logo alinea.id logo alinea.id

Memutus stres caleg usai gagal dalam pemilu

Liza Marielly Djaprie menilai, penyebab stres yang paling banyak dihadapi para caleg, karena ada perbedaan yang jauh antara ekspektasi.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Jumat, 03 Mei 2019 12:00 WIB
Memutus stres caleg usai gagal dalam pemilu

Sebelum pemilu, rumah sakit di beberapa kota menyediakan ruang khusus untuk calon anggota legislatif (caleg) yang stres karena gagal dalam kompetisi politik. Selain rumah sakit, Padepokan Anti Galau Yayasan Al Busthomi di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat juga kedatangan caleg yang mengalami stres.

Pada 25 April 2019, sudah ada enam caleg yang mendatangi padepokan ini. Mereka berasal dari sejumlah partai yang berkompetisi masuk ke DPRD kota/kabupaten, DPRD provinsi, ataupun DPR RI.

“Sebagian besar yang datang ke sini karena mereka enggak menerima kekalahan yang dialaminya,” kata pimpinan Padepokan Anti Galau, Ustaz Ujang Busthomi saat dihubungi reporter Alinea.id, Kamis (2/5).

Tak hanya caleg, Busthomi pun pernah menerima ketua sebuah partai politik dari Ibu Kota. Namun, ia tidak mau memberi tahu ketua atau anggota dari partai mana yang paling banyak menjadi pasiennnya.

“Kalau saya sebut nanti pada marah, jangan lah,” katanya.

Padepokan ini merupakan tempat pengobatan alternatif yang menggunakan metode zikir, rukiah, dan dimandikan dengan air yang sudah bacakan doa. Pasien yang datang, paling banyak berkunjung selama dua atau tiga kali pengobatan. Sekali pengobatan membutuhkan waktu 30 menit.

Gejala yang dialami pasiennya ialah halusinasi. “Tanda-tandanya sudah mulai bicara dengan semut, kucing,” ujarnya.

Busthomi mengatakan, hingga kini belum ada pasiennya yang mengalami gangguan jiwa parah atau mengancam bunuh diri. Busthomi menuturkan, pengobatannya tak mematok harga. Ia hanya menerima bayaran secara sukarela.

Sponsored

Penyebab

Dihubungi terpisah, psikolog dan praktisi hipnoterapi Liza Marielly Djaprie menilai, penyebab stres yang paling banyak dihadapi para caleg, karena ada perbedaan yang jauh antara ekspektasi dan realitasnya.

“Semakin jauh hubungan antara keduanya semakin stres dia,” katanya saat dihubungi, Kamis (2/5).

Kondisi ini, kata Liza, akan diperparah dengan tidak adanya manajemen emosi yang baik dari caleg itu. Ketiadaan kecerdasan emosional dalam diri seseorang akan memantik reaksi berlebih.

“Komponen kecerdasan emosional itu banyak. Salah satunya, bagaimana kita mengendalikan stres, bagaimana kita bisa bersikap fleksibel menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan,” ujarnya.

Liza melanjutkan, besarnya pertaruhan yang sudah diambil para caleg, ketika ia maju dalam pemilihan legislatif membuat stres itu semakin menumpuk. Terkadang, katanya, meninggalkan pekerjaan. Bahkan hingga menjual asetnya untuk menutupi biaya kampanye.

“Ketika gagal, dia akan kembali terpikirkan soal pekerjaannya yang telah hilang dan utangnya yang menumpuk,” ujar Liza.

Alat peraga kampanye para calon anggota legislatif (caleg). /Antara Foto.

Psikolog dari Universitas Indonesia Rena Masri mengatakan hal yang senada. Ia menuturkan, stres yang dialami para caleg bisa menyebabkan emosi yang tak stabil. Sejak awal, kata dia, mereka sudah mulai stres memikirkan sumber dana.

“Apa aset yang akan dijual. Itu udah jadi trigger di awal,” tuturnya saat dihubungi, Kamis (2/5).

Perubahan emosi yang terjadi pada caleg, katanya, dapat dilihat dari berbagai gejala yang timbul. Pola makan yang berubah, pola tidur tak menentu, konsentrasi yang menurun, hingga pola hidup yang berubah.

“Ada juga yang mengalami insomnia, bahkan hipersomnia di mana dia bisa tidur 23 atau 24 jam sehari,” katanya.

Di sisi lain, Liza menjelaskan, saat pola hidup mulai berubah, hal itu akan berdampak pada emosional individu. Dalam tingkat yang lebih parah, kata dia, mulai menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Sedangkan Rena mengatakan, bila stres itu tidak tertangani dengan baik, ia akan meningkat menjadi depresi. Di tahap depresi ini, seseorang bisa melakukan hal-hal yang di luar kendalinya.

“Jika kemudian sudah mulai depresi begini, sebaiknya anggota keluarga membawa yang bersangkutan pada profesional (psikolog),” ucapnya.

Cara menangani

Anggota KPPS mengecek surat suara saat sesi penghitungan suara Pemilu serentak 2019 di TPS 77 Pondok Jaya, Cipayung, Depok, Jawa Barat, Rabu (17/4). /Antara Foto.

Rena Masri menuturkan, dalam sebuah kompetisi seseorang harus siap menerima dua kemungkinan: kalah atau menang. Selain itu, menurut Rena, para caleg harus juga punya kebutuhan jiwa. Liburan di tengah kesibukan yang dihadapi penting untuk menghindari stres.

“Jangan karena terlalu fokus dengan target yang akan dicapai lalu mengabaikan kebutuhan untuk berekreasi,” ujarnya.

Sementara itu, Liza mengatakan, orang terdekat dari individu yang mengalami stres memiliki peranan penting mengurangi stres. Anggota keluarga atau kerabat dekat, katanya, harus dapat melihat perubahan-perubahan apa yang terjadi dari kerabatnya.

Usai pemilihan anggota legislatif, sejumlah calon anggota legislatif mengalami tekanan jiwa karena gagal.

“Keluarga juga harus punya kemampuan berbesar hati ketika melihat ada anggota keluarganya yang membutuhkan bantuannya,” ujar Liza.

Liza mengatakan, kecewa dan sedih adalah ekspresi yang wajar. Bila sudah mulai merasa stres, akan lebih baik mengajak orang yang dipercaya untuk bercerita mengenai persoalan yang terjadi.

Para caleg juga harus punya rasa besar hati, dengan menyadari tidak semua berjalan sesuai harapannya.

Menurutnya, hal ini termasuk dalam kecerdasan spiritual. Menyadari ada yang lebih kuasa, yang menentukan di luar kuasanya. “Sedih sedikit enggak apa-apa, tapi balik lagi mulai tenang, mulai rileks, mulai ikhlas,” kata Liza.