Awas kena 'tabok'

Jokowi sangat kecewa karena masih saja ada masyarakat yang percaya terhadap isu yang dihembuskan

Pangi Syarwi Chaniago

Pangi Syarwi Chaniago

Pengamat Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting.

Presiden Jokowi kembali mengeluarkan pernyataan yang menuai kontroversi. Kali ini presiden mengeluarkan pernyataan sebagai respons kekecewaannya terhadap pihak-pihak yang dianggap menyerang secara personal melalui isu PKI yang terus dituduhkan pada dirinya.

Jokowi sangat kecewa karena masih saja ada masyarakat percaya terhadap isu dihembuskan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.

Dengan emosional Jokowi mengungkapkan dirinya ingin mencari dan "menabok" pihak-pihak yang masih memainkan isu ini. Ungkapan ini jika dirunut ke belakang, jelas mempunyai korelasi dengan pernyataan emosional dan berapi-api terkait respons Jokowi menyikapi isu kebangkitan PKI. Saat itu, Jokowi mengeluarkan penyataan akan "gebuk" jika memang PKI itu ada, karena menurutnya, PKI itu jelas bertentangan dengan ideologi negara.

Namun sangat disayangkan, pernyataan yang terlalu reaktif direspons, justru memberi sentimen negatif pada Jokowi, bahkan secara tidak langsung melongsorkan citra Jokowi. Posisinya sebagai presiden sangat tidak layak/kurang tepat mengeluarkan diksi/frasa emosional semacam ini. 

Dikhawatirkan diterjemahkan secara keliru oleh perangkat negara yang berada di bawah kendali presiden untuk "menggebuk" dan "menabok" pihak-pihak yang menurut mereka sebagaimana dimaksud presiden.

Bisa saja pesan dan makna "tabok" berpotensi diterjemahkan berbeda aparat (multi-tafsir), justru akan melebar ke mana-mana bahkan dikhawatirkan keluar dari substansi seperti dimaksudkan presiden. 

Situasi ini akan bertambah parah (komplikasi) mengingat posisi Jokowi sebagai calon presiden, mempunyai pendukung loyal (strong voter), yang bisa juga salah merespons pernyataan tersebut.

Relawan pendukung dan tim sukses yang butuh stempel eksistensi sebagai pendukung setia dari Jokowi. Respons berlebihan dari pendukung Jokowi, dikhawatirkan justru menimbulkan api gesekan di tengah masyarakat dan mempertajam konflik karena capres yang mereka dukung terus dizholimi dan difitnah.

Sebagai capres petahana, semestinya Jokowi harus percaya diri dan bijak menyusun diksi/frasa dalam menghadapi pilpres 2019. Fokus pada taglinenya "kerja-kerja-kerja" tanpa harus terpancing reaksioner, bersikap emosional merespons isu dan peristiwa politik yang dituduhkan belakangan ini. 

Dengan fokus sibuk mempromosikan kinerja, capaian, prestasi yang sukses maka sang penantang secara otomatis akan kesulitan melawan petahana, dengan syarat pemilih diarahkan untuk menunjukkan prestasi dan kerja nyata Jokowi.

Namun sebaliknya, jika terpancing untuk merespons isu politik murahan, sentimen publik akan cenderung negatif. Tentu akan merugikan Jokowi secara elektoral. Dalam situasi ini petahana justru kena jebakan batman, terjebak ke dalam arus yang dimainkan pihak lain. 

Dengan kata lain petahana "menari" di atas tabuh gendang orang lain. Semestinya, petahana yang menciptakan arus sendiri bukan malah sebaliknya ikut arus sang penantang.


Kolom

Infografis