sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Strategi raih suara melalui sepucuk surat dari SBY

SBY juga menyebut, Indonesia harus belajar dari pengalaman sejarah di seluruh dunia, karena banyak negara yang bernasib tragis dan bubar.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 08 Apr 2019 19:21 WIB
Strategi raih suara melalui sepucuk surat dari SBY

Sepucuk surat beredar usai kampanye akbar calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (7/4).

Surat itu berasal dari Ketua Umum Partai Demokrat sekaligus Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. Menariknya, surat tersebut berisi kritik pedas SBY terhadap kampanye akbar Prabowo-Sandi yang dinilai tak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif.

“Cegah demonstrasi apalagi "show of force" identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuasa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrem,” tulis SBY di dalam surat yang ditulisnya pada 6 April 2019.

SBY juga menyebut, Indonesia harus belajar dari pengalaman sejarah di seluruh dunia, karena banyak negara yang bernasib tragis, pecah dan bubar selamanya.

Surat tersebut ditujukan kepada tiga petinggi partai politik berlambang mirip logo Mercedes-Benz, yakni Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat Amir Syamsuddin, Wakil Ketua Umum Syarief Hasan, dan Sekretaris Jenderal Hinca Panjaitan.

Tepis keretakan 

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi tak ambil pusing dengan isi surat itu. Juru bicara BPN Prabowo-Sandi Suhendra Ratu Prawiranegara mengatakan, surat tersebut hanya sebatas pertimbangan SBY saat menerima jadwal acara, sebelum acara kampanye akbar dilaksanakan.

“Sudah ada penjelasan dari Sekjen Partai Demokrat, Hinca Panjaitan. Setelah Pak SBY saksikan acara kampanye akbar yang dihadiri oleh jutaan masyarakat, ternyata identitas yang muncul justru identitas Pancasila yang berdasar pada Bhinneka Tunggal Ika,” kata Suhendra saat dihubungi reporter Alinea.id, Senin (8/4).

Suhendra menuturkan, dalam kampanye akbar itu, peserta yang beragama Islam melakukan salat subuh berjemaah. Hal ini, kata dia, sesuai dengan kewajiban menurut ajaran Islam dan sesuai sila pertama Pancasila. Suhendra juga menyebut, umat beragama lainnya berdoa sesuai keyakinan masing-masing.

Pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kedua kiri) dan Sandiaga Uno (kanan) bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kedua kanan) dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (kiri) menyapa pendukungnya saat kampanye akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (7/4). /Antara Foto.

“Semua berbaur, menyatu tanpa sekat-sekat pembatas. Justru dalam kampanye ini terasa sangat pengamalan Pancasila oleh peserta kampanye,” ujar Suhendra.

Menurutnya, kampanye akbar Prabowo-Sandi bisa dijadikan contoh kampanye-kampanye pihak lain, tanpa harus mendatangkan artis-artis dan tanpa ada musik-musik sebagai hiburan sebagai strategi mengumpulkan massa.

Ia mengatakan, kampanye akbar Prabowo-Sandi bisa memberikan pesan moral yang tinggi untuk bangsa, dan memberikan nilai edukasi dalam berdemokrasi. Suhendra pun menepis isu yang mengatakan, akibat surat SBY tersebut koalisi Prabowo-Sandi tidak solid.

“Tidak benar. Koalisi Adil Makmur sangat solid dan harmonis,” katanya.

Narasi agama

Dihubungi secara terpisah, Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai, surat SBY menunjukkan adanya perbedaan pemikiran yang cukup tajam antara SBY dan Prabowo.

“Ada perbedaan mazhab politik yang dianut SBY dan Prabowo. Surat tersebut menunjukkan sikap kubu 02 yang suka menggunakan agama untuk propaganda politik,” tutur Karyono saat dihubungi, Senin (4/8).

Karyono mengatakan, pernyataan SBY soal “divided nation” (bangsa yang terbelah), bisa saja menjadi kenyataan, lantaran ruang publik sudah dijejali isu SARA—suku, agama, ras, dan antargolongan—sejak Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 lalu.

Ia mengamati, dari kampanye akbar Prabowo-Sandi itu, tema kampanye yang mengangkat agama menjadi tema pokok yang menggeser visi dan misi. Ia juga memandang, kelompok Islam konservatif lebih memilih Prabowo daripada Joko Widodo, karena elite kelompok Islam konservatif dekat dengan Prabowo.

“Kedekatan Prabowo dengan kelompok Islam memang terjadi sudah sejak lama, sejak Prabowo masih berada di TNI,” ucap Karyono.

Berita Lainnya