close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Shin Tae-yong. Foto: PSSI
icon caption
Shin Tae-yong. Foto: PSSI
Olahraga
Rabu, 06 September 2023 11:04

Menimbang ulang timnas senior STY

Setahun terakhir, timnas senior lebih banyak menjajal friendly game (bertanding persahabatan) bukan memburu piala kecuali poin FIFA.
swipe

Shin Tae-yong (STY) tak kunjung mengangkat trofi kejuaraan sejak 2021. Akhirnya berhasil mengundang tepuk tangan karena menyabet penghargaan sebagai pelatih terfavorit dari stasiun televisi swasta, sponsor tetap siaran langsung PSSI. Penghargaan di luar lapangan untuk STY itu setelah dua tahun membesut tim nasional Indonesia. Layaknya lawak untuk prestasi yang tak jua diraihnya.

Setahun terakhir, timnas senior lebih banyak menjajal friendly game (bertanding persahabatan) bukan memburu piala kecuali poin FIFA. Minim aksi heroik membanggakan di rumput hijau. Lebih banyak viral karena bisa salaman berjabat tangan, tukaran cendera mata, dan merundukkan diri mirip pengemis minta-minta kaos kondang lawan mereka.

Jeda sembilan bulan, timnas senior baru menjajaki kembali ajang kompetitif. Usai Nadeo Argawinata cs dipurukkan Vietnam dalam semifinal tandang Piala AFF 2022 pada 9 Januari. Dijadwalkan pada 12 Oktober, skuad Merah Putih bertarung versus Brunei di Ronde 1 kualifikasi AFC ke Piala Dunia 2026. Setelah itu, kemungkinan besar melangkah maju dan bergelanggang ke pentas utama Piala Asia 2023.

Sesudah "memanaskan mesin" dengan empat laga persahabatan antara Maret-Juni lalu, STY mempersiapkan timnya menghadapi pertandingan uji coba kontra Turkmenistan, 8 September, di Surabaya. Bagaimana performa Pasukan Garuda sejauh pantauan?

Pantauan Alinea atas empat laga terakhir, dua posisi terlemah paling menonjol: bek kanan serta poros antara gelandang kiri ke sayap kiri. STY terus dipusingkan sektor ini.

Bek Kanan dalam Format Trio

Awalnya, Elkan Baggott yang kidal digeser ke rusuk kanan mengisi formasi trio bek sejajar, hasilnya menang atas Burundi 3-1 (25 Maret). Tatkala Baggott pindah bermain lebih ke dalam guna melapis bek sayap kanan Yacob Sayuri dalam format kuartet belakang, tanding ulang menghadapi Burundi (28 Maret) justru berakhir antiklimaks 2-2.

Baggott tampak lebih nyaman dengan formasi trio. Cocok karena sama dengan pola tradisional di klubnya, Ipswich Town FC. Di mana dia berfokus tampil penuh di Carabao Cup 2023, meraup dua kemenangan dan telah melangkah ke ronde ketiga atau 32 Besar.

Merujuk pada tampilan lainnya, bek kanan Asnawi Mangkualam dan pilihan alternatifnya, Yance Sayuri, belum mencapai standar internasional di atas level ASEAN. Ketika mampat lawan Palestina 0-0 (14 Juni) dan keok dari Argentina 0-2 (19 Juni), kekurangan respons antisipatif di rusuk kanan pertahanan memberi efek tersendatnya organisasi permainan dan terburainya jaring gawang.

Jelas Turkmenistan dan Brunei masih sesuai standar Asnawi dan Sayuri, maka tak ada masalah. Namun jika lolos Ronde 2 AFC Pra-Piala Dunia 2026 lantas bertanding ke putaran final Piala Asia 2023, keduanya perlu dipertimbangkan lagi buat dipilih kembali ke pemusatan latihan apabila belum menunjukkan peningkatan grafik bermain mereka.

Gelandang Kiri ke Sayap Kiri

Pratama Arhan dinaikkan dari bek kiri menjadi gelandang kiri untuk Burundi 25 Maret. Agresivitasnya lumayan, bergairah karena terpacu akibat jarang muncul di Tokyo Verdy.

Selain memiliki kekuatan lemparan ke dalam jarak jauh, dukungan Arhan cukup optimal bagi Stefano Lilpaly. Kendati sudah uzur, Lilpaly suka berlari dan kepintarannya membuka ruang gerak bebas untuk rekannya di atas rerata. Dia selalu membuang ego tiap kali tampil untuk Merah Putih, sehingga utilitasnya sungguh berguna.

Tanding ulang Burundi 28 Maret, STY memundurkan Lilipaly ke gelandang kiri. Juga mengubah pola main 3-4-3 menjadi 4-4-2. Di sini dia keliru meletakkan Dendi Sulistyawan di depan Lilipaly. Dendi kurang luwes memerankan sayap kiri gantung, melainkan lebih gemar menempatkan diri sebagai second striker yang senantiasa merapat ke tengah. Umpan silangnya payah, kecepatannya pun di bawah rerata. Dendi secara naluriah adalah oportunis kotak penalti. Utak-atik STY akibatnya gagal total.

Perubahan komposisi gelandang kiri Ricky Kambuaya dipasangkan bersama sayap kiri Rafael Struick meladeni Palestina 14 Juni menghasilkan kolaborasi lebih hidup. Variasi mereka unik antara bakat alam pegunungan Papua berpadu polesan ilmiah klub Eropa modern. Tapi Struick butuh waktu lama untuk memahami karakter bola-bola khas sodoran Kambuaya. Terlepas dari itu, upaya percobaan SYT pada kedua pemain ini cukup menjanjikan.

Kambuaya ternyata hanya "bunglon" di pohon starting-eleven STY. Lima hari kemudian, Argentina merasakan eksperimen terbaiknya: Ivar Jenner diplot menyokong Struick. Duo belia pemakan keju Belanda tersebut silih berganti mengiriskan gunting tajam mereka ke titik yang dijaga Exequiel Palacios dan Nahuel Molina.

Tanpa mengurangi konsentrasi ke delapan posisi inti lain, perhatian STY untuk mengurus sektor bek kanan serta poros gelandang-sayap kiri menjadi pekerjaan paling memusingkan yang sama sekali belum mampu diatasinya. Belum mendapat trofi kejuaraan, dia beruntung sudah dinobatkan pelatih terfavorit di TV.

img
Arpan Rachman
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan