sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Undian Piala Dunia: Analisis grup per grup untuk Qatar 2022

Ancaman yang lebih besar bagi Prancis akan datang dari Denmark, yang memenangkan sembilan dari 10 pertandingan kualifikasi.

Arpan Rachman
Arpan Rachman Sabtu, 02 Apr 2022 14:24 WIB
Undian Piala Dunia:  Analisis grup per grup untuk Qatar 2022

Hasil undian telah memunculkan intrik politik, bentrokan kelas berat Eropa dan satu grup yang sangat sulit untuk disebut, menurut pengamatan Jonathan Wilson. Menulis tentang sepak bola, termasuk kolom mingguan untuk Observer, Wilson telah mengarang 11 buku, termasuk Inverting the Pyramid, dan merupakan editor The Blizzard.

Grup A
Afrika Selatan pada 2010 adalah satu-satunya tuan rumah Piala Dunia yang gagal lolos dari babak penyisihan grup. Menilai performa tuan rumah kali ini, yang tidak harus bermain di kualifikasi, tidak pernah mudah. Tetapi serangkaian kekalahan telak Qatar dari Portugal, Irlandia, dan Serbia musim gugur lalu, diikuti hasil imbang melawan Azerbaijan menimbulkan kekhawatiran. Namun, mereka memenangkan Piala Asia di bawah pelatih Spanyol mereka, Félix Sánchez, pada 2019.

Mereka akan memulai turnamen melawan Ekuador, yang mencapai Piala Dunia keempat mereka meski kalah enam dari 18 laga kualifikasi.

Tim terbaik dalam Grup A mungkin adalah Belanda, setelah mereka terseret dari krisis yang bergolak selama tujuh tahun terakhir dengan terangkatnya kembali Louis van Gaal, yang membawa mereka ke posisi ketiga di Brasil pada 2014.

Skuad asuhan Aliou Cissé terorganisir dengan baik dan secara fisik mengesankan, Senegal adalah juara Afrika meskipun terkadang berkutat untuk mencetak gol yang ditunjukkan oleh bakat menyerang mereka.

Grup B
Semifinalis di Piala Dunia terakhir, finalis di Euro, dapatkah Inggris melangkah lebih jauh dan memenangkan turnamen untuk pertama kalinya sejak 1966? Tentu saja mereka harus memiliki skuad untuk itu dan dibimbing Gareth Southgate mereka memiliki pemimpin yang berpikiran jernih dan bijaksana yang telah menunjukkan bagaimana lingkungan yang mendukung dapat diciptakan; keraguannya adalah apakah dia cukup cepat untuk bereaksi secara taktis ketika permainan mereka mulai tergelincir.

Amerika Serikat mungkin salah satu dari pot unggulan kedua yang tidak terlalu mengancam, tetapi Inggris gagal mengalahkan mereka dalam dua pertemuan Piala Dunia sebelumnya.

Iran menambahkan unsur intrik politik, dan mengalahkan AS pada tahun 1998. Pelatih asal Kroasia, Dragan Skocic, telah membuat mereka solid lebih spektakuler, 10 pertandingan di fase kualifikasi ketiga hanya menghasilkan 15 gol dan empat kebobolan.

Sponsored

Skotlandia, Wales atau Ukraina akan masuk grup ini setelah mereka menyelesaikan playoff tertunda.

Grup C
Hari-hari ketika Lionel Messi tampil buruk untuk negaranya sambil memenangkan segalanya di klubnya sudah lama berlalu. Sejak menginspirasi Argentina ke Copa América tahun lalu, dia menjadi pemain yang jauh lebih efektif di level internasional. Setelah mengakhiri paceklik trofi selama 28 tahun di Argentina, dapatkah dia mengakhiri karier yang luar biasa dengan Piala Dunia? Asuhan Lionel Scaloni mungkin kekurangan kualitas bintang dari beberapa skuad Argentina sebelumnya tetapi mereka terlihat jauh lebih seimbang.

Argentina akan menghadapi mantan manajernya, Gerardo Martino, yang berpengalaman di Meksiko. Tim Sombrero menyudahi kerja keras kualifikasi dengan hanya dua poin yang diambil dari empat pertandingan melawan AS dan Kanada.

Kemenangan playoff Polandia atas Swedia menunjukkan bahwa mereka lebih dari sekadar bintang Robert Lewandowski ditambah 10 pemain lainnya. Arab Saudi sangat konsisten di bawah Hervé Renard, satu-satunya pelatih yang pernah memenangkan Piala Afrika dengan dua negara berbeda. Mereka kebobolan satu gol dalam 10 pertandingan fase ketiga grup mereka.

Grup D
Tidak ada negara yang memiliki sesuatu yang mendekati kedalaman juara dunia. Pertanyaan bagi Prancis benar-benar adalah tentang kesengsaraan yang disengaja dari pelatih mereka, Didier Deschamps. Tentu saja mudah bagi orang luar untuk meminta hiburan yang lebih seru dan bertanya-tanya apakah sekelompok pemain berbakat ini mungkin tidak menghasilkan sepak bola yang lebih berkesan, tetapi penampilan di Euro terakhir menunjukkan bahwa kehati-hatian Deschamps mungkin kontraproduktif.

Jalel Kadri menggantikan Mondher Kebaier sebagai pelatih Tunisia setelah Cup of Nations dan banyak pasukannya memiliki pengalaman bermain di Prancis. Ancaman yang lebih besar bagi Prancis akan datang dari Denmark, yang memenangkan sembilan dari 10 pertandingan kualifikasi mereka dan telah berkembang menjadi tim yang progresif dan terorganisir dengan baik dengan semangat tim ganas yang ditempa sebagian setelah tumbangnya Christian Eriksen dalam pertandingan pertama mereka di Euro 2020 .

Grup ini akan dilengkapi oleh UEA, Australia atau Peru.

Grup E
Tidak diragukan lagi pertandingan paling menarik di babak penyisihan grup: bentrokan antara juara 2010 dan 2014 saat Spanyol menghadapi Jerman. Setelah dua penampilan buruk di Piala Dunia berturut-turut, ada perasaan bahwa Spanyol sedang bangun kembali di bawah Luis Enrique karena ia telah memperkenalkan gaya yang lebih tepat sasaran.

Bagi Jerman, Piala Dunia terakhir merupakan hal yang memalukan, kekalahan dari Korea Selatan mengakibatkan tersingkirnya tim Panser di babak pertama untuk pertama kalinya dalam 80 tahun. Joachim Löw, yang telah berjuang untuk meremajakan pasukannya, mungkin seharusnya pergi saat itu, tetapi dia bertahan untuk Euro yang mengecewakan. Namun, sejak digantikan oleh Hansi Flick, Jerman tampil luar biasa.

Jepang, yang memiliki banyak pengalaman Eropa dalam skuad mereka, dapat merasa sedikit tidak beruntung pada hasil undian sulit ini dalam penampilan ketujuh berturut-turut di Piala Dunia.

Grup ini akan digenapkan oleh pemenang playoff Kosta Rika versus Selandia Baru.

Grup F
Generasi emas terlihat agak tua sekarang, tetapi Belgia masih lolos tak terkalahkan dari grup mereka. Keraguan terbesar ada di lini belakang, di mana Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld akan memiliki usia gabungan 69 tahun saat Piala Dunia dimulai. Maroko adalah tim keempat yang dibawa Vahid Halilhodzic ke putaran final Piala Dunia, tetapi ini mungkin ketiga kalinya pelatih yang terkenal keras kepala itu kehilangan pekerjaannya sebelum mencapai final.

Meskipun Maroko mungkin terlihat sebagai tim penyerang terbaik di babak penyisihan grup di Piala Negara, pelatih itu berseteru dengan bintang Hakim Ziyech dan sangat tidak populer.

Kroasia diuntungkan dari grup kualifikasi yang relatif mudah, tetapi runner-up empat tahun lalu tetap berbahaya selama Luka Modric menolak menyerah dari gerogotan usia. Satu-satunya penampilan Kanada sebelumnya pada tahun 1986, tetapi skuad ini berada di level yang sama sekali berbeda, dipimpin oleh Alphonso Davies dari Bayern Munich dan Jonathan David dari Lille.

Grup G
Sudah 20 tahun sejak Brasil menjadi pemenang Piala Dunia non-Eropa terakhir dan sekali lagi mereka adalah salah satu dari dua tim non-Eropa yang mungkin secara realistis dianggap mampu untuk sukses. Melewati kualifikasi Conmebol tanpa terkalahkan adalah pencapaian luar biasa dan Tite adalah pelatih yang mengesankan, tetapi Piala Dunia terakhir dan tersingkirnya di perempat final melawan Belgia adalah memori pahit akan bahayanya terlalu bergantung pada Neymar.

Grup ini mungkin paling tepat digambarkan sebagai aneh daripada mengancam. Swiss, sekarang di bawah Murat Yakin, solid tetapi terlalu bergantung pada Breel Embolo, sementara Serbia asuhan Dragan Stojkovic memiliki bakat menyerang di Dusan Tadic, Aleksandar Mitrovic, dan Luka Jovic, tetapi hanya mencatat satu clean sheet dalam delapan kualifikasi mereka.

Kamerun agak acak-acakan, lolos berkat sihir kuno bahwa mereka tidak akan pernah kalah dari Aljazair, dan tim asuhan Rigobert Song sangat bergantung pada gol Vincent Aboubakar.

Grup H
Ini mungkin grup yang paling sulit untuk diteropong. Rasanya seolah-olah ada lebih banyak pertanyaan daripada jawaban tentang Portugal yang, meski finis di bawah Serbia di grup penyisihan, lolos dengan cukup nyaman, mengalahkan Turki dan Makedonia Utara di babak playoff. Tapi ada keraguan atas taktik hati-hati Fernando Santos dan permutasi terbaik dari berbagai bakat menyerang mereka. Uruguay bangkit kembali, setelah memenangkan keempat laga kualifikasi sejak Diego Alonso menggantikan Oscar Tabárez, yang 15 tahun membesut sebagai pelatih akhirnya kehabisan tenaga tahun lalu.

Korea Selatan lolos secara meyakinkan di bawah mantan pelatih Portugal Paulo Bento, menang tujuh kali dan seri dua kali dari 10 pertandingan kualifikasi fase ketiga. Ghana sangat buruk di Piala Afrika dan memuncaki grup kualifikasi mereka hanya berkat penalti yang sangat bisa diperdebatkan melawan Afrika Selatan sebelum mengalahkan Nigeria di playoff mereka dengan agregat gol tandang. Namun kedatangan Otto Addo, awalnya sebagai pelatih sementara, membawa tekad dan ketenangan.

Berita Lainnya