sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Asa bebas corona di Kampung Tangguh Jaya 

Sebanyak 126 kampung anti-Covid-19 bakal didirikan di Jakarta, Tangerang, Depok, dan Bekasi.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Rabu, 27 Jan 2021 17:00 WIB
Asa bebas corona di Kampung Tangguh Jaya 
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Portal besi gerbang yang menjadi akses utama kawasan RW 03, Kelurahan Meruya Utara, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, dibiarkan terbuka, Selasa (26/1) siang itu. Sejumlah warga yang mengenakan masker berjualan di depan pintu gerbang.

Sebuah spanduk terbentang menutupi salah satu jendela pos keamanan yang berdiri di samping gerbang itu. Tertulis pada spanduk itu dalam kombinasi warna merah dan kuning: Posko Keamanan Kampung Tangguh Jaya Penanggulangan Covid-19. Tepat di bawah spanduk, sebuah galon kecil berisi air untuk cuci tangan diletakkan di atas kursi.

"Ini (posko) baru dua minggu berjalan. Tapi, sebenarnya apa (Kampung Tangguh Jaya) yang digagas (Polda Metro Jaya) sudah kami lakukan," kata Ketua RW 03, Meruya Utara, Muslim Frangky saat berbincang dengan Alinea.id.

Menurut Muslim, wilayah RW 03 termasuk salah satu zona merah penyebaran Covid-19 di kelurahan tersebut. Sejak pandemi merebak pada Maret lalu, tercatat sudah sekitar 40 warga RW 03 yang terpapar virus Sars-Cov-2. 

"Sejauh ini hanya tinggal empat orang yang masih isolasi mandiri. Kalau bicara orang yang meninggal, memang ada tiga orang. Tapi, itu karena ada penyakit bawaan. Belum ada kasus meninggal terjadi pada usia muda," ujar Muslim.

Saat wilayahnya dicanangkan masuk dalam program Kampung Tangguh Jaya, Muslim sempat bingung. Pasalnya, kegiatan-kegiatan pencegahan Covid-19 yang disosialisasikan aparat polsek setempat sudah ia kerjakan bersama rekan-rekan pengurus RW dan warga. 

Hanya saja, Muslim mengakui, ada kegiatan-kegiatan pencegahan yang tidak bisa ia lakukan secara berkala, semisal penyemprotan disinfektan. "Kami terkendala dana. Kan kita enggak dapat bantuan. Selama ini, kami swadaya," jelasnya.

Meruya Utara merupakan salah satu zona merah yang disasar dalam program Kampung Tangguh Jaya yang digagas Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran. Rencananya bakal ada 126 kampung serupa didirikan di Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek). 

Sponsored

Program ini merupakan replikasi program Kampung Tangguh Semeru yang  digagas Fadil ketika menjadi Kapolda Jawa Timur pada 2020 lalu. Sebagaimana di Jawa Timur, Kampung Tangguh Jaya dikembangkan sebagai respons berbasis komunitas menghadapi Covid-19. 

Suasana Kampung Tangguh Jaya di RW 03, Kelurahan Meruya Utara, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (26/1) siang. Alinea.id/Marselinus Gual

Meskipun bukan hal baru, Ketua RT 04/RW 03 Meruya Utara, Huzaini berharap pencanangan program Kampung Tangguh Jaya dapat turut membantu meningkatkan kepatuhan warga. "Pakai masker sudah, cuma masih ada yang berkerumun. Nah, ini yang terus kami galakkan ke depan," kata dia. 

Selama pandemi, Huzaini berjibaku menyadarkan warga di lingkungannya bersama enam dasawisma (dawis) atau anggota karang taruna setempat. Para dawis ditugasi mendata warga mana saja yang terpapar atau yang sedang melakukan isolasi mandiri serta menggalang dana untuk penyemprotan disinfektan.

"Kalau ada warga yang positif, kami dari rumah ke rumah minta sumbangan. Kami juga yang pikul sembako dari rumah ke rumah," ujar Kartini, salah seorang dawis.

Anik, dawis RT 04 lainnya mengatakan, tantangan utama di lingkungannya adalah menyadarkan warga akan bahaya Covid-19. Menurut dia, ada banyak warga yang pernah terpapar Sars-Cov-2 tapi enggan melapor ke pengurus RT/RW. 

"Mungkin karena ini di kampung ya, (mereka) takut dikucilin. Karena kalau positif, warga lain pada takut dan menghindar," jelas Anik.

Kepada Alinea.id, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan program Kampung Tangguh Jaya bakal direplikasi di 50 RW di Jakarta. Program itu terutama diterapkan di daerah yang berstatus zona merah atau berkategori tinggi penularan Covid-19.

"Di situ, harus lengkap semuanya, yaitu bagaimana protokol kesehatan, bagaimana kebersihan, terus diupayakan masyarakat melakukan swadaya pangan, dibikin masyarakat dan hasilnya untuk masyarakat," ujar Yusri saat ditemui di Polda Metro Jaya, Rabu (27/1).

Menurut Yusri, program kampung tangguh merupakan kolaborasi masyarakat dan aparat dari Polri, TNI dan Pemprov DKI Jakarta. Dalam program ini, masyarakat setempat diawasi agar patuh memakai masker, menjaga jarak, dan rutin mencuci tangan (3M), sedangkan petugas mengurusi testing, tracing, and treatment (3T). 

"Nanti petugas satgasnya, baik dari polres, kodim dan kecamatan di sana. Itulah yang melakukan 3T. Dari data, ada beberapa yang positif, ada berapa yang isolasi. Nanti mereka yang turun ngecek. Kasih bantuan makanan dan vitamin kepada masyarakat," jelas Yusri. 

Selama kurang lebih dua minggu berjalan, program Kampung Tangguh Jaya diklaim Yusri membawa dampak signifikan. Saat ini, kata dia, hanya tinggal 33 dari 50 RW di DKI Jakarta yang masih berstatus zona merah.

"Mudah-mudah ini (angkanya) turun lagi. Ini yang kita galakkan, disipilin masyarakat. Kita ambil dari petugas RT/RW, dari lapis bawah, RW dulu," ujar Yusri. 

Warga beraktivitas di depan akses masuk kampung yang ditutup di Kalideres, Jakarta, Sabtu (28/3/2020). Foto Antara/Fauzan.

Jangan hanya sekadar spanduk dan portal

Supaya efektif, epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Syahrizal Syarif mengatakan program Kampung Tangguh Jaya harus fokus pada aktivitas melacak kasus secara dini. Selain 3M, ia menyarankan pendataan dan pengecekan suhu secara berkala dilakukan di kampung-kampung tersebut. 

"Kalau di Wuhan, (China), sendiri, setiap orang di wilayah itu menggunakan aplikasi. Mereka melaporkan setiap hari suhu harian dari penghuni. Basisnya adalah suhu. Nah, apakah itu dilakukan?" ujar Syahrizal kepada Alinea.id, Selasa (26/1). 

Selain pelacakan dini, ia juga menyarankan agar fasilitas pemeriksaan, transportasi darurat, dan tenaga sukarela bagi warga berusia tua disiapkan di Kampung Tangguh Jaya. Pemasangan spanduk dan portal akses masuk saja, kata dia, tidak cukup. 

"Yang ada selama ini, kampung siaga, kampung tangguh ditandai dengan yang pintu masuknya dikasih portal. Itu tidak benar. Enggak penting portal. Yang penting adalah ada upaya membantu agar anggota kampung itu terhindar dari kasus, terhindar dari dampak ekonomi dan sosial dari PSBB dan PPKM," kata dia. 

Menurut dia, konsep kampung atau desa tangguh sebenarnya sudah ia anjurkan kepada pemerintah dari jauh-jauh hari dengan melibatkan sejumlah kementerian, semisal Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa dan Kementerian Kesehatan.

"Tidak sekadar ada portal, ada tulisan desa siaga, tapi tidak ada kegiatan, ya sama saja. Sebetulnya pemerintah gagal dari awal memaksimalkan upaya-upaya di sisi hulu itu. Sayang sekali. Padahal, kalau itu digerakan dari awal, saya kira bisa," ujarnya. 

Infografis Alinea.id/Renaldi

Pakar kebijakan publik Trubus Rahardiansyah mengaku pesimistis program Kampung Tangguh Jaya bakal efektif memutus mata rantai penularan Covid-19 jika mobilisasi manusia masih diperbolehkan.

Tanpa merinci, Trubus mengatakan, kesimpulan itu ia dapat setelah mengamati salah satu Kampung Tangguh Jaya di Jakarta Selatan. Di kampung itu, kata Trubus, kepatuhan warga terhadap protokol kesehatan masih sangat rendah dan warga masih berlalu-lalang seperti biasa.

"Ya, jadi enggak (efektif). Lebih banyak seremonial karena toh pada akhirnya tidak membawa pengaruh kepada masyarakat untuk mematuhi prokes. Tapi, upaya masyarakat untuk tidak mobilitas ternyata gagal," jelas Trubus. 

Diakui Trubus, program kampung tangguh berjalan dengan baik di beberapa lokasi di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sayangnya, efektivitasnya tidak berlangsung lama lantaran warga terjepit oleh kondisi ekonomi akibat pandemi.

"Memang efektif di tempat lain, misalnya di Jatim. Tapi, itu jangka pendek. Saya pernah melihat di Malang, tapi jangka pendek. Mereka (warga) rata-rata ikut (mematuhi protokol) di minggu-minggu pertama. Setelah minggu kedua, ya, masyarakat mau enggak mau keluar (rumah lagi)," jelasnya.

Berita Lainnya