sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

PJJ banyak orang tua tidak mampu penuhi kuota internet

Pemerintah diminta menggratiskan internet selama PJJ.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Rabu, 10 Jun 2020 13:51 WIB
PJJ banyak orang tua tidak mampu penuhi kuota internet
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 511.836
Dirawat 64.878
Meninggal 16.225
Sembuh 429.807

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) banyak orang tua tidak mampu memenuhi kuota internet. Hal tersebut, berdasar survei Komisi Pelindungan Anak Indonesia (KPAI) pada Maret hingga April 2020.

Untuk orang tua dengan anak, lebih dari tiga bakal kewalahan dalam memenuhi kuota internet untuk PJJ. Bahkan, tak jarang memilih menggunakan uang untuk membeli makan daripada mengikuti PJJ.

Komisioner KPAI bidang pendidikan, Retno Listyarti mengusulkan, pemerintah menggratiskan internet selama PJJ untuk enam bulan ke depan. Sedangkan, untuk pemerintah daerah (pemda), sebaiknya mendorong optimalisasi wifi di berbagai sekolah negeri dan swasta. 

Password wifi, harus dibuka agar anak-anak sekitar sekolah bisa menggunakannya untuk PJJ. "Tujuannya, agar semua anak terlayani PJJ, terutama dengan sistem daring," kata Retno, dalam keterangan tertulis, Rabu (10/6).

Retno mengingatkan, PJJ bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. Maka, sebaiknya menyusun jam pelajaran agar lebih efektif dan efisien. Misalnya, PJJ tidak harus 10 jam dengan lima guru secara bergantian sebagaimana jam sekolah sebelum pandemi Covid-19 datang.

Menurut dia, waktu pengumpulan tugas dan pengerjaan ujian jam sekolah harus fleksibel karena orang tua yang anaknya tiga dan peralatan tes daring terbatas bakal terlanggar haknya.

Untuk pendidikan vokasi yang membutuhkan praktik, maka di masa new normal bisa datang ke sekolah secara bergantian. Misalnya, hanya maksimal dua jam pelaksanaan praktik pembelajaran di mana sehari hanya ada jadwal dua kali praktik. "Selama praktik, wajib mengenakan masker, wajib cuci tangan, jumlah siswa yang praktik hanya setengahnya, dan tetap jaga jarak," bebernya.

Di sisi lain, kurikulum harus disederhanakan menyesuikan situasi darurat. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, diminta memilih dan memilah kompetensi dasar yang sifatnya esensial.

Sponsored

"Dalam keadaan normal saja K13 sulit dituntaskan secara maksimal, apalagi dalam keadaan darurat, ketika new normal nanti anak-anak harus belajar bergantian, menerapkan sistem shift demi menjaga jarak, tidak ada jam istirahat, jam tatap muka diperpendek," tandas Retno.

Berita Lainnya