sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Lonjakan Covid -19 di Jatim didominasi buruh PT Sampoerna

Lonjakan sebaran Covid-19 di Jawa Timur per Sabtu (9/5) yang sangat tinggi didominasi dari buruh PT HM Sampoerna.

Adi Suprayitno
Adi Suprayitno Minggu, 10 Mei 2020 09:52 WIB
Lonjakan Covid -19 di Jatim didominasi buruh PT Sampoerna

Berdasarkan data update sebaran Covid-19 dari Pemprov Jatim per Sabtu (10/5), jumlah orang yang terkonfirmasi positif menjadi 1.409 kasus. Di mana dari jumlah itu, sebanyak 1.036 orang masih dirawat, 230 orang sudah sembuh, dan 143 pasien meninggal dunia. 

Tambahan 128 pasien baru ini paling banyak disumbang Kota Surabaya, yaitu 75 kasus. Kemudian Kabupaten Pasuruan sebanyak 21 kasus dan Sidoarjo 18 kasus, Bondowoso tiga kasus, kemudian Nganjuk dan Lamongan masing-masing dua kasus. Selanjutnya Kabupaten Malang dan Kota Malang, Kabupaten Probolinggo dan Kota Probolinggo, Kabupaten Mojokerto dan Lumajang masing-masing bertambah satu orang.

Ketua Tim Tracing Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Jawa Timur Kohar Hari Santoso, menilai, melonjaknya tambahan pasien, bukan berarti baru muncul.

"Tetapi pengumuman laboratorium baru ke luar sekarang," kata Kohar, di Grahadi, Sabtu (9/5). 

Kohar menegaskan, dengan peningkatan kasus baru ini, timnya akan melakukan tracing untuk mengetahui pasien tersebut waktu mulai sakit.

Pria yang juga Dirut RSU Saiful Anwar Malang itu, membenarkan ada klaster di Surabaya yang cukup besar di antaranya dari Sampoerna. Kemudian dari pasar di Surabaya dan asrama gereja di Menanggal. 

"Ada juga klaster kepada kelompok komunitas dan orang-orang yang memeriksakan sendiri," tuturnya.

Selain Surabaya, tambahan juga dari salah satu pabrik di Pasuruan. Klaster ini berawal dari karyawan pabrik yang terindikasi sakit. Kelompok masyarakat juga ada yang terinfeksi Covid-19. Tetapi Kohar enggan membeberkan perusahaan di Pasuruan yang menjadi klaster penyebaran tersebut. "Janganlah itu privasi yang harus dijaga," tegasnya.

Sponsored

Dengan terus melonjaknya kasus baru, pelaksanaan PSBB harus dimaksimalkan. Untuk itu masyarakat harus ikut bergotong-royong untuk menanggulangi Covid-19. Mengingat pemerintah tidak bisa kerja sendiri.

"Kami tidak bisa kerja sendiri. Apalagi saling menyalahkan. Butuh kesadaran bersama," pintanya.

Untuk memutus mata rantai sebaran Covid-19, Presiden Joko Widodo telah meminta agar sering melakukan pelacakan yang lebih masif. Mengingat jumlah klaster terus meningkat banyak. Kemudian perlu peningkatan pemeriksaan agresif, karena laboratorium yang ada, tidak mampu menangani perkembangan di masyarakat. 

"Selain itu, isolasi yang ketat. Isolasi itu bisa dilakukan masing-masing, mandiri, tetapi butuh kedisiplinan pemahaman bagi yang isolasi," pungkasnya.

Berita Lainnya
×
tekid