sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Penyambung aspirasi yang independen, LPM Suara Kampus dari UIN Imam Bonjol Padang

Secara resmi, pers kampus ini berdiri pada 29 November 1978. Dahulu, LPM Suara Kampus bernama Shaut Al Jamiah pada 1968.

Arpan Rachman
Arpan Rachman Jumat, 20 Agst 2021 13:19 WIB
Penyambung aspirasi yang independen, LPM Suara Kampus dari UIN Imam Bonjol Padang

Kalau dalam strukturnya, organisasi ini terbilang sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa, hanya penamaannya saja yang berbeda. Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara Kampus eksis di Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol, Padang.

Secara resmi, pers kampus ini berdiri pada 29 November 1978. Dahulu, LPM Suara Kampus bernama Shaut Al Jamiah pada 1968. Namun, karena kekurangan anggota serta dana, sempat terhenti selama 10 tahun.

LPM Suara Kampus tetap rutin menerbitkan karya jurnalistik melalui tabloid sejak 1978 hingga kini. Bahkan telah merambah portal pemberitaan daring dan kanal Suara Kampus TV di You Tube. Sambil membawa visi mengemban Tridarma perguruan tinggi dan berpartisipasi dalam pembangunan daerah, LPM Suara Kampus hadir selalu setia menemani para pembaca mereka.

Di awal-awal terbitnya, LPM Suara Kampus memuat karya-karya ilmiah di dalamnya. Di tahun-tahun 2000 ke atas penerbitan sudah berbentuk tabloid.

"Saya sendiri sudah masuk tahun ketiga aktif di LPM Suara Kampus. Sekarang kuliah semester enam pada jurusan Pengembangan Masyarakat Islam di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol Padang," kata Fachri Hamzah, wakil pemimpin redaksi bidang pemberitaan online LPM Suara Kampus, melalui wawancara virtual kepada Alinea.id, Rabu (18/8).

Ditambahkannya bahwa LPM Suara Kampus berkontribusi sebagai penyambung lidah mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya otomatis dengan karya jurnalistik. Dan kontribusi ke kampus juga seperti itu, selain sebagai kontrol kampus, sebagaimana visi dan misi LPM Suara Kampus.

"Kalau yang aktif sebagai pengurus sekitar 20 orang mahasiswa dari redaksi, reporter, lay-outer, dan administrasi. Kami juga ada anggota magang, itu biasanya mahasiswa baru. Sekarang yang magang adalah mahasiswa angkatan 2019 dan 2020," sambung Fachri.

Dikatakan bahwa dalam setiap tahun perkuliahan biasanya LPM Suara Kampus melakukan rekrutmen setelah penerimaan mahasiswa baru dan setelah Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek). Dari situ dibuka rekrutmen, nanti ada sesi wawancara. Setelah lulus, mereka akan diberikan materi ruangan sekitar tiga hari, itu namanya Diklatsar, dan terakhir ditindaklanjuti -- biasa kegiatannya selama empat hari -- tiga hari di ruangan dan sehari di lapangan.

Sponsored

"Mereka disuruh untuk mencari berita berkelompok di lapangan. Misalnya mewawancarai masyarakat sekitar, tergantung pada apa isu mereka. Kemudian mereka tulis materinya di kertas HVS atau folio dan lainnya. Lantas dievaluasi lagi oleh mentor kelompok masing-masing. Setelah proses itu selesai, mereka diangkat menjadi anggota magang LPM Suara Kampus," tuturnya.

Menurut Fachri, rerata penerimaan anggota baru sekitar 50 orang. Itu paling rendah. Sementara yang mendaftar bisa sampai 100 hingga 120 mahasiswa.

LPM Suara Kampus diakuinya relatif independen. "Kalau masalah penerbitan, paling cuma teguran, kalau untuk intervensi (dari pejabat kampus) tidak ada. Paling-paling bila dinilai sebuah berita terlalu mengkritisi kampus, nanti ditanya mengapa isinya seperti demikian. Kalau untuk tekanan sama sekali tidak ada. Kami bebas dari hal itu. Independensi LPM Suara Kampus sangat dihargai," ujar Fachri.

Acap kali beredar cerita di perguruan tinggi lain, pers kampus misalnya kalau ingin mencetak harus memperlihatkan dulu konten beritanya kepada rektor untuk disensor, pada LPM Suara Kampus hal itu tidak terjadi.

"Kami kalau ingin mencetak cukup melapor ke rektorat, setelah itu kami langsung bisa mencetak tanpa memperlihatkan karya kami dulu," katanya.

Berita Lainnya