sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

PPATK akui kesulitan setop aliran dana ke JAD 

JAD menggunakan banyak nama untuk mengalirkan dana dari satu rekening ke rekening lainnya. 

Ayu mumpuni Fadli Mubarok
Ayu mumpuni | Fadli Mubarok Selasa, 19 Nov 2019 19:28 WIB
PPATK akui kesulitan setop aliran dana ke JAD 

Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin mengaku kesulitan menyetop sepenuhnya aliran dana bagi kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Menurut Badaruddin, kelompok JAD menggunakan banyak nama untuk mengalirkan dana dari satu rekening ke rekening lainnya. 

"Ya, yang dimatikan kan sudah banyak. Tapi, dia kan tetap ada juga. Tidak mungkin dia mencantumkan nama JAD dengan jelas kan? Kadang-kadang ada yang sudah dimatikan, kemudian hidup lagi," ucap Badaruddin di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Selasa (19/11).

Menurut Badaruddin, ada banyak modus yang dipraktikkan kelompok JAD dalam mengalirkan dana. Salah satu yang paling lazim digunakan ialah lewat pencucian uang. 

"Macem-macem contohnya. Teroris itu bahkan sekarang dia juga tidak menerimanya di dalam negeri saja. Terima di luar negeri, nanti baru dia bagikan dari sana atau dibawanya. Banyaklah teknis-teknisnya sekarang," ujar dia. 

Badaruddin mengatakan, hampir setiap hari PPATK menemukan transaksi-transaksi keuangan yang mencurigakan. "Hal ini menandakan setiap harinya terorisme mengancam negara," ujar dia. 

Terpisah, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Pol M. Iqbal mengatakan telah menangkap 70 terduga teroris di berbagai wilayah di Indonesia pascaaksi bom bunuh diri yang dilancarkan anggota JAD Rabbial Muslim Nasution di Polrestabes Medan, Sumatera Utara, Rabu (13/11).

Para terduga teroris ditangkap di Pekanbaru, Jabodetabek, Banten, Riau, Jawa Tengah, Medan, Jawa Barat, Kalimantan, dan Aceh. Menurut Iqbal, para terduga teroris yang ditangkap tidak berasal dari satu jaringan.

“Pekanbaru total lima orang, Jabodetabek tiga orang, Banten lima orang, Jateng 11 orang, Medan 30 orang, Jabar 11 orang, Kalimantan satu orang, Aceh empat orang tapi dua tidak terbukti, Jatim dua orang, Sulsel satu orang," kata Iqbal di The Tribrata, Jakarta, Selasa (19/11).

Sponsored

Dari 70 orang, menurut Iqbal, dua di antaranya ditembak dan tewas saat akan ditangkap. "Dua meninggal dunia karena mengancam nyawa petugas karena melawan," ucap Iqbal.

Lebih jauh, Iqbal mengatakan, Densus 88 Antiteror akan terus menggelar upaya-upaya preventif menjelang Natal dan Tahun Baru. Ia menjamin Polri akan serius menjaga keamanan menjelang pergantian tahun.