sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id
Andry Waseso

Kelola stress secara efektif dan jalani hidup lebih baik

Andry Waseso Senin, 13 Agst 2018 16:32 WIB
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1790
Dirawat 1508
Meninggal 170
Sembuh 112

Pada edisi sebelumnya, saya sudah membahas mengenai apa itu stress dan sumber serta dampaknya. Di bagian kedua ini, saya akan menelaah apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi stress. Bahasan dimulai dengan memahami jenis-jenis stress di bawah ini.

Dua Golongan Stress

Sebenarnya tidak semua stress merugikan. Ada dua jenis stress yang dirasakan manusia: eustress dan distress. Yang pertama adalah stress yang cenderung membawa pada dampak positif seperti kreativitas, kinerja, keceriaan dan kebahagiaan.

Perubahan yang menyenangkan di lingkungan akan membuat Anda tergugah secara positif. Misalnya, menerima kenaikan jabatan, hadirnya rekan kerja baru yang mudah diajak kerjasama, atau pesta ulangtahun kejutan dari teman-teman. Semua hal tersebut, pada banyak orang, bisa memicu eustress, Anda menjadi bergairah dan bahagia karenanya. 

Selain itu, seringkali kita mendengar orang-orang yang mendapatkan tekanan sampai batas tertentu malah memunculkan kreativitas dan kinerja tinggi. Umumnya tekanan tersebut dipandang sebagai tantangan yang memicu adrenalin (hormon yang membuat Anda merasa tergugah). Dalam bentuk yang lebih intensif, orang juga kadang mencari tantangan dari kegiatan yang menempuh bahaya namun bisa dikendalikan, contohnya olahraga ekstrim seperti bungee jumping, paragliding, dan sebagainya. 

Bentuk stress yang kedua adalah distress. Saat membicarakan stress, biasanya merujuk pada jenis yang kedua ini. Perbedaan utama di antara eustress dan distress adalah pada intensitas yang ditimbulkan oleh stressor. Stressor dapat meningkatkan kinerja dan emosi positif sampai pada batas tingkat tekanan tertentu yang ditimbulkannya. Di atas batas tersebut, maka distress akan mulai terjadi. Dampak-dampak buruk juga bermunculan bila distress berdurasi panjang tanpa pernah kembali ke tingkat eustress dan relaksasi yang cukup. 

Mengelola Stress

Pengelolaan stress biasanya ditujukan untuk dua sasaran, mengembalikan tingkat distress yang dialami ke kondisi relaksasi dan membangkitkan eustress yang membuat Anda merasa lebih bergairah menjalani “hidup”. Kondisi relaksasi yang terus menerus juga dipandang sebagai hal yang kurang menyenangkan bagi kebanyakan manusia serta membawa pada kebosanan.

Untuk segera mencapai kondisi relaksasi setelah distress yang dialami, Anda perlu rutin melatih diri meningkatkan daya tahan terhadap stress dan mencegah sebuah tekanan kehidupan menjelma menjadi distress. Anda juga bisa mencegah distress terjadi dengan mengurangi sebanyak mungkin stressor yang pada kondisi sekarang masih membuat sulit Anda atasi. Berikut ini beberapa tips mudah dari para ahli manajemen stress, untuk membantu merespons stressor yang sering muncul.

Pertama, ketahuilah banyak stressor muncul karena membiarkan diri terjebak begitu banyak daftar aktivitas. Biasakan bilang “tidak” pada permintaan-permintaan baru yang muncul setelah jadwal Anda hampir penuh. Ini perlu dipelajari. Anda bisa melatihnya di depan cermin bila suka. Yang penting, jangan selalu mengiyakan semua permintaan. 

Kedua, pelajari pola stress Anda. Buatlah semacam jurnal harian yang mendokumentasikan hal apa saja yang membuat merasakan tekanan yang cukup signifikan. Setiap minggu, pelajari lagi jurnal tersebut untuk memahami apa saja yang membuat Anda stress dan bagaimana meresponsnya. Ubah strategi yang kurang efektif (yang membuat malah lebih tertekan) dan pertahankan yang Anda rasa tepat sasaran (membuat lebih tenang dan menemukan solusi atas persoalan yang muncul). 

Ketiga, cukup minum air. Hidrasi yang cukup dapat membuat tubuh merespons stress secara lebih efektif. Para ahli menemukan bahwa stress membuat tubuh memproduksi hormon bernama kortisol. Sebenarnya, hormon ini berguna untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan menghadapi masalah atau ancaman dari luar.

Namun, dalam jumlah yang terlalu banyak, ia menyebabkan tekanan yang berat bagi tubuh dan pikiran. Secara fisiologis, inilah yang terjadi pada orang yang mengalami distress. Kekurangan cairan dapat meningkatkan risiko yang disebabkan oleh aliran deras kortisol ke sel-sel Anda. 

Keempat, asupan nutrisi yang mengandung serat tinggi dan rendah lemak jenuh serta mengandung vitamin B kompleks. Ini dapat membantu tubuh berfungsi lebih baik dalam mengkonversi energi, melawan inflamasi/peradangan sel, dan membuat sel-sel syaraf bekerja lebih baik untuk menginduksi proses berpikir serta relaksasi. 

Kelima, lakukan relaksasi dengan metode yang paling sesuai. Relaksasi ini harus dilakukan sesering mungkin. Jangan menunggu tingkat stress tinggi baru melakukannya. Ada berbagai metode dari mulai yang paling sederhana seperti mendengarkan musik, melakukan hobi sampai teknik-teknik meditasi yang nyaman. Relaksasi juga dapat diperoleh dari kegiatan fisik yang berintensitas ringan dan sedang. Mungkin kegiatan semacam ini membuat tubuh lelah, tetapi mendorong pikiran pada keadaan rileks dan segar. 

Keenam, talk to proper people. Ketika merasa tekanan kehidupan mulai mengganggu, temukan teman bicara yang bisa dipercaya. Anda mungkin lebih percaya pada mereka yang hanya akan mendengarkan keluh kesah dan menanggapi tanpa menyalahkan diri sendiri.

Orang lain bisa punya preferensi yang berbeda, misalnya justru membutuhkan orang yang bisa menunjukkan kesalahannya dan saran untuk memperbaiki. Intinya, temukan yang sesuai untuk Anda. Tentukan tujuan, apakah mencari tempat untuk mengungkapkan kerisauan atau mencari bantuan pemecahan masalah. Bila merasa tidak membantu, waktunya menghubungi profesional di bidang kesehatan mental (psikolog dan psikiater). Jangan malu melakukannya, karena ini demi kesejahteraan Anda sendiri!

Selain keenam cara di atas yang berguna untuk menghadapi eustress, berikut ini beberapa cara untuk mendapatkan eustress yang bermanfaat bagi kehidupan. 

Anda bisa melatih diri untuk selalu mendapatkan sudut pandang yang konstruktif dari setiap persoalan. Konstruktif artinya berorientasi pada solusi nyata guna mengubah keadaan menjadi lebih baik. Keluwesan untuk menemukan perspektif seperti ini dari setiap tekanan kehidupan perlu dipelajari dan dilatih bukan hanya saat persoalan berat menerpa. Dalam keadaan tidak ada persoalan khusus pun, dapat melihat sesuatu secara konstruktif untuk mengembangkan apa yang sudah ada. Ini menimbulkan eustress yang dapat dinikmati untuk memperkaya hidup. 

Eustress juga bisa diperoleh dengan melibatkan diri dalam kompetisi yang sehat. Pertama-tama Anda ingin bersaing dengan orang lain, secara adil. Di kala lainnya, adalah lebih baik untuk juga bersaing dengan capaian-capaian sendiri. Namun, Anda harus mencanangkan target yang realistis tapi juga bukan yang biasa-biasa saja. Ini berlaku bukan hanya di dunia kerja, tapi juga kehidupan sosial lainnya. Sebagai contoh, Anda mungkin ingin menjadi lebih baik dari beberapa tahun lalu dalam memperlakukan orang-orang terkasih. 

Selain dari tantangan-tantangan kehidupan di areal tugas dan kewajiban (misalnya pekerjaan atau kuliah), Anda juga bisa melibatkan diri di kegiatan menantang  di luar areal tersebut. Anda bisa membuat tantangan pada diri sendiri dalam kegiatan olahraga. Canangkan target jarak lari pagi secara bertahap. Nikmati kepuasan ketika mencapai target-target tersebut dan menambahnya dari waktu ke waktu. 

Dengan mengelola stress secara efektif, Anda akan menjalani hidup yang lebih menantang sekaligus terhindar dari gangguan kesehatan mental. Jangan remehkan urusan ini. Kegagalan mengelola stress dapat berakibat fatal pada kesehatan fisik dan psikologis! 

Berita Lainnya