logo alinea.id logo alinea.id

Walhi ungkap kualitas udara di Palembang sangat berbahaya

Kualitas udara di Kota Palembang memburuk sejak 11 September 2019 hingga saat ini.

Tito Dirhantoro
Tito Dirhantoro Kamis, 19 Sep 2019 10:38 WIB
Walhi ungkap kualitas udara di Palembang sangat berbahaya

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan, Hairul Sobri, mengatakan kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, semakin buruk. Kini kondisi udara di wilayah itu telah mencapai level bahaya. 

“Kualitas udara di Ibu Kota Provinsi Sumsel itu mencapai level bahaya di atas 350 mikrogram/m3," kata Hairul di Palembang, Sumatera Selatan pada Kamis (19/9).

Sesuai kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), kualitas udara dinyatakan baik jika berada pada level 0-50 mikrogram/m3. Sedangkan pada level 50-150 kondisi udara sedang, 150-250 tidak sehat, 250-350 sangat tidak sehat, dan pada level lebih dari 350 mikrogram/m3 berbahaya.

Menurut Hairul, kualitas udara di Kota Palembang memburuk sejak 11 September 2019 hingga saat ini. Kondisinya pun terus memprihatinkan hingga mencapai level bahaya. Hairul menuturkan, kondisi udara yang demikian perlu diwaspadai karena rentan terhadap kesehatan manusia khususnya saluran pernapasan.

Hairul mengatakan, pemerintah pusat dan daerah harus bertindak cepat menangani ancaman bahaya asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) itu.

“Negara harus bertanggung jawab atas udara bersih dan sehat untuk rakyat. Karenanya, harus melakukan tindakan cepat menanggulangi bencana asap yang mulai mengganggu kesehatan dan berbagai aktivitas masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Hairul menyoroti kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi berulang setiap musim kemarau. Bahkan lokasi kebakaran juga terjadi di tempat yang sama, yakni kawasan konsesi korporasi. 

Menurutnya, pemerintah dalam melakukan penegakan hukum terkait kasus kebakaran dan lahan kurang tegas dan belum memenuhi rasa keadilan. Bahkan upaya hukum yang dilakukan pemerintah tidak memberikan efek jera kepada pemilik dan pengelola lahan yang lalai mencegah terjadinya kebakaran. 

Sponsored

Sejauh ini, polisi baru menetapkan satu perusahaan sebagai tersangka. Sementara dari pihak masyarakat baru 20 orang lebih. "Untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang lebih besar, pemerintah pusat dan daerah diminta melakukan penanggulangan karhutla dan perlindungan terhadap masyarakat terdampak," kata  Hairul.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, Letizia, mengatakan pihaknya menyiagakan tim untuk mengantisipasi terjadinya peningkatan penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Tim yang siaga di puskesmas dan rumah sakit umum daerah disebutnya siap memberikan pelayanan kepada warga yang mengalami gangguan kesehatan. 

Letizia mengimbau warga agar menggunakan masker untuk meminimalkan kontak langsung dengan asap akibat dampak kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah daerah di Sumatera Selatan.

“Selain menggunakan masker, untuk menghindari penyakit ispa dan gangguan kesehatan lainnya akibat udara tercemar asap karhutla, warga diimbau untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat," ujar Letizia. (Ant)