close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Penyerang River Plate Angel Labruna menggiring bola dalam laga derby antara River Plate vs Boca Juniors pada 1950. /Foto Wikimedia Commons
icon caption
Penyerang River Plate Angel Labruna menggiring bola dalam laga derby antara River Plate vs Boca Juniors pada 1950. /Foto Wikimedia Commons
Olahraga
Selasa, 11 Oktober 2022 15:42

Dari Monumental ke Kanjuruhan: Bagaimana laga derby merenggut nyawa 

Rivalitas antara klub sepak bola dan para suporternya kerap berujung tragedi.
swipe

Stadion Monumental, Buenos Aires, Argentina dikepung cuaca dingin pada malam 23 Juni 1968 itu. Laga River Plate vs Boca Juniors baru saja usai di stadion yang jadi kandang River Plate itu. Tak seperti biasanya, laga derby dua klub sepak bola penghuni ibu kota itu berjalan membosankan dengan skor akhir 0-0. 

Para penonton ingin segera pulang. Saat peluit akhir dibunyikan, lautan massa fans Boca memenuhi gerbang (puerta) nomor 12 stadion itu. Lorong sepanjang 80 anak tangga yang menghubungkan stadion dan jalan keluar telah sesak dengan tubuh manusia. Meski begitu, pintu keluar belum juga dibuka.

"Situasinya berbahaya. Beberapa fans membakar bendera River. Yang lain melemparkan petasan, koin, dan gelas urin ke penonton di bagian bawah tribun," ujar Eduardo Amatucci, salah satu saksi tragedi Puerta 12, seperti dikutip dari "Puerta 12: Memorias del horror" yang tayang di Clarin.

Hingga kini, tak ada yang tahu apa atau siapa pemicunya. Namun, sejumlah saksi mata sepakat tragedi Puerta 12 dimulai dari longsor manusia. Seorang penonton mungkin terjatuh dan menimpa penonton lainnya di lorong itu. 

"Ada kepanikan, teriakan-teriakan keras. Ketakutan. Orang-orang di bawah ingin naik. Kami berada di atas satu sama lain dan berada di bawah tekanan mengerikan yang membuat sulit bernapas," ungkap Miguel Durrieu, saksi lain peristiwa itu. 

Ketika tragedi Puerta 12 terjadi, Durrieu baru berusia 14 tahun. Ia berada di sudut tangga dekat pintu keluar Puerta 12. Horor itu membekas di ingatan Durrieu. Sejak itu, ia mengaku tak pernah lagi menonton pertandingan Boca Juniors. 

"Saya, secara ajaib, diselamatkan. Mungkin itu berkat orang-orang yang membantu saya karena saya adalah yang termuda dari semua suporter yang ada ketika itu," kenang Durrieu. 

Teori lainnya mengenai penyebab tragedi itu berkembang. Sejumlah saksi meyakini peristiwa itu terjadi lantaran represi polisi yang brutal. Di pintu keluar, polisi berkuda memukuli penonton dengan tongkat. Fans Boca ketakutan dan berupaya kembali naik ke stadion.

"Para penggemar buang air di cangkir kopi serta membuang air kencing dan kotoran itu ke polisi berkuda yang ada di jalan. Itu menyebabkan represi polisi dan kemudian tragedi," tutur William Kent, mantan presiden River Plate.

Sejarah mencatat sebanyak 71 penggemar menemui ajal dalam tragedi Puerta 12. Penyebabnya beragam: ada yang tewas karena dipukuli, kehabisan nafas, dan ada pula yang terinjak-injak. Sebagian besar korban yang tewas adalah anak muda dan remaja. Usia rata-rata mereka 19 tahun.

"Hari itu saya berada di stand River Plate dan saya keluar lewat pintu sebelah. Sekitar sepuluh blok dari stadion, saya melihat sebuah truk berisi orang-orang yang mati melintas. Mayatnya berwarna ungu," tutur Burgo, salah satu saksi lainnya.

Pemicu dan dalang tragedi itu tak pernah terungkap. Setelah tiga tahun investigasi, tim penyelidik dari pemerintah Argentina tak bisa menemukan satu pun "pelaku kejahatan" dalam peristiwa itu.

Meski begitu, para saksi menyatakan buruknya kondisi stadion turut mempengaruhi jalannya tragedi itu. Di lorong Puerta 12, penerangan sangat minim. Lantai lorong licin dan tak ada pegangan tangan. Tak ada pagar di tengah lorong yang seharusnya jadi pemisah antara rombongan penonton yang masuk dan keluar stadion. 

Dikenal dengan sebutan Superclásico, pertemuan antara Boca Juniors dan River Plate selalu panas. Tak hanya di atas rumput, rivalitas antara suporter kedua klub juga selalu berlangsung sengit. Kerusuhan pascalaga rutin pecah. 

Namun demikian, baru kali itu Superclasico merenggut puluhan nyawa suporter. Digelar kali pertama sejak 1913, pertandingan antara kedua tim biasanya hanya berakhir cedera pada para pemain dan luka-luka kecil pada suporter. 

Polisi berjaga di pintu Puerta 12 Stadion Monumental, Buenos Aires, Argentina pada 23 Juni 1968. /Foto Wikimedia Commons

Tragedi Ibrox

Sekitar tiga tahun berselang, tepatnya pada 2 Januari 1971, tragedi serupa terpentas di Ibrox Stadium di Glasgow, Skotlandia. Stadion itu  kandang Rangers FC. Ketika itu, Rangers tengah menjamu Celtic, klub yang sama-sama menghuni kota terbesar di Skotlandia itu. Pertemuan kedua tim dikenal dengan sebutan "Old Firm" derby. 

Lebih dari 80 ribu penonton hadir di Ibrox Stadium. Laga telah berlangsung hingga 90 menit. Celtic unggul 1-0 lewat winger Jimmy Johnstone. Pada menit akhir pertandingan, penyerang Rangers Colin Stein menyamakan kedudukan. 

Para suporter Rangers yang kadung kecewa mulai meninggalkan stadion sebelum peluit akhir berbunyi. Bagi para suporter fanatik Rangers, kalah di kandang sendiri dalam laga derby ialah hal yang paling memalukan.

Ribuan orang merangsek keluar lewat pintu gerbang bernomor 13. Pada salah satu anak tangga lorong, seorang suporter terjatuh memicu reaksi beruntun yang menyebabkan gelombang longsor suporter lainnya di area pintu keluar.

"Saya mengingat rintihan dan teriakan untuk orang-orang di belakang saya supaya berhenti mendorong. Saya mengingat orang-orang terpental di atas kepala kami ke berbagai arah," kata William Orr, salah satu saksi sekaligus korban peristiwa itu, seperti dikutip dari BBC. 

Bersama rekan-rekannya, Orr tak bisa bergerak selama puluhan menit di lorong itu. Kakinya terpaku ke anak tangga. Hampir tak ada ruang untuk bermanuver. Seiring itu, oksigen terus menipis. Orang-orang mulai pingsan. 

Orr akhirnya bebas setelah lautan massa terurai. Ia kembali naik ke atas stadion. "Saya melihat orang-orang terlentang di lapangan dan mengira mereka mabuk. Namun, ternyata kebanyakan orang-orang itu telah meninggal," kenang Orr. 

Total ada 66 orang suporter tewas dan 200 lainnya luka-luka dalam peristiwa itu. Laporan awal mengindikasikan tragedi itu dipicu rombongan suporter yang mencoba kembali naik ke stadion setelah mendengar Rangers menyamakan kedudukan. Mereka lantas "bertabrakan" dengan gelombang penonton yang ingin keluar stadion. 

Namun, laporan itu dibantah para saksi. William Mason, salah satu korban peristiwa itu, mengingat arus manusia hanya satu arah di lorong pintu 13, yakni ke luar dari stadion. 

Tribun barat Stadion Ibrox yang runtuh pada 1902. /Foto Wikimedia Commons

Mason berusia 17 tahun ketika tragedi Ibrox terjadi. Ia terjebak di antara timbunan tubuh para suporter lainnya selama lebih dari 45 menit sebelum digotong kembali ke dalam stadion. 

"Saya hanya ingin tidur, tetapi pria di sebelah saya menampar muka saya untuk menjaga saya tetap sadar. Saya terus terjaga hingga polisi menyelamatkan saya," kenang Mason. 

Mason lebam-lebam dan pergelangan kakinya patah. Setelah peristiwa itu, ia tak pernah lagi menonton laga Celtic selama 17 tahun. "Saya paham para penyintas dan keluarga korban masih menyimpan luka mendalam hingga kini," ujar dia.

Tak seperti tragedi Puerta 12, tim penyelidik yang dipimpin Sheriff James Irvine Smith menemukan pihak yang bersalah dalam peristiwa itu. Smith memvonis Rangers bersalah karena tak pernah serius membenahi lorong-lorong "angker" di Ibrox Stadium.

"Saya menekankan pandangan (Rangers) menganggap jika persoalan itu dibiarkan dalam jangka waktu lama, pada akhirnya permasalahannya akan hilang... Seolah-olah mereka melakukan sesuatu ketika faktanya mereka tidak melakukan apa-apa," kata Smith. 

Itu memang bukan kali pertama lorong pintu 13 Ibrox merenggut nyawa suporter. Pada September 1961, setidaknya ada 70 orang terluka dan dua tewas karena peristiwa serupa di lorong pintu 13. Pada Januari 1969, 29 orang terluka dalam tragedi sejenis. 

Jauh sebelumnya, tepatnya pada 1902, Ibrox juga pernah jadi saksi tragedi laga derby di tingkat internasional. Ketika itu, Ibrox menjadi venue pertandingan antara Skotlandia dan Inggris. Saat laga tengah berlangsung, bagian belakang tribun sebelah barat stadion itu runtuh. Sebanyak 25 penonton tewas dan 500 lainnya luka-luka. 

Tragedi 1971 mendorong manajemen klub berbenah. Willie Waddell, manajer Rangers ketika itu, memimpin renovasi stadium. Setelah tiga tahun rekonstruksi, kapasitas stadion diperbesar. Kursi-kursi penonton diganti. Akses pintu keluar diperbaiki. 

Penonton memenuhi stadion dalam laga derby antara Roma vs Lazio pada 1979. /Foto Wikimedia Commons

Eksistensi suporter fanatik

Apa pun pemicunya, laga derby memang kerap berujung tragedi. Penyebabnya bervariasi, mulai dari membludaknya jumlah penonton, saling ejek, baku hantam antar suporter, vandalisme pascalaga, bahkan pembunuhan yang direncanakan. 

Dalam "Football violence : 9 bloodiest battles of European football", Will Buckley menulis, persaingan antara tim sepak bola, khususnya di Eropa, kerap meluber hingga ke luar lapangan. Itu tak terlepas dari kehadiran kelompok suporter fanatik (ultra) di barisan penonton. 

"Kebencian yang terakumulasi selama beberapa dekade tak hanya meliputi perbedaan geografi, agama, dan politik. Wajah buruk ekstremisme bahkan lugas di area bangku penonton yang berada di bawah kendali kelompok ultra," tulis Buckley. 

Psikolog olahraga Damian Hughes menjelaskan kenapa laga derby kerap dianggap laga hidup mati bagi kalangan suporter. Ia mengibaratkan klub sepak bola dan pendukungnya sebagai sebuah suku. Di masa lampau, sebuah suku harus mendominasi suku lainnya untuk bertahan hidup. 

"Gagasan untuk melawan rival terdekat kita, baik itu lokal, geografis, atau profesional, semata ditujukan untuk menetapkan urutan kekuasaan bahwa kita lebih superior ketimbang kalian. Itulah kenapa laga derby sejalan dengan kebutuhan primitif kita," terang Hughes.

Bagi suporter fanatik, laga derby memang kerap jauh lebih sakral ketimbang perebutan gelar sekalipun. Dalam laga tersebut, tim dan manajemen dituntut wajib menang. Kekalahan, apalagi yang terjadi di kandang sendiri, tidak dapat diterima.

Itu setidaknya dirasakan Paolo di Canio, pesepak bola legendaris Lazio. Sepanjang karier profesionalnya (1985-2008), di Canio telah merasakan lima "jenis" laga derby di Inggris dan Italia. Namun, tak ada yang sepanas derby antara Lazio dan Roma. 

"Persiapannya gila-gilaan. Yang lain tak penting. Bagi pendukung Lazio dan Roma, kemenangan di derby jauh lebih penting ketimbang posisi akhir di liga," kenang di Canio

Ragam cara digunakan suporter untuk memprotes kekalahan tim kesayangan mereka. Yang paling lazim ialah menginvasi lapangan. Tak mutlak pada laga derby, setidaknya ada puluhan peristiwa invasi ke lapangan oleh para suporter pascalaga yang pernah terekam sejarah pada era sepak bola modern.

Salah satu yang paling fenomenal ialah laga final Piala Skotlandia yang mempertemukan Celtic vs Rangers pada 10 Mei 1980. Ketika itu, Celtic menekuk Rangers lewat gol semata wayang pada masa perpanjangan waktu. 

Suporter Rangers yang murka merangsek ke dalam lapangan. Baku hantam antara fans Celtic dan Rangers pun terjadi. Kerusuhan pun membekap stadion sebelum polisi huru-hara diterjunkan untuk membubarkan kerumunan supoter. 

Di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, peristiwa serupa terjadi, dua pekan lalu. Tak terima Arema Malang dipecundangi Persebaya di rumah sendiri, Aremania "mengamuk". 

Rusuh pecah, gas air mata tumpah. Lebih dari 130 orang tewas. Laga yang semestinya hiburan, jadi "kuburan". 

img
Christian D Simbolon
Reporter
img
Christian D Simbolon
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan