logo alinea.id logo alinea.id
Irwan Saputra

#JusticeForAudrey dan disonansi kognitif warga net

Irwan Saputra Jumat, 12 Apr 2019 17:44 WIB

Tagar #JusticeForAudrey membanjiri berbagai platform media sosial dalam hitungan jam. Sebuah isu viral mengenai aksi perundungan yang dilakukan beberapa siswi tingkat SLTA kepada siswi SLTP bernama Audrey yang cukup menarik perhatian publik dari berbagai kalangan. Tidak hanya dari masyarakat umum yang berlomba mempublikasi mengenai hal ini, tapi juga para artis, politisi, bahkan Presiden Joko Widodo juga sampai angkat bicara.

Emosi masyarakat yang tersulut dituangkan dalam berbagai macam aksi di dunia maya. Seperti menuntut pihak berwajib menghukum pelaku, membuat petisi, sampai juga ikut melakukan aksi bully terhadap para pelaku dengan menyebar luas foto remaja-remaja tesebut dan juga menghujat dengan kata-kata tak pantas.

Melihat kondisi dunia sosial yang riuh dengan masalah ini, pihak kepolisian merespons cepat. Para pelaku yang masih belum dewasa itu dengan cepat ditetapkan sebagai tersangka. Akan tetapi, dari hasil penyelidikan polisi dan hasil visum korban dari rumah sakit, fakta yang terungkap tidaklah seburuk deskripsi tindakan pelaku terhadap korban yang tersebar di media sosial.

Dengan informasi terbaru dari kepolisian dan rumah sakit yang diterima masyarakat melalui media-media utama, warga net berbeda pendapat dalam meyikapinya. Ada yang tetap membela Audrey dan menyalahkan pihak berwenang dan media, ada yang malah balik menyerang Audrey karena dinilai melebih-lebihkan informasi mengenai dirinya dan membuat kegaduhan, dan ada juga yang memilih untuk tidak memihak. Kondisi tersebut terjadi karena disonansi kognitif warga net terhadap informasi yang beredar dan sikap mereka terhadap informasi tersebut.

Disonansi kognitif

Disonansi kognitif (cognitive dissonance) adalah sebuah kondisi mental yang tidak konsisten pada seseorang mengenai sikap orang tersebut dan informasi yang beredar di masyarakat. Teori yang dicetuskan oleh seorang psikolog sosial Amerika, Leon Festinger, kerap terjadi ketika seseorang sudah memiliki sikap terhadap suatu isu, namun sikap tersebut bertentangan dengan sebagian informasi beredar di masyarakat yang memengaruhi keyakinannya.

Ketika kondisi disonansi kognitif ini terjadi, orang tersebut akan berupaya menggali informasi lainnya untuk menakar validitas antara sikap dan keyakinannya. Kemudian, ada dua pilihan yang akan dilakukan: tetap pada sikap tersebut dan menyesuaikan keyakinan agar sejalan dengan sikap, atau mengganti sikap tersebut agar sejalan dengan keyakinannya.

Dalam kasus justice for Audrey, warga net yang sudah tersulut emosi dan melampiaskannya dengan berbagai cara, adalah sebuah sikap terhadap isu tersebut. Pada saat itu, sikap dan keyakinan mereka sedang sejalan karena terbentuk dari informasi yang diserap dari yang beredar di media sosial.

Akan tetapi, ketika ada informasi lain yang berasal dari pihak kepolisian dan rumah sakit, keyakian mereka mulai terpengaruhi. Pada saat itulah terjadi disonansi kognitif di tengah warga net.

Selanjutnya, mereka mulai memperdalam pencarian informasi dengan berbagai cara seperti membaca berita dari berbagai media, membaca komentar-komentar warga net lainnya, sampai mengulik akun media sosial personal Audrey untuk memahami sosok gadis itu lebih jelas.

Dari pendalaman informasi itu, warga net yang yakin, Audrey melebih-lebihkan isu dan membuat gaduh akan mengganti sikap dengan balik menyerangnya, yang tetap percaya dengan informasi awal di media sosial akan menyesuaikan keyakiannya dan malah menegasikan informasi dari pihak berwenang dan media, dan yang menganggap kedua pihak melakukan kesalahan dan belum bisa menentukan sikap keberpihakan akan memilih netral.

Validasi informasi sebelum bersikap

Kasus ini tampaknya dapat menjadi sebuah pelajaran berharga bagi warga net di Indonesia mengenai validasi informasi sebelum bersikap. Di era “tsunami informasi” saat ini, perputaran arus informasi yang terlalu cepat kerap membuat masyarakat bingung akan kebenaran informasi yang ada.

Jika tidak membiasakan untuk memvalidasi informasi yang tersebar di sosial media, maka emosi kita akan mudah tersulut, sehingga akan cenderung bersikap berdasarkan emosi, bukan fakta.