Rusia dan Ukraina saling melontarkan tuduhan dalam sidang Dewan Keamanan PBB terkait serangan besar Rusia ke Kyiv pada 23-24 Mei 2026 yang menewaskan dan melukai puluhan warga sipil.
Pertemuan tersebut digelar atas permintaan Ukraina setelah Rusia melancarkan serangan rudal dan drone berskala besar ke ibu kota negara itu.
Dilansir dari Anadolu Ajansi, Jumat (29/5), Duta Besar Ukraina untuk PBB, Andriy Melnyk, menyebut serangan tersebut sebagai salah satu yang paling menghancurkan sejak invasi penuh Rusia dimulai pada 2022.
“Malam 23 hingga 24 Mei di Kyiv, kota kelahiran saya, diserang dengan serangan yang tanpa berlebihan bisa dibandingkan dengan Armageddon,” kata Melnyk dalam sidang Dewan Keamanan PBB.
Menurut data Ukraina, Rusia meluncurkan puluhan rudal jelajah dan balistik, termasuk rudal Kinzhal dan Zircon, serta lebih dari 600 drone. Melnyk mengatakan lebih dari 100 orang terluka dan sedikitnya empat orang tewas akibat serangan tersebut.
Ia menuduh Rusia melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan karena menyerang bangunan permukiman, sekolah, fasilitas budaya, dan gedung pemerintah.
Melnyk juga membantah klaim Rusia yang menyebut serangan itu sebagai balasan atas serangan Ukraina terhadap gedung perguruan tinggi dan asrama di Starobilsk, wilayah Luhansk yang dikuasai Rusia.
Menurutnya, tuduhan tersebut merupakan cerita palsu dan Ukraina hanya menyerang target militer yang sah sesuai hukum humaniter internasional.
Sementara itu, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, menuding Kyiv berusaha mengalihkan perhatian dari serangan yang disebutnya menewaskan 21 orang di Starobilsk.
“Tragedi ini merenggut nyawa 21 orang, terutama perempuan muda, dan 44 lainnya terluka,” kata Nebenzya.
Ia bahkan membandingkan serangan tersebut dengan tindakan pasukan Nazi pada Perang Dunia II. Nebenzya juga menambahkan serangan balasan Rusia hanya menargetkan pusat komando militer, pangkalan udara, dan fasilitas industri pertahanan Ukraina.
“Serangan terhadap infrastruktur sipil di Ukraina tidak direncanakan dan tidak dilakukan,” ujarnya.
Rusia juga memperingatkan akan terus menyerang target yang berkaitan dengan militer Ukraina.
Di sisi lain, Asisten Sekretaris Jenderal PBB Khaled Khiari mengatakan serangan Rusia ke Kyiv melibatkan hingga 90 rudal jarak jauh dan sekitar 600 drone, termasuk rudal balistik jarak menengah Oreshnik.
Menurut PBB, sedikitnya lima orang tewas dan 112 lainnya terluka di berbagai wilayah Ukraina, dengan Kyiv menjadi daerah yang mengalami kerusakan paling parah.
PBB juga melaporkan lebih dari 30 situs budaya rusak akibat serangan tersebut, sementara puing-puing serangan turut menghantam fasilitas diplomatik dan gedung milik PBB di ibu kota Ukraina.