sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pembakaran bendera Tauhid di Garut, HTI: Itu bukan simbol kami

Tindakan Banser NU membakar bendera Tauhid gegabah lantaran menimbulkan konflik horizontal antarumat Islam.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Kamis, 01 Nov 2018 19:49 WIB
Pembakaran bendera Tauhid di Garut, HTI: Itu bukan simbol kami

Tindakan Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) yang membakar bendera berlafazkan tauhid sembari berjoget dan bernyanyi seolah merayakan kemenangan atas Hizbut Tahrir Indonesia, organisasi yang dilarang pemerintah. Hal tersebut diutarakan oleh mantan anggota Jamaah islamiyah, Nasir Abbas.

Meniurutnya, tindakan yang dilakukan Banser NU membakar bendera Tauhid gegabah lantaran menimbulkan konflik horizontal. Terlebih bendera itu identik dan kerap digunakan oleh HTI, yang merupakan organisasi muslim juga.

“Dalam pembakaran bendera itu, masa kalau mau bakar dengan alasan mengamankan jangan sambil nyanyi-nyanyi begitu, seakan-akan merayakan kemenangan,” kata Nasir dalam diskusi yang digelar di Jakarta pada Kamis, (1/11).

Nasir menjelaskan, jangan karena membenci suatu kelompok kemudian berlaku tidak adil dengan kelompok tersebut. Untuk menyelesaikannya, kata Nasir, harus mengedepankan dialog. Selain itu, Nasir juga meminta kepada Banser NU untuk meminta maaf.

“Jika perlu, kalau memang hukum di negara ini mengatur tindakan tersebut, yaa silakan di tindak,”kata Nasir.

Namun demikian, persoalan pembakaran bendera Tauhid ini tak perlu ditafsirkan dan dipermasalahkan masing-masing pihak berlarut-larut. Pasalnya, hal tersebut dapat menjadi penyebab terjadinya konflik antarumat Islam, seperti yang pernah dirasakannya di Afghanistan. 

“Waktu saya di Afghanistan banyak itu kelompok-kelompok jihadis. Mereka itu Islam tapi saling bunuh- membunuh mereka. Masa kita mau musuhan sesama muslim, mau kita kaya gitu,” ujar Nasir.

Sementara itu, Mantan Ketua Hizbut Tahrir Indonesia, Rokhmat S Labib, mengatakan bendera yang dibakar oleh anggota Banser NU di Garut, Jawa Barat bukanlah bendera organisasi yang pernah dipimpinnya, melainkan itu bendera Rasulullah alias bendera Tauhid. 

Sponsored

"Kami tak pernah menyatakan itu bendera kami. Lihat saja apakah kami pernah menyatakannya, baik secara tertulis dan langsung. Di AD/ART kita tak ada pernyataan itu," kata Rokhmat.

Menurut Rokhmat, yang membuat umat Islam responsif atas tindakan Banser bukanlah karena bendera itu adalah bendera HTI, melainkan karena tulisan yang ada di bendera tersebut.

“Mereka merespon karena melihat tulisan lafadz Laillahaillallah dan Muhammadarrasullulah. Jadi, mereka marah. Kami kan pengikut Nabi Muhammad, masa diem saja,” kata Rokhmat.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Lakpesdam PBNU, Rumadi Ahmad, mengatakan tindakan Banser yang membakar bendera Tauhid tersebut karena simbol perlawanan terhadap ideologi yang dilarang oleh pemerintah. Alasannya, karena bendera tersebut kerap dijadikan simbol oleh HTI kala menunjukkan eksistensinya.

"Jadi ini sebenarnya untuk memperlihatkan bahwa apa yang dilakukan itu untuk menunjukkan saja bahwa organisasi ini telah dilarang," kata Rumadi.

Dekan Fakultas Usuludin UIN Jakarta, Masri Mansoer, mengatakan sudah sepatutnya insiden pembakaran bendera Tauhid di Garut, Jawa Barat, menjadi pelajaran bagi umat Islam di Indonesia, agar tak gegabah dalam mengambil tindakan. Sebab, setiap tindakan memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungkawabkan.

"Kita jadikan ini pelajaran bagi kita untuk tak gegabah mengambil tindakan. Jangan kita peruncing lagi, karena agama itu bisa ditafsirkan berbeda. Jadi jangan memantik perpecahan. Karenanya, meminta maaf adalah langkah yang sudah bener dan jika memang ada tindak pidananya ya di tindak,” kata Masri.