sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

AMSI: Media online terdampak disrupsi digital dan pandemi

Diharapkan, riset menjadi data awal untuk membangun eksosistem digital yang mendukung pengembangan media online di Indonesia.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Jumat, 30 Jul 2021 11:57 WIB
AMSI: Media online terdampak disrupsi digital dan pandemi

Disrupsi digital dan pandemi Covid-19 berdampak pada model bisnis media online di tingkat nasional maupun lokal. Menyikapi kondisi tersebut, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) merilis riset ‘Lanskap Media Digital di Indonesia: Menyambut Tantangan dan Peluang Digital untuk Media Online Lokal’ secara virtual pada Kamis, (29/7).

Diharapkan, riset menjadi data awal untuk membangun eksosistem digital yang mendukung pengembangan media online di Indonesia. Sebab, transisi pengelolaan media konvensional menuju digital tidak dapat terelakkan lagi.

"Riset ini adalah riset komprehensif pertama yang memotret kondisi media digital Indonesia dan penting untuk merumuskan program-program peningkatan kapasitas pengelola media digital," ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika dalam keterangan tertulis, Jumat (30/7).

AMSI memperoleh dukungan dari Internews dan program USAID MEDIA dalam menyelenggarakan riset yang melibatkan 100 media online ini (82% media online lokal, 18% media online di Jakarta).

Senior Rule of Law Government Relations Advisor USAID, Dondy Setya mengatakan, media berperan penting dalam memperbaiki kualitas demokrasi dan akuntabilitas di Indonesia. 

Namun, kondisi media saat ini cukup berat, karena dominasi media sosial dalam pendapatan iklan (revenue). Di sisi lain, influencer individu di platform media sosial marak menyebarkan mis-disinformasi yang diperparah dengan rendahnya literasi publik. Imbasnya, mengancam kepercayaan masyarakat terhadap media.

"Peluncuran riset ini diharapkan dapat memberi wawasan terbaru untuk menjawab pertanyaan eksistensial peran kritikal media beberapa tahun ke depan, khususnya media di daerah," ucapnya.

Berdasar temuan riset tersebut, 82% pengelola di Jakarta merasa industri media masih memiliki harapan ke depan. Sementara itu, 79,7% pengelola di luar Jakarta merasa industri media masih memiliki harapan. 

Sponsored

Lalu, sebesar 19% pengelola merasa industri media masih memiliki masa depan yang cerah.

Terkait inovasi untuk mengembangkan media online, pengelola di Jakarta mengaku memanfaatkan interaktivitas media sosial (24,1%), teknologi baru untuk menyebarluaskan berita (22,2%), serta membangun sistem berlangganan melalui dompet digital, seperti GoPay, Ovo, dan DANA (20,4%).

Selain itu, pengelola di luar Jakarta percaya bisa mengembangkan media online dengan memanfaatkan interaktivitas media sosial (28,3%), teknologi baru untuk menyebarluaskan berita (23%).

 
Untuk jumlah karyawan melek teknologi, 25% responden pengelola di Jakarta menyebut, hanya 50% dari total karyawan. Lalu, 25% responden lainnya mengaku sudah 100% karyawannya melek teknologi. 

Sisanya, 16,7% responden pengelolah menyatakan, baru 40% saja dari total karyawan dalam redaksi yang melek teknologi.

Sedangkan kondisi media di luar Jakarta, 20,8% pengelola mengaku 50% karyawannya melek dengan teknologi. Kemudian, hanya 15,1% pengelola yang mengaku 80% karyawannya melek teknologi. 

Di sisi lain, 42,1% pengelola media online di Jakarta mengaku pemodal mereka adalah pengusaha nasional. Lalu, 26,3% mengaku pemodal mereka adalah mandiri dan 21,1% menyatakan dari pengusaha lokal. 

Sisanya, 10,5% yang mengaku pemodalnya adalah lembaga donor. Kondisi sebaliknya pada media online di luar Jakarta yang masih didominasi modal mandiri (66,2%). Lalu, 21,5% mengaku pemodalnya adalah pengusaha lokal, dan 10,8% adalah pengusaha nasional. 

Sebanyak 62,5% pengelola media online di Jakarta mengaku sebagai bagian dari grup media tertentu. Kemudian, 37,5% responden menyatakan bukan bagian dari grup media tertentu.

Sementara itu, 80% pengelola media online di luar Jakarta mengaku bukan bagian dari grup media tertentu. Hanya 18% yang mengaku bagian dari grup media tertentu.

Berita Lainnya