close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Foto Instagram Jokowi.
icon caption
Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Foto Instagram Jokowi.
Politik
Jumat, 03 Juli 2026 06:29

Jokowi bangun basis politik keluarga lewat PSI

Pengamat menilai blusukan Jokowi terkait penguatan PSI dan Gibran, serta berpotensi memicu dinamika baru dengan Prabowo jelang 2029.
swipe

Manuver politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, yang kembali aktif blusukan ke berbagai daerah dinilai sebagai langkah politis yang tidak terpisahkan dari upaya memperkuat dinasti politiknya. Strategi ini diduga kuat bertujuan mendongkrak elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang saat ini dipimpin oleh putra bungsunya, Kaesang Pangarep.

Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sukron Kamil, menilai aksi blusukan tersebut merupakan upaya Jokowi untuk menjaga pengaruh dan reputasinya di panggung elite politik. Menurutnya, Jokowi ingin mengikuti jejak para pendahulunya, seperti Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang tetap menjadi penentu utama dalam konfigurasi politik nasional meski sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden.

“Jokowi sedang berusaha membangun dinasti, sekaligus memperluas pengaruh dan elektabilitas PSI. Jokowi itu punya role model dari para mantan presiden sebelumnya,” kata Sukron kepada Alinea.id, Kamis (2/7).

Selain untuk menyokong PSI, Sukron menduga blusukan ini juga menjadi investasi politik demi menjaga elektabilitas Gibran Rakabuming Raka agar tetap relevan sebagai figur politik pada Pilpres 2029. Dengan popularitas yang terjaga, Gibran dinilai akan tetap memiliki nilai tawar tinggi di hadapan kandidat lain, terutama jika tidak lagi dipasangkan dengan Prabowo Subianto pada periode berikutnya.

Namun, manuver agresif Jokowi di daerah tampaknya mulai mengusik kenyamanan Presiden Prabowo Subianto. Sinyal ketidaknyamanan itu, menurut Sukron, tersirat dari pernyataan Prabowo dalam acara Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (26/6/2026). Saat itu, Prabowo menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengganggu pemimpin yang terpilih, meskipun ia sendiri sempat menelan kekalahan hingga empat kali dalam kontestasi pilpres.

“Saya kira itu eksplisit, dia kurang nyaman dengan Jokowi yang mulai kampanye. Sementara elektabilitas Prabowo sedang turun karena pernyataannya dan kinerja pemerintahannya yang dinilai kurang bagus. Kalau Gibran dan PSI menguat, itu akan menjadi basis keluarga mereka dalam politik 2029,” ujar Sukron.

Di sisi lain, Sukron memprediksi ambisi Jokowi untuk membesarkan PSI hanya akan memperpanjang daftar partai politik berkarakter feodal di Indonesia. Menurutnya, motif pengembangan partai tersebut cenderung condong sebagai kendaraan politik keluarga, bukan bertumpu pada penguatan kelembagaan partai.

“Dan memang partai kita itu tidak berbasis meritokrasi dan prinsip-prinsip modernitas. Sehingga di balik kekacauan itu, termasuk Prabowo, terlalu dihantui oleh kekhawatiran bahwa kekuasaannya terancam,” ujarnya.

img
Purnomo Dwi
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan