sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pengamat: Turunnya elektabilitas PDIP bukan karena Ahok

LSI mencatat elektabilitas PDIP pada Desember 2018 sebesar 27,7%, sementara pada Januari 2019 turun menjadi 23,7%.

Valerie Dante
Valerie Dante Sabtu, 23 Feb 2019 20:09 WIB
Pengamat: Turunnya elektabilitas PDIP bukan karena Ahok

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menunjukkan adanya penurunan dalam elektabilitas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).   

LSI mencatat elektabilitas PDIP pada Desember 2018 sebesar 27,7%, sementara pada Januari 2019 turun menjadi 23,7%.

Banyak yang berasumsi bahwa masuknya Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa BTP ke PDIP menjadi salah satu faktor menurunnya elektabilitas partai tersebut. 

Namun, Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) dan analis sosial-politik Karyono Wibowo menyatakan bahwa terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan tersebut. 

"Saya belum berani mengambil kesimpulan bahwa menurunnya elektabilitas PDIP itu disebabkan karena masuknya BTP," jelas Karyono di Cikini, Jakarta, Sabtu (23/2). 

Pasalnya, LSI Denny JA melakukan survei pada 18-21 Januari 2019, sedangkan BTP baru mengumumkan bergabung ke PDIP pada 8 Februari 2019. 

"Terlalu dini untuk bisa melihat adanya pengaruh BTP terhadap elektabilitas PDIP," lanjutnya. 

Kendati demikian, menurut Karyono, BTP memang dapat menjadi beban politik bagi partai berlambang banteng tersebut. Karena sosoknya yang dinilai kontroversial, mantan Gubernur DKI Jakarta itu dapat membawa dampak negatif maupun positif terhadap PDIP.  

Sponsored

"BTP itu sosok yang mengandung dua unsur yang berlawanan. Di satu sisi dia bisa menimbulkan sentimen positif, tetapi di sisi lain ada pula sentimen negatif," kata dia. 

Pengaruh positifnya, lanjut Karyono, adalah basis pendukung BTP yang cukup besar dan memiliki loyalitas tinggi. Selain itu, dia pun mendapatkan dukungan internasional yang cukup signifikan. 

BTP dinilai bisa membawa pengaruh baik terhadap PDIP karena rekam jejaknya terhadap pemberantasan korupsi, terobosan dalam sistem pembangunan dengan basis elektronik, dan reformasi birkorasi yang dia lakukan selama menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta. 

"Tapi tentu dia memiliki sisi negatif karena dicap sebagai penista agama oleh kalangan tertentu. Itu dapat berdampak pada citra dan elektabilitas PDIP," ungkapnya. 

Menurut Karyono, elektabilitas PDIP yang turun tidak bisa disimpulkan karena faktor bergabungnya BTP. Terutama karena hanya mengacu pada hasil satu data survei. 

Dia menyebut, beberapa lembaga perlu melakukan survei lanjutan untuk mengetahui pengaruh masuknya BTP terhadap elektabilitas PDIP. 

"Tidak hanya satu survei, perlu beberapa lembaga survei mengerjakan hal itu. Untuk melihat validitas data dan memiliki perbandingan," kata dia.