Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, menolak rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengaku akan mengirim kapal rumah sakit militer ke wilayah Arktik tersebut. Nielsen meminta Trump berdiskusi secara langsung, bukan membuat pernyataan sepihak di media sosial.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan akan mengirimkan berisi perlengkapan medis untuk menjaga warga Greenland. Ia menuding bahwa banyak orang di pulau itu sedang sakit dan tidak dirawat di sana. Ia bahkan menambahkan bahwa kapal tersebut sudah dalam perjalanan.
Unggahan tersebut turut menampilkan gambar ilustrasi atau gambar berbasis AI yang menyerupai USNS Mercy, salah satu dari dua kapal rumah sakit yang dioperasikan Angkatan Laut Amerika Serikat. Namun, belum ada kejelasan apakah Trump benar-benar merujuk pada kapal tersebut atau apa yang melatarbelakangi keputusannya.
Menyanggapi hal itu, Nielsen menyatakan penolakan secara tegas.
“Ini akan menjadi tidak, terima kasih dari kami,” ujar Nielsen dikutip dari BBC, Senin (23/2).
Ia menekankan bahwa Greenland memiliki sistem layanan kesehatan masyarakat yang memberikan pengobatan gratis bagi seluruh warga. Nielsen juga menambahkan bahwa Greenland tetap terbuka untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat, tetapi komunikasi harus dilakukan secara langsung.
“Bicaralah dengan kami daripada hanya membuat ledakan acak di media sosial,” kata Nielsen.
Pernyataan Trump muncul tak lama setelah Komando Arktik Gabungan Denmark mengevakuasi seorang awak kapal selam Amerika Serikat yang membutuhkan perawatan medis darurat di dekat Nuuk, ibu kota Greenland. Namun, belum ada konfirmasi bahwa unggahan Trump berkaitan langsung dengan insiden tersebut.
Sebelumnya, Trump memang telah lama menyatakan ketertarikannya terhadap Greenland. Januari lalu, ia mengakui tidak akan mengambil alih pulau itu dengan kekuatan militer, setelah sempat menolak mengesampingkan opsi tersebut.
Ia kemudian mengumumkan adanya kerangka kerja untuk kesepakatan di masa depan antara Amerika Serikat dan Greenland, meski rincian kesepakatan itu belum dipublikasikan. Di sisi lain, Denmark dan sekutu NATO telah menegaskan tidak akan melepas kedaulatan Greenland.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance awal bulan ini menyatakan bahwa negara-negara Eropa disebut Bersedia membuat banyak akomodasi, meski tidak dijelaskan lebih lanjut maksud dari pernyataan tersebut.
Penolakan terbuka dari pemerintah Greenland menegaskan bahwa isu kerja sama dengan Amerika Serikat, terutama yang menyangkut kedaulatan dan tata kelola internal, tetap menjadi persoalan sensitif bagi wilayah otonom tersebut.