sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Tol Trans Sumatera dibuka fungsional gratis selama mudik lebaran

Pemerintah membuka ruas Tol Trans Sumatera secara fungsional gratis khusus menghadapi mudik lebaran 2019.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Selasa, 07 Mei 2019 22:26 WIB
Tol Trans Sumatera dibuka fungsional gratis selama mudik lebaran

Pemerintah membuka ruas Tol Trans Sumatera secara fungsional khusus menghadapi mudik lebaran 2019. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menggratiskan jalur fungsional Tol Trans Sumatera. 

Kepala Sub Bidang Operasional dan Pemeliharaan II Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Joko Santoso mengatakan saat ini Tol Trans Sumatera jalur Lampung hingga Palembang, Sumatera Selatan, sudah dapat digunakan.

“Pemerintah menargetkan dari Lampung sampai Palembang nyambung. Hasil evaluasi kami dari Bakaheuni (Lampung) sampai Kayu Agung (Sumatera Selatan) itu nyambung," kata dia, Selasa (7/5). 

Akan tetapi, saat ini ruas tersebut masih beroperasi secara fungsional. Ruas tol ini nantinya hanya akan beroperasi dari jam pukul 06.00 WIB pagi hingga 18.00 WIB petang.

“Jam 6 sore semua kendaraan harus keluar dari jalan tol. Sudah bersih,” ujarnya.

Menurut dia, ruas fungsional Tol Trans Sumatera ini akan beroperasi secara gratis bagi pemudik. Sedangkan untuk tanggal beroperasinya akan berlangsung sepuluh hari sebelum dan setelah lebaran.

“Mulai diberlakukan H-10 sampai H+10 setelah lebaran,” ucapnya.

Sinergi

Sponsored

Sementara itu, mudik memang menjadi rutinitas bagi masyarakat Indonesia. Mudik telah menjadi budaya yang terus dilakukan setiap tahunnya. Namun, sepanjang praktik ini dilakukan juga meninggalkan banyak masalah.

Edo Rusyanto menulis buku khusus menyoroti soal ini. Ia menyoroti sinergitas antara lembaga dan pemangku kebijakan dalam bukunya. Ia memandang selama mudik lebaran kerap kali sinergitas itu terjalin dengan baik, hanya saja hal itu berhenti setelah mudik. 

“Kita lihat selama mudik ada kerja sama dengan dinas kesehatan, di mana supir dan pelaku mudik dicek urin dan kesehatannya di jalan, tapi kenapa itu berhenti setelah mudik,” katanya dalam peluncuran bukunya Mudik Minim Polemik, di Hotel Ibis, Jakarta, Selasa (7/5).

Lebih jauh ia mengatakan, salah satu tujuan dari penulisan buku ini adalah untuk mendorong pemerintah untuk membangun sinergitas yang berkelanjutan antar lembaga yang telah berjalan baik selama mudik lebaran.

Ia juga menyampaikan, sinergitas yang terjadi antar lembaga terkait akan mengurangi angka fatalitas kecelakaan yang terjadi di jalanan. 

“Saat ini angka kecelakaan itu 80 per hari. Target kita adalah menurunkan angka fatalitas kecelakaan menjadi di bawah 5%,” katanya.

Sementara itu Pengamat transportasi Darmaningtyas mengatakan sinergitas saat arus mudik lebaran antar lembaga negara dapat dilihat dari posko-posko yang berdiri sepanjang jalur mudik. Ia mengatakan, dalam satu posko ada kerjasama antar lembaga dengan perwakilan dari masing-masing lembaga.

“Di sana ada polisi, Basarnas, BNPT, BMKG, dinas kesehatan dan lainnya, inilah sinergitas itu dan harus dipertahankan setelahnya,” katanya.

Di sela diskusi, Darmaningtyas juga mengatakan, pemudik dengan menggunakan kendaraan roda dua tidak dapat dihindari. Ia mengatakan, hal ini didorong oleh abainya pemerintah daerah terhadap manajemen angkutan umum yang dapat dinikmati oleh konsumen.

“Daerah kurang peduli dengan angkutan umum, itu kenapa mudik dengan sepeda motor tidak dapat dihindarkan,” katanya.

Di lain sisi, Kepala Sub Bidang Operasional dan Pemeliharaan II BPJT Joko Santoso menghimbau agar pemudik tidak menggunakan sepeda motor untuk kendaraan mudik. 

“Sebaiknya tidak menggunakan sepeda motor karena tidak save,” katanya.

Ia mengatakan, saat ini beberapa lembaga negara tengah menyiapkan bus gratis bagi pemudik yang akan pulang ke kampung halamannya.

“Ada 1.200 bus gratis dari Kementerian Perhubungan untuk para pemudik. Ini belum dari BUMN dan yang lainnya,” katanya.

Hanya saja menurut Darmaningtyas, program mudik gratis yang dicanangkan oleh Kementerian Perhubungan mengganggu trafik. Ia mengatakan, hal ini disebabkan karena bus yang disediakan adalah bus pariwisata bukan bus yang memang beroperasi sesuai trayeknya.

“Harusnya yang disewa untuk mudik gratis itu bus Antar Kota Antar Provinsi yang memang trayeknya sudah di situ,” katanya. 

Ia melanjutkan, dengan demikian program mudik gratis ini, akan menyebabkan bus penumpang AKAP menjadi sepi. Hal ini katanya juga akan menambah kapasitas kendaraan di jalanan. 

“Bus angkutan jadi sepi, jalanan dipenuhi bus-bus pariwisata atau bus sewaan lainnya itu,” ujarnya.