Menunggu jawaban dari kecelakaan Lion Air

Kecelakaan pesawat Lion Air yang jatuh di perairan Karawang Jawa Barat itu, sempat menimbulkan banyak spekulasi dari masyarakat

Menunggu jawaban dari kecelakaan Lion Air

Mungkin tidak ada satupun dari kita yang menduga pada Senin (29/10) terjadi peristiwa kecelakaan pesawat Lion Air JT 610. Padahal sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah terus mendorong pelaku industri untuk meningkatkan aspek keselamatan transportasi. Baik itu pada transportasi darat, laut maupun udara.

Kecelakaan pesawat Lion Air yang jatuh di perairan Karawang Jawa Barat itu, sempat menimbulkan banyak spekulasi dari masyarakat. Khususnya penyebab pilot Bhavye Suneja sempat meminta kembali ke bandara Soekarno-Hatta atau return to base (RTB) kepada menara ATC.

Selain itu, ada informasi kalau pesawat tersebut sebenarnya sempat rusak ketika melayani rute penerbangan dari Bali ke Jakarta. Kalau informasi itu benar. Tentunya menjadi pertanyaan bagi semua orang mengenai kondisi pesawat yang menurut pengakuan Lion Air,  kondisi pesawat Boeing 737 MAX 8 itu, baru berusia sekitar dua bulan.

Pertanyaan lainnya yang harus dijawab adalah, siapa yang memberikan kewenangan agar pesawat tersebut bisa kembali melakukan penerbangan reguler. Maskapai penerbangan tentunya tidak akan berani menerbangkan pesawat jika dinyatakan tidak laik terbang. Banyak hal yang akan dipertaruhkan jika itu berani dilakukan maskapai penerbangan. Salah satunya adalah nama baik dari maskapai penerbangan itu sendiri.

Bukannya berprasangka buruk. Tetapi faktanya, izin itu akan diberikan setelah ditandatangani oleh pihak berwenang di bandara. Dari sisi ini, seharusnya kita juga boleh mempertanyakan seketat apa pengawasan yang dilakukan regulator.

Baru ataupun lamanya pesawat memang bisa memengaruhi terjadinya kecelakaan pada sebuah transortasi. Tetapi bukan berarti pesawat baru tidak akan mengalami kerusakan. Buktinya kita banyak mendengar informasi adanya mobil atau motor baru yang mengalami kerusakan dan mogok di jalan. Intinya itu semua tergantung dari perawatan pemilik.

Tentunya semua di atas masih bersifat menduga-duga. Sebab data pasti penyebab jatuhnya Lion Air JT 610 harus menunggu hasil analisis resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Tetapi tentunya perlu waktu yang tidak sedikit bagi KNKT untuk menganalisa kotak hitam dari pesawat Boeing 737 Max 8 yang telah pecah karena menabrak laut. 

Selain itu, peran Boeing juga diperlukan untuk membantu KNKT mencari tahu penyebab jatuhnya pesawat tersebut. Ini penting karena Boeing merupakan produsen dari pesawat yang dipergunakan Lion Air. Boeing sendiri telah berkomitmen untuk membantu memberikan data yang diperlukan untuk menyimpulkan penyebab dari kecelakaan yang menyebabkan 189 orang tewas, termasuk awak kabin.

Selain itu, kita semua tentunya sepakat kalau keselamatan transportasi bisa terwujudkan jika semua pihak mengikuti prosedur keselamatan yang telah ditentukan. Selama semua daftar prosedur keselamatan yang telah ditentukan bisa dipenuhi. Persentase terjadinya kecelakaan transportasi bisa diturunkan.

Di Indonesia sendiri, ada indikasi prosedur keselamatan yang telah diatur pemangku kebijakan kerap dilanggar. Misalkan saja jam kerja pilot yang seharusnya 9 jam, ternyata banyak ditemui pilot yang bekerja hingga 11 jam. Begitu juga dengan perlakuan pesawat yang rusak. 

Apakah hal itu akan mempengaruhi kinerja Lion Air? Sepertinya tidak. Mengingat pada saat ini Lion Air merupakan satu-satunya maskapai penerbangan di Indonesia yang melayani sejumlah daerah pelosok di tanah air.

Selain itu, Lion Air juga merupakan maskapai penerbangan yang mempunyai jadwal penerbangan lengkap. Disetiap jam ada saja pesawat Lion Air yang terbang ke berbagai tujuan di Indonesia. 

Apalagi harga tiket yang ditawarkan Lion Air relatif lebih kompetitif dibandingkan kompetitor. Tidak heran jika masyarakat masih menjadikan Lion Air sebagai maskapai penerbangan pilihan, sesuai dengan slogannya "We Make People Fly"


Berita Terkait