logo alinea.id logo alinea.id

Aksi 22 Mei, manuver politik menggugat pilpres

Kerusuhan terjadi di beberapa titik di Jakarta. Menimbulkan korban jiwa.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Kamis, 23 Mei 2019 19:40 WIB
Aksi 22 Mei, manuver politik menggugat pilpres

Rabu (22/5) siang, tak jauh dari Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat massa aksi 22 Mei sudah berkerumun. Aksi damai berlangsung normal, tak ada gejala akan bergejolak. Di salah satu sudut, sekelompok ibu-ibu berkerumun di tepian jalan. Mereka baru saja bergantian menunaikan salat zuhur.

Nursa, salah seorang dari ibu-ibu yang ikut aksi 22 Mei mengaku diantar suaminya ke lokasi. Ia tiba pukul 10.00 WIB. Nursa mengaku datang menjadi peserta aksi bukan untuk demonstrasi, tetapi menuntut keadilan.

Baginya, dugaan pemilu curang hanya sekelumit persoalan saja. Sebagian besarnya menyangkut kemanusian. Meski begitu, Nursa mengaku baru sekali ikut aksi massa.

“Seumur hidup baru kali ini. Saya belum pernah ikut demo,” ujar Nursa ketika ditemui di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (22/5).

Sebelumnya, Nursa hanya melihat demonstrasi dari situs Youtube atau membacanya di portal berita. Perempuan paruh baya asal Depok, Jawa Barat ini mengatakan, ia membaca di berita, banyak anak muda yang jadi korban saat demonstrasi.

“Ada yang ditembak lehernya. Ada pula yang ditembak pahanya. Saya ingin datang dan lihat. Kalau ada yang kesusahan, saya ingin bantu,” katanya.

Sebelumnya, pada Selasa (21/5) malam memang terjadi gesekan antara aparat dan massa. Aksi yang sebelumnya berlangsung kondusif, pada pukul 23.00 WIB muncul massa yang tak jelas asalnya melakukan tindakan provokatif. Kemudian, pada Rabu (22/5) dini hari, terjadi pula kerusuhan di Petamburan.

Nursa mengaku datang dengan kemauan sendiri, tak ada komando dari manapun. Nursa pun berkilah, demonstrasi karena terkait mendukung salah satu pasangan calon tertentu di Pilpres 2019.

Aksi massa di depan Gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5). Alinea.id

“Kita tidak ada sangkut pautnya dengan Prabowo maupun Jokowi. Kita hanya ingin tahu, apabila ada apa-apa ingin bantu,” tuturnya.

Senada dengan Nursa, seorang pengunjuk rasa lainnya, Bejo—bukan nama sebenarnya—tak menganggap aksi 22 Mei sebagai demonstrasi. Pria asal Bekasi, Jawa Barat ini mengatakan, dirinya ikut aksi 22 Mei demi warisan kemerdekaan Indonesia.

Bejo ingin merefleksikan perjuangan pendahulunya yang bisa memerdekakan negeri ini.

“Mengapa kita bisa salat, puasa, dan merayakan Idulfitri dengan bebas dan tenang? Itu semua karena warisan para syuhada yang syahid di medan perang untuk meraih kemerdekaan. Sehingga, kita patut menjaga warisan tersebut,” ujarnya, ditemui di lokasi yang sama.

Semakin sore, massa aksi semakin banyak berkumpul di depan Gedung Bawaslu. Sebelum massa aksi bermanuver berjalan menuju Istana Merdeka, mereka meneriakan pemilu curang.

Massa membakar ban saat kerusuhan terjadi di Jalan Jati Baru Raya, Tanah Abang, Jakarta, Rabu (22/5). /Antara Foto.

“Kami akan terus aksi sampai elite-elite negeri ini mendengar aspirasi kami. Allahuakbar!” ujar salah seorang orator.

Selain di depan Gedung Bawaslu, konsentrasi massa terlihat di Petamburan, Tanah Abang, dan Slipi. Di sana, kerusuhan terjadi pada Selasa (21/5) malam hingga Rabu (22/5). Bahkan, hingga Kamis (23/5) pagi kerusuhan masih berlangsung di Jalan Thamrin dan Jalan Sabang.