Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa setiap serangan atau ancaman terhadap negaranya tidak akan dibiarkan tanpa respons. Pernyataan itu disampaikan setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di bagian selatan Iran.
Dalam unggahan di platform X pada Rabu (10/6) dini hari, Araghchi menilai tindakan Washington menunjukkan bahwa Amerika Serikat masih berupaya menekan Iran meski situasi di kawasan tengah memanas.
"Meskipun mengalami kekalahan di medan perang, Amerika Serikat memilih untuk menguji tekad kami," tulis Araghchi seperti dilansir dari Anadolu Ajansi, Rabu (10/6).
Menurut dia, Iran tidak akan tinggal diam terhadap setiap ancaman maupun serangan yang ditujukan kepada negaranya.
"Angkatan bersenjata kami yang kuat tidak akan membiarkan satu pun serangan atau ancaman tanpa jawaban," lanjutnya.
Araghchi juga memperingatkan Amerika Serikat agar meninggalkan kawasan Timur Tengah jika ingin menjaga keamanannya.
"Tinggalkan kawasan kami jika Anda ingin aman," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sejarah Teluk Persia telah menunjukkan berbagai konsekuensi yang dihadapi pihak luar yang mencoba mencampuri urusan kawasan tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah sejumlah media Iran melaporkan terjadinya ledakan dan serangan proyektil di beberapa wilayah Provinsi Hormozgan, termasuk Pulau Qeshm, Sirik, Minab, dan Jask.
Sistem pertahanan udara Iran juga dilaporkan diaktifkan di Bandar Abbas, Qeshm, dan Sirik untuk merespons situasi tersebut. Televisi pemerintah Iran kemudian melaporkan bahwa gelombang serangan yang terjadi mulai mereda dan kondisi di sejumlah wilayah telah kembali hampir normal.
Sebelumnya, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pasukan AS telah memulai serangan yang disebut sebagai tindakan membela diri terhadap Iran.
Menurut CENTCOM, operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas insiden jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat Amerika Serikat dalam peristiwa sebelumnya.
Serangan terbaru ini menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah yang dalam beberapa pekan terakhir diwarnai konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, meski berbagai upaya diplomatik masih terus dilakukan untuk mencegah eskalasi yang lebih luas.