close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi capres. Alinea.id/Firgie Saputra
icon caption
Ilustrasi capres. Alinea.id/Firgie Saputra
Pemilu
Sabtu, 23 September 2023 06:06

Pertarungan capres di lumbung suara Jawa Barat

Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia menjadi ladang potensial mengeruk suara pada pilpres.
swipe

Tugas berat harus dilakukan Ketua DPD PDI-P Jawa Barat, Ono Surono untuk meningkatkan keterpilihan bakal calon presiden (capres) Ganjar Pranowo di tanah Pasundan. Ia telah menduga, persaingan capres di Jawa Barat bakal sulit bagi partai berlambang banteng moncong putih itu. Ia perlu memastikan, Ganjar harus unggul dari dua kandidat lainnya, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan.

Ono mengaku, sudah mulai memanaskan mesin partai di Jawa Barat, seiring purnatugas Ganjar sebagai Gubernur Jawa Tengah pada awal September 2023. Ono tak menampik, suhu politik nasional yang menghangat berdampak pula pada dinamika di Jawa Barat.

Ia rutin memantau survei elektabilitas bakal capres yang jadi idola warga Jawa Barat untuk Pilpres 2024. Ono cukup optimis. Sebab, sudah ada beberapa lembaga riset yang menunjukkan peningkatan elektabilitas Ganjar di Jawa Barat.

“GP (Ganjar Pranowo) sudah peringkat ke-2 di Jawa Barat dan peringkat satu nasional,” ujar Ono kepada Alinea.id, Rabu (20/9).

Strategi

Bakal calon presiden (capres) PDI-P Ganjar Pranowo (tengah, kanan) sedang berjalan bersama Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto (tengah) dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka (tengah, kiri) di antara kerumunan massa di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (22/7/2023)./Foto Instagram Ganjar Pranowo/@ganjar_pranowo

Menurut Ono, Ganjar masih berpeluang mengejar ketertinggalan elektabilitas di Jawa Barat. Rasa optimisnya itu didasarkan lantaran sejak diumumkan sebagai capres PDI-P pada April 2023, tren elektabilitasnya terus merangkak naik.

“GP itu baru April (2023) diumumkan sebagai capres, sehingga popularitasnya pun masih rendah dibanding PS (Prabowo Subianto) dan AB (Anies Baswedan),” kata dia.

“Sejak diumumkan (sebagai capres) sampai sekarang, elektabilitas terus naik, seiring dengan rakyat Jawa Barat mulai mengenal GP.”

Masih ada waktu empat bulan, kata Ono, untuk mengejar elektabilitas Prabowo dan Anies di Jawa Barat. “Tapi yang perlu diperhatikan pada setiap pemilu, kondisi survei yang naik konstan, peluang menangnya tinggi daripada yang punya tren turun, seperti yang terjadi pada PS dan AB,” ucap Ono.

Ono mengatakan, Ganjar bakal meningkatkan elektabilitas di Jawa Barat dengan menyasar pemilih muda dan perempuan. Berdasarkan hasil survei lembaga riset, menurut Ono, Ganjar merupakan capres idola anak muda dan perempuan.

“GP ini berbeda dengan Jokowi,” katanya.

“GP lebih mengerti anak muda, lebih disukai ibu-ibu. Lebih juga diterima oleh teknokrat atau akademisi dan para pemilih berbasis Islam.”

Ono menuturkan, Ganjar bakal fokus menawarkan pembangunan bagi masyarakat Jawa Barat bagian selatan, yang masih minim dibandingkan Jawa Barat bagian utara. “GP sudah statement akan melanjutkan Perpres Nomor 87 Tahun 2021 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Rebana dan Kawasan Jawa Barat Bagian Selatan,” ujar Ono.

Ono melanjutkan, Ganjar akan berupaya menang di 18 kabupaten/kota dari total 27 kabupaten/kota di Jawa Barat. “Pokoknya akan ada kejutan di Jawa Barat,” ucapnya.

Bahkan, Ono berani berkata Ganjar bakal menang di kabupaten/kota yang diprediksi kuat menjadi basis pemenangan Prabowo. Salah satunya, dengan menggandeng sejumlah tokoh di Jawa Barat.

"Tokoh-tokoh Jawa Barat sudah tergabung dalam relawan-relawan GP, mulai dari seniman atau budayawan, tokoh agama, anak muda, dan ibu-ibu," kata Ono.

Alinea.id sudah berusaha menghubungi Ketua DPW Partai NasDem Jawa Barat Saan Mustofa dan Ketua Bidang Pembinaan Wilayah (BPW) Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat DPP PKS Achmad Ru’yat—sebagai perwakilan Koalisi Perubahan yang mengusung Anies Baswedan sebagai capres—untuk menanyakan persaingan sengit pertarungan capres di Jawa Barat dalam Pilpres 2024. Namun, tak ada respons.

Di samping itu, Alinea.id juga sudah menghubungi Sekretaris DPD Partai Gerindra Jawa Barat, Abdul Harris Bobihoe, sebagai perwakilan Koalisi Indonesia Maju yang mengusung Prabowo Subianto sebagai capres. Namun juga tidak merespons.

Menteri Pertahanan sekaligus bakal capres Koalisi Indonesia Maju, Prabowo Subianto (kanan) bersama Presiden Joko Widodo berfoto bersama di kawasan PT. Pindad, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (19/9/2023)./Foto Instagram Prabowo Subianto/@prabowo

Jawa Barat, sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia, menjadi salah satu wilayah yang potensial untuk mengeruk suara dalam Pilpres 2024. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) 2022, jumlah penduduk di Jawa Barat mencapai 49,4 juta jiwa.

Sedangkan merujuk daftar pemilih tetap (DPT) yang dikeluarkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih di Jawa Barat mencapai 35.714.901 orang dari 27 kabupaten/kota, 627 kecamatan, dan 5.957 desa/kelurahan.

Sementara berdasarkan hasil survel Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 3-9 Agustus 2023, Prabowo Subianto menempati urutan elektabilitas teratas di Jawa Barat, dengan 39,2%. Disusul Anies Baswedan 29,6% dan Ganjar Pranowo 25,2%.

Peluang

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak memandang, palagan Jawa Barat merupakan tempat yang paling dikhawatirkan Ganjar dan PDI-P menjadi sumber kelemahan terbesar di Pilpres 2024. Sebab, konstituen di Jawa Barat bakal bermuara mendukung Prabowo atau Anies, jika skema dua putaran terjadi.

Zaki melihat, bila pilpres diadakan dua putaran, di Jawa Barat Ganjar bakal kalah telak dari Prabowo. Karena, jika Anies kalah di putaran pertama, pemilih mantan Gubernur DKI Jakarta itu akan bermigrasi ke Prabowo. Dampaknya, bisa menggerus suara Ganjar secara nasional.

“Potensi suara Anies gabung dengan Prabowo itu tinggi, sehingga putaran kedua kalau pendukung Anies ke Prabowo ini menjadi ancaman serius buat PDI-P,” ujar Zaki, Selasa (19/9).

Merujuk hasil Pemilu 2019 di Jawa Barat, Zaki mengkalkulasi, gabungan suara PDI-P dan PPP di Jawa Barat hanya mengumpulkan kurang-lebih 3,5 juta. Koalisi pengusung Anies-Muhaimin Iskandar, yakni Partai NasDem, PKB, dan PKS, terkumpul 7 juta suara.

“Sementara Golkar, Gerindra, dan PAN (partai pengusung Prabowo) 16 juta suara. Itu jomplang banget buat Ganjar yang hanya 3,5 juta suara," kata Zaki.

Perlu diingat pula, pada Pilpres 2019, meski pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin menang secara nasional, tetapi kalah di Jawa Barat dari pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Saat itu, pasangan Prabowo-Sandi memperoleh 16.077446 suara, sedangkan Jokowi-Ma’ruf 10.750.568 suara. Prabowo-Sandi juga unggul di 21 dari 27 kota/kabupaten di Jawa Barat.

Kekalahan di Jawa Barat, menurut Zaki, bisa menggerus hasil kemenangan Ganjar di Jawa Tengah dan Jawa Timur secara signifikan. Maka, wajar nama mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, sempat santer dikabarkan bakal menjadi calon wakil presiden (cawapres) Ganjar.

"Karena memang bagi PDI-P, sangat mengkhawatirkan," katanya.

Zaki menilai, bagi PDI-P, wilayah Jawa Barat sangat perlu diimbangi agar tak terlalu kalah telak dari Prabowo, jika pilpres berlangsung dua putaran. Karenanya, butuh sosok sekaliber Ridwan Kamil, entah sebagai cawapres atau tim sukses pemenangan.

Bakal calon presiden (capres) Koalisi Perubahan, Anies Baswedan, saat berpidato di depan kader, relawan, dan simpatisan PKS di Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (2/9/2023)./Foto Instagram Anies Baswedan/@aniesbaswedan

Lebih jauh, Zaki melihat, PDI-P juga sedang dilema dalam memilih cawapres untuk mengamankan suara di Jawa Timur. Di sisi lain, jika memilih figur yang identik dengan segmen pemilih di Jawa Timur, Ganjar dan PDI-P bakal keteteran menghadapi ancaman kekalahan di Jawa Barat.

“Elektabilitas Ganjar itu rendah di Jawa Barat,” ujarnya.

“Kalau memilih Mafmud MD atau Khofifah (Indar Parawansa) itu mungkin bisa mendongkrak suara santri di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tapi, Jawa Barat habis.”

Pengalaman kekalahan PDI-P di Jawa Barat dalam pertarungan pemilu dan pilkada, menurut Zaki, memerlukan upaya jalan mendaki untuk merebut pemilih. "Apalagi PPP kurang membantu. PDI-P jelas single fighter," ucap Zaki.

Terpisah, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cecep Darmawan berpendapat, persaingan kontestan capres di Jawa Barat bakal berlangsung sengit. Penyebabnya, kekuatan politik di Jawa Barat relatif tidak ada yang dominan. Selain itu, pemilih di Jawa Barat relatif tak ideologis dan mudah berubah pilihan.

“Jawa Barat itu diperebutkan jadi tempat pendulang suara oleh setiap calon presiden karena daerah yang lumbung suaranya paling tinggi se-Indonesia,” kata Cecep, Senin (18/9).

“Konstituennya itu seperti swing voter. Mereka sangat bergantung pada situasi di mana angin berlabuh. Tidak terkait dengan partai, tidak terkait oleh orang. Tapi terkait pada kecenderungan atau tren.”

Menurut Cecep, selama edisi pemilu sejak era reformasi, pemilih di Jawa Barat kerap memberikan kejutan, dengan menunjukkan hasil yang berbeda-beda. “Sebagian besar pemilih Jawa Barat relatif sangat cair. Pemilihnya lebih melihat pada figur dan keberpihakan di Jawa Barat seperti apa, ketimbang melihat ideologi atau kepartaiannya,” kata dia.

Cecep berpendapat, rancangan program yang berorientasi pada pembangunan Jawa Barat bisa menjadi salah satu faktor untuk menarik pemilih. Sejauh ini, katanya, masih banyak wilayah di Jawa Barat yang belum tersentuh pembangunan yang merata, terutama di bagian selatan.

“Coba buat program yang lebih elegan, demokratis, dan menguntungkan Jawa Barat,” ucapnya.

“Pembangunan untuk Jawa Barat rasanya kurang begitu adil dibanding dengan beberapa daerah di provinsi lain yang penduduknya banyak.”

img
Kudus Purnomo Wahidin
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan