sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Selain heli, BW duga Firli sewa Alphard dan menginap di hotel mewah

BW minta Dewas KPK bergerak usut dugaan pelanggaran kode etik Firli Bahuri.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Rabu, 08 Jul 2020 13:27 WIB
Selain heli, BW duga Firli sewa Alphard dan menginap di hotel mewah
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 135123
Dirawat 39290
Meninggal 6021
Sembuh 89618

Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto menduga Firli Bahuri telah menggunakan pengaruhnya sebagai pimpinan lembaga antirasuah tersebut. Tujuannya, untuk mendapatkan sejumlah fasilitas mewah berupa transportasi saat hendak berkunjung ke kampung halamannya pada 20 Juni 2020.

"Jangan-jangan dia sedang gunakan pengaruhnya. Pengaruhnya apa? Ya sebagai insan KPK," kata BW sapaan akrabnya dalam diskusi bertajuk "Mencermati Penegakan Etik Pejabat Publik,"  disiarkan melalui akun Facebook ICW, Rabu (8/7).

Diketahui, Ketua KPK Firli Bahuri dilaporkan ke Dewan Pengawas KPK atas dugaan pelanggaran kode etik berupa gaya hidup mewah berupa menggunakaan helikopter mewah untuk berziarah ke makam mendiang orang tuanya.

Adapun penggunaan helikopter mewah itu dilakukan dari daerah Palembang menuju pemakaman mendiang orang tuanya yang ada di Baturaja pada 20 Juni 2020.

BW menyebut penggunaan fasilitas transportasi mewah yang digunakan Firli tidak hanya helikopter. Jenderal bintang tiga itu diduga telah memakai mobil mewah dan fasilitas penginapan di hotel mewah.

"Katanya juga menyewa Alphard, atau gunakan mobil Alphard. Katanya mobilnya BG-50-NG, dan itu diduga milik seseorang yang potensial berkaitan dengan jabatannya. Katanya dia menginap di Hotel Arista. Hotel Arista itu milik beberapa orang, yang salah satunya adalah mantan orang diduga melakukan tipikor," ujar BW.

Kendati demikian, BW menilai terdapat unsur gratifikasi yang dilakukan Firli Bahuri. Sebab, pemberian fasilitas tersebut dilakukan oleh seseorang yang berkaitan dengan sebuah perkara.

"Orang hanya melihat naik helikopter saja. Emang orang disitu naik heli enggak naik kendaraan? Naik kendaraan. Kendaraan Alphard itu milik siapa? Kenapa dia menginap di hotel yang itu, bukan di hotel sebelahnya atau yang lainnya? Jangan-jangan ada isu gratifikasi di situ," papar BW.

Sponsored

Menurut BW, Dewan Pengawas KPK harus mengusut tuntas sejumlah dugaan tersebut. Jika tidak, kata BW, pengawas lembaga antirasuah yang lahir atas regulasi hasil revisi itu telah mematikan semangat antikorupsi.

"Kalau Dewas KPK tidak bergerak, Dewas KPK ikut serta bersama-sama pimpinan KPK menjerumuskan lembaga KPK dan pimpinan KPK lainnya," tutup BW.

Berita Lainnya