sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Hari Pahlawan Nasional, politisi diingatkan jaga idealisme

Dalam memberikan gelar pahlawan nasional pemerintah harus teliti. Tak sembarang orang bisa mendapatkan gelar tersebut.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Sabtu, 10 Nov 2018 21:30 WIB
Hari Pahlawan Nasional, politisi diingatkan jaga idealisme
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 60695
Dirawat 30091
Meninggal 3036
Sembuh 27568

Di hari pahlawan yang jatuh pada 10 November di setiap tahunnya, Peneliti Formappi, Lucius Karus, mengingatkan kepada para politisi yang kini sedang duduk di parlemen mewakili suara rakyat untuk menjaga idealismenya. 

Pasalnya, kata dia, bukan tak mungkin para politisi tersebut di masa yang akan datang bakal dianugerahi gelar pahlawan nasional. Menurut Lucius,banyak politisi yang memiliki potensi luar biasa untuk berbuat lebih demi bangsa dan negara.

“Mereka banyak potensinya yang luar biasa untuk berbuat pada bangsa dan negara, itu bisa jadi modal di kemudian hari, bisa bukan tak mungkin digelari pahlawan. Tapi di situ titik kritisnya saat ini, jika dilihat dari kapasitas kepemimpinan itu tak ada untuk ke arah sana,” kata Lucius dalam diskusi di Jakarta pada Sabtu, 10 November 2018.

Sementara itu, Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam, mengatakan dalam memberikan gelar pahlawan nasional pemerintah harus teliti. Pasalnya, tak sembarang orang bisa mendapatkan gelar tersebut. Gelar pahlawan nasional harus benar-benar diberikan kepada pihak yang berjasa bagi banyak orang.

"Ini bukan sekadar pahlawan tapi ini pahlawan nasional. Ini gelar resmi yang diberikan negara sejak tahun 1959. Kepada yang berjasa kepada nusa dan bangsa yang mempunyai jasa kepada bangsa orangnya juga mengorbankan jiwa raga untuk tanah air," ujarnya.

Asvi mengatakan, sampai saat ini telah ada 179 orang yang resmi diberikan gelar pahlawan nasional oleh pemerintah. Angka tersebut pun diperkirakan Asvi sebagai jumlah terbanyak jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

“Negara lain malah kebingungan untuk menentukan pahlawan, misalanya Thailand. Thailand tak pernah dijajah jadi siapa yang diangkat jadi pahlawan? Negara-negara yang berjuang melawan penjajah tentu punya pahlawan," ujar Asvi. 

Asvi memandang, dengan banyaknya pahlawan di Indonesia merupakan suatu keuntungan bagi sebuah bangsa. Sebab, masyarakat bisa memiliki banyak contoh tauladan yang dapat dijadikan panutan.

Sponsored

"Indonesia adalah sebuah negara yang besar dengan 250 penduduk. Kalau kita punya 250 pahlawan itu artinya satu orang jadi contoh teladan untuk 1 juta orang lain. Jadi silahkan saja diperbanyak jumlah pahlay kita," kata Asvi. 

Berita Lainnya