sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bougenville, lidah mertua, serta mimpi Jakarta kurangi polusi udara

Seberapa efektif bougenville dan lidah mertua mengurangi polusi udara Jakarta?

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Selasa, 20 Agst 2019 20:40 WIB
Bougenville, lidah mertua, serta mimpi Jakarta kurangi polusi udara
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 262022
Dirawat 60064
Meninggal 10105
Sembuh 191853

Pada Minggu 18 Agustus 2019, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, ditemani anak bungsunya, Ismail Hakim, menanam tanaman hias bougenville di Jalan Sudirman, Jakarta. Selain untuk alasan estetika kota, penanaman bougenville menjadi salah satu upaya untuk menekan polusi udara Jakarta. 

"Hari ini kita sama-sama menanam tanaman Bougenville itu salah satu tanaman yang memiliki serapan terhadap polusi udara dengan kategori tinggi," kata Anies di Jalan Sudirman, Jakarta, Minggu (18/8).

Untuk tujuan itu, Anies memerintahkan penanaman 100.000 tanaman bougenville di sepanjang Jalan Sudirman-MH. Thamrin. Menurutnya, bougenville memiliki kemampuan menyerap polutan udara cukup tinggi. 

Staf Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian IPB Nizar Nasrullah mengatakan, tanaman bougenville memang dapat menyerap polutan udara. Hanya saja, untuk mengurangi polusi udara di Jakarta, penanaman bougenville saja tidak cukup.

"Tanaman ini efektif menyerap polutan. Namun, untuk mengurangi polusi udara skala kota, perlu beragam tanaman yang ditanam pada area RTH (Ruang Terbuka Hijau) yang luas," ujar Nizar saat dihubungi reporter Alinea.id, Selasa (20/8).

Nizar pernah melakukan penelitian tentang manfaat bougenville. Hasil penelitian berjudul "Pengukuran Serapan Polutan Gas NO2 pada Tanaman Tipe Pohon, Semak dan Penutup Tanah dengan Menggunakan Gas NO2 Bertanda 15N", dilakukan bersama rekanya G. Soertini, S. Heny, Wungkar Marietje W, dan Gunawan Andi (2000). 
Makalah penelitian tersebut disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi. 
Hasilnya menunjukkan bahwa tanaman bougenville merah dan ungu memiliki daya serap terhadap nitrogen dioksida (N02), yang menjadi salah satu unsur pencemaran udara. Bougenville merah memiliki daya serap tinggi terhadap NO2, sedangkan bougenville ungu memiliki daya serap NO2 rendah.

Penelitian ini dilakukan dengan memaparkan tanaman pada nitrogen dioksida dengan konsentrasi tiga part per million berbasis volume per volume (3 ppm (v/v)) selama 60 menit.

Dalam makalah tersebut, dijelaskan bahwa tanaman memiliki tiga tingkatan serapan polutan yang berbeda. Ada yang memiliki serapan tinggi, yaitu dengan daya serap polutan lebih dari 30.0 µg/g; serapan sedang, dengan serapan 15-30 µg/g; dan serapan rendah, yang memiliki serapan kurang dari 15 µg/g. 

Sponsored

Perbedaan serapan di antara tanaman yang diuji, diduga disebabkan oleh perbedaan fisik dan fisiologis daun dalam mengabsorpsi gas melalui daun.

Ada tiga kelompok tanaman yang menunjukkan tingkat serapan beragam. Kelompok pohon mempunyai serapan dari 0,28-68,31 mikrogram per gram (µg/g), semak mempunyai serapan 1,97-100,02 µg/g, dan tanaman penutup tanah menunjukkan serapan 2,38-24,06 µg/g.

Penelitian Nizar dan kawan-kawan dilakukan terhadap 32 spesies pohon, 64 spesies semak, dan 11 tanaman penutup tanah. Hasilnya, ada empat spesies pohon dan 13 spesies semak yang memiliki daya serap polutan tinggi. Salah satunya adalah bougenville ungu.

Selain itu, tanaman lain yang memiliki serapan tinggi dari kelompok pohon adalah dadap kuning, kaliandra, kihujan, dan jambu biji. Sedangkan kelompok semak dengan serapan tinggi terhadap polutan adalah lolipop merah, kihujan, akalipa merah, lolipop kuning, nusa indah merah, daun mangkokan, bougenvillle ungu, kaca piring, miana, hanjuang merah, azalea, lantana ungu, dan akalipa putih. 

Nizar menyarankan agar tanaman-tanaman tersebut digunakan mengisi lanskap yang difungsikan untuk mengurangi polusi udara, khususnya nitrogen dioksida (NO2).

Selain bougenville, Pemprov DKI juga menggunakan tanaman lidah mertua sebagai alat mengurangi polusi udara. Pemprov membagikan secara gratis tanaman tersebut kepada warga Ibu Kota. 

Kepala Dinas Kehutanan DKI Jakarta Suzi Marsitawati mengatakan, pihaknya telah melakukan pembagian tersebut. Namun dia tak menjawab saat ditanya waktu pembagian lidah mertua pada warga. 

"Akan kembali dibagikan pada 6 September dalam acara pameran flora," katanya saat dikonfirmasi jurnalis Alinea.id.

Menurut Nizar, seperti bougenville, lidah mertua juga memiliki daya serap tinggi terhadap polutan udara. Dia juga mengatakan, langkah Pemprov DKI menggunakan tanaman dua tanaman tersebut untuk menyerap polusi udara bukanlah langkah yang salah. Namun cara ini tidak akan efektif tanpa didukung langkah-langkah lain. Banyak hal yang perlu dilakukan, salah satunya dengan mengurangi sumber polusi tersebut.

Manajer Kampanye dan Perkotaan Walhi Dwi Sawung Eknas mengatakan, penggunaan tanaman tak akan efektif menurunkan polusi udara. Menurut dia, langkah ini hanya bermanfaat bagi estetika kota.

"Intinya, Jalan Sudirman-Thamrin penuh pohon pun tidak akan menurunkan polusi, kalau sumbernya terus dibiarkan bertambah. Perlu cara lain, pembatasan kendaraan, sumber emisi dari industri dikurangi, bahan bakar standar diperketat," katanya.

Senada, pengamat transportasi dan tata kota Yayat Supriatna mengatakan, penananam bougenville hanya berguna untuk menghias wilayah Jalan Sudirman-MH Thamrin. Adapun efektivitasnya dalam menyerap polusi udara di Jakarta masih diragukan.

Menurutnya, mengurangi polusi udara tidak dapat hanya mengandalkan penanaman pohon atau bunga saja. Sumber polusi harus diperketat, pembuangan emisi dikurangi, dan bahan bakar kendaraan (BBM) perlu diganti yang lebih ramah lingkungan.

"Jadi, emisi udara diperketat, uji emisi wajib, bahan bakar diganti, mobil tua yang buang banyak polusi dikurangi atau diganti dengan gas atau listrik," katanya menerangkan.

Berita Lainnya
×
img