Iran kembali menjadi sorotan dunia setelah gelombang demonstrasi berlarut-larut melanda negara tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Protes yang awalnya dipicu lonjakan inflasi dan tekanan ekonomi kini meluas menjadi tuntutan politik, termasuk desakan agar Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mundur dari jabatannya.
Namun jauh sebelum demonstrasi terbaru ini pecah, Iran telah lama dikenal sebagai “lumbung” aktivis dan pemikir politik berhaluan reformis. Mereka secara konsisten mendorong perubahan sosial dan politik melalui jalur institusional, wacana publik, maupun gerakan sipil—meski kerap berhadapan dengan represi negara.
Berikut lima tokoh reformis Iran terkemuka yang diakui atas pendirian politik serta upaya mereka mendorong reformasi di dalam sistem Republik Islam Iran, dikutip dari afsa.org:
Mohammad Khatami
Mantan Presiden Iran (1997–2005) ini kerap dianggap sebagai ideolog utama gerakan reformasi Iran. Kepemimpinannya ditandai dengan gagasan “dialog antarperadaban” serta upaya memperluas keterbukaan politik dan kebebasan sipil.
Mir-Hossein Mousavi
Seniman dan arsitek yang menjabat sebagai Perdana Menteri terakhir Iran (1981–1989). Ia menjadi kandidat reformis utama dalam Pilpres 2009 yang kontroversial dan memicu Gerakan Hijau. Sejak 2011, Mousavi berada dalam tahanan rumah.
Masoud Pezeshkian
Dokter bedah jantung dan politisi reformis yang terpilih sebagai Presiden Iran pada Juli 2024. Sebelumnya, ia menjabat Wakil Ketua Parlemen dan dikenal vokal memperjuangkan kebijakan sosial yang lebih inklusif.
Saeed Hajjarian
Tokoh kunci dan ahli teori di Front Partisipasi Islam Iran, salah satu partai reformis utama. Hajjarian adalah seorang ilmuwan politik dan mantan pejabat intelijen yang dikenal karena kontribusi intelektualnya terhadap gerakan reformis.
Mostafa Tajzadeh
Politisi reformis terkemuka dan Mantan Wakil Menteri Dalam Negeri, dikenal karena advokasinya yang vokal untuk reformasi demokrasi dan hak-hak sipil. Ia telah menghabiskan beberapa tahun di penjara karena aktivitas politiknya.