingkat akurasi tes antibodi untuk mendeteksi adanya sistem imun dalam tubuh yang muncul setelah terjangkit Covid-19.

Di minggu pertama, akurasi tes antibodi ini menunjukkan tingkat akurasi 30%. Angkanya kemudian meningkat di minggu kedua menjadi 70%. Lantas pada minggu ketiga, tingkat akurasinya bertambah menjadi 90%. Tapi yang perlu diingat, alat tes ini hanya mengukur ada atau tidaknya antibodi dalam tubuh manusia, bukan untuk mendiagnosa virus.

Sponsored

Artinya, jika seseorang dinyatakan reaktif saat tes cepat antibodi, bukan berarti orang tersebut sedang terinfeksi Covid-19. Sebaliknya, boleh jadi orang tersebut malah sudah sembuh dari Covid-19.

Alinea.id mengulas kelemahan rapid test sebagai deteksi Covid-19 melalui artikel ini.

Berita Lainnya