logo alinea.id logo alinea.id

Sidang MK berlangsung, masih perlukah rekonsiliasi?

Pertemuan antara Jokowi-Prabowo tetap perlu dilakukan untuk mengurangi ketegangan antar pendukungnya.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Jumat, 14 Jun 2019 16:32 WIB
Sidang MK berlangsung, masih perlukah rekonsiliasi?

Sidang perdana gugatan pemilihan presiden (Pilpres) yang diajukan tim kuasa hukum Prabowo-Sandi ditunda sampai pekan depan. Rencananya, sidang akan kembali dilanjutkan pada Selasa (19/6). 

Sidang gugatan ini menimbulkan pertanyaan, masih perlukan rekonsiliasi antara Prabowo dengan Jokowi? 

Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti mengatakan, pertemuan antara Prabowo dan Jokowi tetap harus dilakukan. Lewat pertemuan kedua calon presiden (capres) tersebut, maka ketegangan antar pendukungnya masih mereda. 

"Masing-masing calon harus menunjukkan kepada pendukungnya. Meskipun berkompetisi tapi perkawanan, pertemanan, persaudaraan berbangsa itu penting," kata Ray Rangkuti. 

Baik Tim Kampanye Nasional dan Badan Pemenangan Nasional (TKN dan BPN) juga harus berupaya untuk meminimalisir sejumlah aksi protes. Agar tidak lagi terulang seperti aksi kerusuhan 21-22 Mei lalu. 

Meski begitu, Ray menilai tidak tepat bila pertemuan antara Prabowo dan Jokowi disebut rekonsiliasi. Sebab pertemuan bukan soal sekedar menang dan siapa yang kalah, tapi lebih pada pertemuan antara saudara yang ingin memajukan bangsanya. 

"Jadi bilang saja ini bukan rekonsiliasi, tapi silahturahmi atau pertemuan biasa untuk menurunkan tensi. Tanpa harus saling mengakui menang atau kalah," ujar Ray. 

Pengamat Komunikasi Politik Universitas Telkom Dedi Kurnia Syah menambahkan, pertemuan keduanya harus dilakukan tanpa mengedepankan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Psikologis pendukung yang terlalu loyal perlu diredakan agar tidak ada gejolak dalam proses persidangan di MK.

Sponsored

"Keduanya harus bertemu dengan syarat keduanya memiliki posisi yang setara sebagai anak bangsa. Turunnya tensi massa pendukung sangat mungkin hanya bisa dilakukan oleh tokoh utama, Prabowo dan Jokowi," kata Dedi. 

Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin yakin Prabowo berjiwa patriotik. Seorang yang berjiwa patriotik tentu akan sangat bepegang teguh pada kepentingan bangsa dan negara. 

"Oleh karena itu, seorang patriot akan bekerja untuk kepentingan bangsa dan negara," tutur Ujang.