sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

9 bulan beroperasi, MRT proyeksikan raup laba Rp70 miliar

Perolehan laba tersebut ditopang oleh pendapatan yang diproyeksikan mencapai Rp1 triliun

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Rabu, 27 Nov 2019 14:38 WIB
9 bulan beroperasi, MRT proyeksikan raup laba Rp70 miliar

PT MRT Jakarta memproyeksikan perolehan laba tahun ini senilai Rp60 miliar hingga Rp70 miliar. Presiden Direktur MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, proyeksi laba itu merupakan perolehan selama sembilan bulan beroperasi.

"Kami beroperasi sejak April 2019. Ditargetkan laba hingga Desember 2019 nanti mencapai Rp60 miliar hingga Rp70 miliar," kata William dalam konferensi pers di Wisma Nusantara, Jakarta, Rabu (27/11).

William menjelaskan, perolehan laba tersebut ditopang oleh pendapatan yang diproyeksikan mencapai Rp1 triliun. Angka itu didapat dari pendapatan tiket Rp180 miliar, serta pendapatan kewajiban pelayanan publik atau public service obligation atau PSO senilai Rp560 miliar.

Sisanya berasal dari pendapatan non-farebox Rp225 miliar, serta pendapatan lain-lain senilai Rp40 miliar. 

Sementara, pengeluaran operasional MRT dan lain-lain mencapai Rp940 miliar.

"Jadi total pendapatan selama sembilan bulan mencapai Rp1 triliun, sedangkan pengeluaran kami sepanjang sembilan bulan mencapai Rp940 miliar. Jadi kurang lebih laba kami sampai akhir tahun ini senilai Rp60 miliar hingga Rp70 miliar," ucap dia.

William mengatakan, pendapatan non-farebox, terdiri dari iklan, telekomunikasi, retail, dan naming rights (hak penamaan). Pendapatan periklanan menjadi penopang pendapatan tertinggi, yakni sebesar 55% atau Rp123,75 miliar.

Iklan tersebut terpasang baik di dalam stasiun, luar maupun dalam kereta, hingga dinding pembatas area peron dengan jalur rel atau platform screen doors (PSD).

Sponsored

Penopang pendapatan non-farebox selanjutnya yakni dari naming rights atau hak penamaan dengan sejumlah perusahaan. Kontribusinya sebesar 33% atau senilai Rp74,3 miliar. 

Saat ini ada lima stasiun yang menggunakan naming rights. Kelima stasiun tersebut yakni Stasiun MRT Lebak Bulus Grab, Setiabudi MRT Astra, Stasiun Istora Mandiri, Stasiun Dukuh Atas BNI, dan Stasiun Blok M BCA.

Adapun untuk naming rights stasiun Bundaran Hotel Indonesia, pihak MRT sementara ini belum menjualnya. Nantinya, pihak MRT Jakarta akan menawarkan harga yang paling tinggi.

"MRT fase 1 (Lebak Bulus - Bundaran HI) ada 13 stasiun. Saat ini yang sudah diberi naming rights ada 5. Sisa 7, kami targetkan 5 lagi. Namun untuk stasiun Bundaran HI harganya mahal," kata dia.

Menurut William, tidak semua stasiun akan menjual naming rights. Stasiun ASEAN tidak akan berubah nama, karena lokasi yang berada di dekat Sekretariat ASEAN dan berdampak pada MRT Jakarta yang mendunia.

Pendapatan non-farebox selanjutnya berasal dari sektor telekomunikasi. Namun kontribusinya hanya 2% atau sekitar Rp4,51 miliar. Saat ini hampir seluruh penyedia layanan telekomunikasi atau provider bisa diakses di MRT, khususnya di bawah tanah.

"Kami sudah bekerja sama dengan Telkomsel (PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. atau TLKM), Indosat (PT Indosat Tbk. atau ISAT), XL (PT XL Axiata Tbk. atau EXCL), Smartfren dan 3," katanya.

Selain itu, pendapatan MRT Jakarta juga diperoleh dari bisnis retail, yang dibagi dalam dua kelompok. Pertama, kelompok branded dan kedua kelompok UMKM.

Dari 13 stasiun, ada empat sampai lima Stasiun yang diisi oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan produk kreatif.

Berita Lainnya