Amerika Serikat meluncurkan langkah strategis untuk mengurangi dominasi China dalam industri mineral kritis, komoditas penting yang digunakan dalam berbagai produk mulai dari ponsel pintar hingga persenjataan modern.
Upaya tersebut ditandai dengan penyelenggaraan Critical Minerals Ministerial pertama oleh Departemen Luar Negeri AS pada Rabu, 4 Februari di Washington. Pertemuan ini dihadiri oleh sejumlah negara dan organisasi, termasuk Inggris, Uni Eropa, Jepang, India, Korea Selatan, Australia, serta Republik Demokratik Kongo.
Melansir dari BBC, Kamis (5/2), dalam pertemuan tersebut, para delegasi membahas ketersediaan dan akses terhadap mineral penting seperti rare earth, lithium, dan bahan baku lain yang krusial untuk industri semikonduktor dan baterai kendaraan listrik. Selama ini, aktivitas penambangan dan pengolahan mineral kritis tersebut masih didominasi oleh China.
Dalam pernyataan resmi pemerintah AS, Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio tidak secara langsung menyebut China. Namun, Vance menyinggung adanya pasokan mineral dari luar negeri yang membanjiri pasar global sehingga menyulitkan negara lain untuk memperoleh pembiayaan produksi.
“Pasokan asing membuat harga mineral jatuh terlalu rendah dan menghambat investasi di negara-negara yang sebenarnya memiliki cadangan,” ujar Vance.
Ia menambahkan, pemerintah AS berencana menggunakan kebijakan tarif untuk mencegah harga mineral kritis jatuh terlalu rendah agar iklim investasi tetap terjaga.
Sementara itu, David Copley, asisten khusus Presiden Donald Trump, mengatakan pemerintah AS siap menggelontorkan dana besar ke sektor pertambangan.
“Amerika Serikat berniat mengerahkan ratusan miliar dolar modal ke sektor pertambangan untuk mendorong proyek-proyek baru,” kata Copley.
Ia mengungkapkan, investasi telah disalurkan ke sejumlah perusahaan, termasuk MP Materials yang memproduksi magnet rare earth dan Lithium Americas, produsen bahan utama baterai isi ulang.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer juga menyatakan bahwa AS, Jepang, dan Komisi Eropa tengah menyusun kebijakan perdagangan terkoordinasi guna mengantisipasi risiko gangguan pasokan mineral penting.
“Kami sedang mengembangkan mekanisme dan kebijakan perdagangan bersama agar akses terhadap mineral strategis tetap terjamin,” ujarnya.
Menanggapi langkah tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan negara-negara seharusnya tetap berpegang pada prinsip ekonomi pasar dan aturan perdagangan internasional, serta memperkuat dialog dan komunikasi.
Langkah AS ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengurangi ketergantungan terhadap China, yang selama ini memiliki pengaruh besar dalam rantai pasok mineral kritis global. China diketahui mewajibkan perusahaan domestik memperoleh izin pemerintah sebelum mengekspor rare earth ke luar negeri.
Pembatasan ekspor yang diperketat pada Oktober lalu sempat berdampak signifikan terhadap industri AS, meskipun sebagian kebijakan tersebut kemudian dilonggarkan. Para analis menilai China masih menggunakan dominasinya sebagai alat tawar dalam negosiasi dagang dengan Amerika Serikat.
Sebelumnya, pada Senin (2/2), Presiden Donald Trump mengumumkan pembentukan cadangan mineral kritis nasional bernama Project Vault dengan nilai hampir US$12 miliar.
Langkah ini mendapat sambutan positif dari pelaku industri. Presiden Advanced Magnet Lab, Wade Senti, menilai kebijakan tersebut sangat penting.
“Sangat krusial bagi Amerika Serikat untuk mengambil langkah tegas dalam mengamankan pasokan berbagai jenis mineral dan rare earth,” ujarnya.
Pertemuan menteri tersebut berlangsung di hari yang sama dengan percakapan telepon antara Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping, yang oleh Trump disebut berlangsung sangat positif.