sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Momen unik di balik pelantikan presiden pendahulu Jokowi

Presiden Soekarno memberikan perintah pertama, saat dirinya memesan sate.

Fandy Hutari Manda Firmansyah
Fandy Hutari | Manda Firmansyah Senin, 21 Okt 2019 21:46 WIB
Momen unik di balik pelantikan presiden pendahulu Jokowi

Ada pemandangan tak biasa menjelang pelantikan presiden dan wakil presiden di Gedung DPR/MPR. Pada 18 Oktober 2019, dua hari menjelang pelantikan, seorang paranormal terlihat beraksi. Videonya viral di media sosial.

Paranormal bernama Ki Sabdo itu mengklaim membantu pengamanan jalannya acara pelantikan presiden dan wakil presiden secara spiritual. Ia mengatakan, membawa jin kayangan hingga Ratu Pantai Selatan untuk berjaga di sekitar Kompleks Parlemen, Jakarta.

Selain keunikan tadi, pelantikan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2019-2024 juga diwarnai pengamanan yang superketat.

Ada sekitar 30.000 aparat gabungan dari TNI dan Polri yang bertugas. Jumlahnya lebih banyak 10.000 personel dibandingkan pengamanan periode sebelumnya.

Pengamanan tersebut dibagi menjadi tiga ring, dengan rincian ring satu diamankan pasukan pengamanan presiden. Lalu, ring dua diamankan TNI, dan ring tiga diamankan pasukan gabungan TNI-Polri.

Perintah pertama Soekarno

Ketika pelantikan presiden pertama Indonesia Soekarno, ada pula hal yang unik. Di dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965) karya Cindy Adams, Soekarno mengaku tak ingat detail siapa yang mengusulkannya jadi presiden. Pelantikan presiden dan wakil presiden pun berlangsung mulus, tanpa perdebatan.

“Yang saya ingat hanya seseorang mengatakan sesuatu yang tidak inspiratif, seperti, ’nah, kita sudah bernegara sejak kemarin. Dan, negara membutuhkan presiden. Bagaimana dengan Soekarno?’ Sesederhana itu,’” kata Soekarno.

Sponsored

Menurut Soekarno, kata yang penting akan dicatat untuk anak-cucu adalah “baiklah”. “Itu saja yang saya katakan,” ujar Soekarno.

Hari itu, 18 Agustus 1945—sehari setelah pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia—sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di gedung bekas Road van Indie di Jalan Pejambon menetapkan struktur pemerintahan dasar Republik Indonesia. Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat sebagai presiden dan wakil presiden.

Di samping itu, PPKI menerapkan konstitusi Indonesia 1945 dan membentuk Komite Nasional Indonesia Poesat (KNIP) untuk membantu presiden sebelum pemilihan parlemen.

Ketika perjalanan pulang ke rumah, Soekarno melihat pedagang kali lima yang tengah menjajakan sate. Saat itulah Presiden Soekarno melontarkan perintah pertamanya.

Presiden Joko Widodo mengucapkan sumpah saat dilantik menjadi presiden periode 2019-2024 di Gedung Nusantara, kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10). /Antara Foto.

“Sate ayam, lima puluh tusuk!” kata Soekarno dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Saat itu, ia merasa sangat terharu. Menurutnya, menyantap sate persis di sebelah selokan dan tempat sampah merupakan cara untuk merayakan lika-liku perjuangan yang sudah mengantarkannya ke kursi kekuasaan tertinggi.

Soekarno mengatakan, saat tiba di rumah, ia memberitahu istrinya, Fatmawati, terkait dipilihnya ia menjadi presiden. Namun, Fatmawati tak terkejut. Fatmawati berkisah wasiat ayahnya sebelum meninggal dunia. Ia diberitahu melalui pesan mistis kalau Soekarno akan menghuni singgasana.

“Jadi ini tidak mengejutkan. Tiga bulan lalu ayahmu memperkirakannya,” kata Soekarno, menirukan ucapan Fatmawati, seperti dicuplik dari buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Istilah presiden pun dikenal sejak Soekarno menjabat. Di dalam buku yang sama, pada kesempatan wawancara dengan jurnalis, Soekarno mengatakan hal itu. Menurutnya, di dalam bahasa Indonesia tak ada kata president karena itu adalah istilah bahasa Inggris.

“Karena orang-orang menganggap gelar ini cocok diberikan kepadaku, kami harus mengindonesiakannya. "T" dibuang. Sejak hari itu, aku adalah Presiden Soekarno,” ujar Soekarno.

Soeharto hingga Gus Dur

Pelantikan Soekarno sebagai Presiden RIS di Yogyakarta pada 1949. /Youtube/Video Sejarah.

Soeharto berkuasa sekitar 32 tahun menjadi Presiden Indonesia. Kekuasaan terlama dalam sejarah pemimpin negeri ini.

Berdasarkan buku Arwan Tuti Artha berjudul Dunia Spiritual Soeharto: Menelusuri Laku Ritual, Tempat, dan Guru Spiritual (2007), sebenarnya Soeharto sudah pernah menyatakan diri tak mau jadi presiden lagi pada 1988.

“Setelah empat periode berturut-turut menjadi presiden, barangkali wajar dan bisa dimaklumi ketika Soeharto menjelaskan bahwa pelantikannya sebagai presiden tahun 1988 adalah pelantikan terakhir sebagai presiden,” tulis Arwan di dalam bukunya.

Saat itu, usia Soeharto sudah 67 tahun. Ternyata, tulis Arwan, hal itu cuma basa basi Soeharto saja. Alasan yang kerap dikemukakan Soeharto adalah terserah apa kata MPR. Arwan menulis, hal itu pernah dilontarkan Soeharto saat bertemu dengan 73 pimpinan tokoh pemuda di Bina Graha, pada 16 Januari 1991.

“Menurut pemahaman Soeharto, masa jabatan presiden itu sudah jelas, yakni 5 tahun dan setelah itu bisa dipilih kembali. Sampai berapa kali dipilih, tidak ada penjelasan dan semua itu bukan bergantung pada presiden. Apakah yang akan menjadi presiden itu adalah orangnya sama, atau orang lain, itu adalah wewenang MPR,” tulis Arwan.

Soeharto sendiri sudah pernah mengkritik dirinya sendiri sebagai orang yang sudah tua, ompong, peot, dan pikun. Bahkan, Soeharto menyindir MPR.

Mosok MPR akan memilih orang dengan keadaan seperti itu, akhirnya pelantikan presiden tahun 1988 bukanlah pelantikan yang terakhir,” tulis Arwan di buku yang sama.

Pelantikan BJ Habibie sebagai presiden menggantikan Soeharto pada 21 Mei 1998. /commons.wikimedia.org/B.J. Habibie: 72 Days as Vice President

Saat itu, Arwan menduga, Soeharto tengah menyampaikan strategi kebohongannya agar dipilih kembali. Sebab, usia tak menjadi soal. Soeharto pun melenggang hingga 1998.

Menurut Sri Bintang Pamungkas di dalam bukunya Ganti Rezim, Ganti Sistim: Pergulatan Menguasai Nusantara (2014), pada 1993 Soeharto sebenarnya sudah berencana memilih BJ Habibie sebagai penggantinya. Saat itu, Soeharto sudah merasa lelah menjadi presiden.

“Tapi ternyata Soeharto diganjal para Jenderal TNI yang tidak suka kepada Habibie, mereka berharap pengganti Soeharto juga orang militer lagi,” tulis Sri Bintang Pamungkas.

Menjelang kejatuhan Soeharto, mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan Haryono Suyono punya kisah unik. Ketika itu, Habibie memimpin rapat untuk menentukan calon anggota kabinet.

Saat sedang melakukan pemilihan, Habibie menerima telepon dari Menteri Sekretaris Negara Saadillah Musjid. Tuntas menerima telepon, Habibie mengabarkan Presiden Soeharto akan lengser esok hari, 21 Mei 1998.

“Kami kaget presiden membuat keputusan demikian. Pada saat itu, kami tidak tahu pengganti beliau karena Habibie tidak mengucapkan sepatah kata pun tentang penggantinya. Namun, kami guyon-guyon di meja rapat. ‘Kalo gitu, Pak Habibie presidennya. Pak Habibie yang akan melantik para menteri itu,’” kata Haryono, seperti dikutip dari buku Sidang Kabinet Terakhir Orde Baru: 12 Jam Sebelum Presiden Soeharto Mundur (2008) karya A. Makmur Makka.

Pelantikan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai presiden pada Oktober 1999, bagi sebagian orang, juga meninggalkan kenangan lucu. Menurut buku Gus Dur Santri Par Excellence: Teladan Sang Guru Bangsa (2010), pidato Gus Dur tak panjang.

“Saya tidak akan berpanjang-panjang dengan apa yang saya kemukakan kali ini karena semakin panjang saya kemukakan, akan semakin banyak hal-hal yang harus dipertanggung jawabkan,” kata Gus Dur, ketika mengunci pidato perdananya.

Ada sejumlah hal unik saat pelantikan presiden pada 20 Oktober 2019. Alinea.id/Oky Diaz.

Mantan Sekretaris Jenderal MPR Edy Siregar pun punya pengalaman yang tak bisa dilupakan ketika Gus Dur dilantik menjadi presiden. Bahkan, menurutnya, pengalaman ini merupakan yang paling unik di antara pelantikan Presiden Indonesia lainnya.

“Paling mengesankan itu saat Gus Dur dilantik. Anda bisa bayangkan, kita kasih mikrofon, karena kita tahu kondisi Gus Dur. Lalu beliau membaca sumpah. Kita tahu beliau tidak bisa baca, kemudian terjadi pertukaran tempat kursi dengan Habibie, salah satu kaki beliau naik ke atas meja,” kata Edy, seperti dicuplik dari buku Mata Batin Gus Dur: Cerita-Cerita Unik Bersama Sang Kiai (2017) karya Imam Anshori Saleh.

Hal lain yang lucu, kata Edy, adalah momen saat salah seorang ajudan Gus Dur sedang membisiki presiden. Momen itu tertangkap salah satu kamera stasiun televisi swasta.

“Salah satu televisi swasta bukannya menyoroti Gus Dur yang membaca sumpah, tapi malah menyoroti mulut ajudan Gus Dur yang membisikkan apa yang akan dibaca oleh Gus Dur. Itu yang paling berkesan,” kata Edy.