sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kisah polisi menangis saat kakinya dibasuh anak SD

Video yang merekam kebersamaan Aipda Dwi dan Akbar Eka terjadi saat momen wisuda siswa-siswi SD Widoro.

Fitra Iskandar
Fitra Iskandar Minggu, 03 Jul 2022 17:38 WIB
Kisah polisi menangis saat kakinya dibasuh anak SD

Sebuah video yang merekam seorang pria berpakaian polisi dan seorang bocah menangis di acara kelulusan siswa SD viral di media sosial. Sebab, keduanya diketahui bukan ayah dan anak dan tidak mempunyai hubungan saudara. Ada ikatan unik antara keduanya.

Polisi itu adalah Bhabinkamtibmas Tegalpanggung, Danurejan, Kota Yogyakarta yang Aipda Dwi Cipto. Sementara siswa SD yang menangis di kaki Aipda Dwi adalah Akbar Eka Riyadi Santoso, siswa SD Widoro, Tegalpanggung.

Video yang merekam kebersamaan Aipda Dwi dan Akbar Eka terjadi saat momen wisuda siswa-siswi SD Widoro.

Aipda Dwi datang sebagai wali dari Akbar EKa karena ibu bocah SD tersebut meninggal dunia dan sang ayah bekerja serabutan di luar kota.

Pria yang akrab dipanggi Pak Cip tersebut sudah menjadi anggota Bhabinkamtibmas Tegalpanggung sejak tahun 2017. Tugasnya membuat ia dekat dengan masyarakat salah satunya dengan keluarga Akbar Eka.

Saat bertemu dengan Pak Cip, Akbar Eka tidak mau sekolah karena sang ibu, Siti Sulasiah sakit parah. Sang ibu pun dirawat di RS karena sakit ginjal.

“Kalau ada anak-anak kami jarang masuk sekolah atau apa, saya komunikasikan. Akbar saat itu tidak mau sekolah karena ibunya saat itu sakit. Dirawat di salah satu RS negeri. Sakitnya ginjal,” ungkap Dwi, Minggu (3/7/2022).

Karena keterbatasan ekonomi, ibunya dibawa pulang ke rumah dan menjalani perawatan di rumahnya terletak di Tegalpanggung, Kota Yogyakarta.

Sponsored

Selama di rumah, ibunya hanya berbaring di kamar sederhana. Fasilitas perawatan ibunya saat di rumah pun hanya mengandalkan pihak kelurahan dan puskesmas setempat. Tak sanggup menahan rasa sakit yang berkepanjangan, sang ibu dari bocah itu mengembuskan napas terakhirnya.

“Sekarang sudah meninggal. Fokus saya waktu itu dua yaitu membujuk Akbar tetap sekolah sama nutup biaya operasi ibunya,” kata Aipda Dwi.

Upaya itu pun dilakukan, mulai dari menghubungi Dinas Sosial, Dinas Kesehatan hingga ke DPRD setempat. “Waktu itu dari Jamkesda Rp15 juta, dari Dinsos, Dinkes dan dari Polsek Danurejan terkumpul. Tetapi belum menutup biaya,” ujarnya.

Di bidang sosial dan pendidikan, Aipda Dwi menghubungi pihak kelurahan dan sekolahnya untuk bersama-sama membujuk supaya Akbar bersedia kembali masuk sekolah.

Namun tidak mudah membujuk Akbar kembali ke sekolah. Berkat konsistensinya, Aipda Dwi berhasil membujuk Akbar untuk bersekolah.

“Pokoknya mau sekolah saja dulu, telat pun gak masalah. Itu pesan kepala sekolah waktu itu,” kata dia.

Upaya yang dilakukannya itu membuahkan hasil, Akbar menemukan semangat lagi untuk bersekolah. Dia akhirnya menjalani wisuda purna siswa SD Widoro belum lama ini.

Momen ketika wisuda itulah kedekatan yang terjalin antara dua sosok itu terasa begitu kuat. Puncak acara wisuda itu adalah membasuh kaki orangtua/ wali siswa, dan Eka mendatangi Aipda Cipto yang hadir di acara itu.

“Entah dia spontan apa bagaimana, tiba-tiba Akbar datang ke saya. Dia membasuh kaki saya. Karena walinya enggak ada. Ibunya meninggal, ayahnya serabutan di luar kota. Saya ikut menangis saat itu,” terang dia.

Setelah beredarnya video momen wisuda siswa SD tersebut, beberapa masyarakat yang berempati mulai datang untuk memberi bantuan kepada Akbar.

“Saya dihubungi orang pondok. Ada juga dari sekolah SMP yang telefon buat nawari Akbar lanjut sekolah,” pungkasnya. (ntmc)

Berita Lainnya
×
tekid