logo alinea.id logo alinea.id

Jurnalisme sampah Tabloid Indonesia Barokah

Tabloid Indonesia Barokah merupakan produk jurnalisme sampah yang mendaur ulang produk-produk jurnalistik dari media mapan.

Annisa Saumi Senin, 28 Jan 2019 21:34 WIB
Jurnalisme sampah Tabloid Indonesia Barokah

Beberapa hari terakhir, beredar Tabloid Indonesia Barokah yang membuat suasana politik agak gaduh. Tabloid itu jadi perbincangan lantaran kontennya menyudutkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno.

Tabloid itu ditemukan di beberapa daerah di Banten (8.000 eksemplar), Jawa Tengah (1.100 eksemplar), Jawa Barat (13.110 eksemplar), Padang (116 eksemplar), dan Pulau Panggang Kepulauan Seribu (10 eksemplar). Tabloid-tabloid itu dikirim ke masjid-masjid, dibungkus memakai amplop cokelat.

Pada 25 Januari 2019, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi merespons kemunculan tabloid ini dengan melaporkan ke Dewan Pers. Sehari setelahnya, BPN melaporkan kasus Tabloid Indonesia Barokah ke Bareskrim Polri.

Pembicaraan mengenai tabloid yang framing kontennya menyudutkan kubu Prabowo-Sandi terus bergulir bak bola liar politik.

Menyebarnya Tabloid Indonesia Barokah ikut menyeret nama Wakil Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional (TKN) Irfan Wahid. Namun sayang, Irfan belum bisa dimintai konfirmasi saat dihubungi reporter Alinea.id.

Ipang, begitu sapaan akrabnya, sudah mengonfirmasi perihal Indonesia Barokah melalui akun Twitternya. Dia menyebut, Indonesia Barokah merupakan gerakan yang bersifat terbuka, siapapun boleh dan bisa berkontribusi untuk mendatangkan kebaikan bagi Indonesia. Indonesia Barokah, kata dia, lebih seperti kumpulan pemikiran dari banyak orang.

Ipang lantas menyebut, karena sifatnya yang terbuka, gerakan dan isinya yang beragam, membuat gerakan tersebut menjadi multitafsir.

“Tergantung kepentingannya. Tapi secara substansi, sekali lagi seperti namanya, ‘Indonesia Barokah’, gerakan ini bertujuan untuk mendatangkan kebaikan bagi Indonesia,” tulis Ipang di akun Twitternya, Senin (28/1).

Ipang lalu membantah tuduhan yang mengaitkannya dengan Tabloid Indonesia Barokah. “Saya tegaskan, saya bukan pembuat Tabloid Indonesia Barokah. Saya juga tidak terlibat dalam bentuk apapun atas tabloid tersebut,” tulis Ipang.

Bukan pelanggaran pemilu

Petugas Bawaslu Kota Depok menunjukan tabloid 'Indonesia Barokah' yang disita dari sebuah masjid, di kantor Panwaslu Cilodong, Depok, Jawa Barat, Jumat (25/1). (Antara Foto).

Meski menghentikan sementara penyebaran Tabloid Indonesia Barokah karena meresahkan, namun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menyatakan, tabloid ini tak masuk dalam ranah pelanggaran dan pidana pemilu.

Sebab, tak ditemukan penanggung jawab atau pihak yang menerbitkan tabloid itu. Kontennya pun bukan kampanye hitam.

Menurut Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini, langkah Bawaslu sudah tepat. Alasannya, pelaku peredaran tabloid itu anonim, dan Bawaslu tak bisa menerapkan Pasal 280 ayat 1 huruf c dan d Undang-Undang Nomor 17 Thaun 2017 tentang Pemilihan Umum.

“Saya kira pihak penegak hukum yang harus mengambil langkah, karena Bawaslu memang kesulitan dalam menetapkan pelanggaran pemilu,” ujar Titi saat dihubungi reporter Alinea.id, Senin (28/1).

Titi mengatakan, dari sisi konten, Tabloid Indonesia Barokah memang tak ada ajakan untuk memilih salah satu calon presiden. Hanya saja, kata dia, berita yang diterbitkan memang tidak berimbang.

Indonesia Barokah lebih tepat jika disebut sebagai kampanye negatif yang dilakukan secara tak bertanggung jawab,” kata Titi.

Titi sendiri tak mempermasalahkan kampanye negatif, karena menurutnya, kampanye negatif adalah salah satu bentuk pendidikan politik.

“Undang-undang Pemilu memang tidak secara spesifik menyebutkan indikator kampanye negatif. Tapi, kalau saya melihat kampanye negatif itu menyoroti rekam jejak negatif seorang calon. Memperkenalkan rekam jejak calon, baik positif maupun negatif, menurut saya tak masalah,” ujar Titi.

Cinta bersemi dari aplikasi

Cinta bersemi dari aplikasi

Jumat, 15 Feb 2019 12:59 WIB