sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Aji mumpung bisnis kesehatan 

Tingginya permintaan produk dan layanan kesehatan di masa pandemi mendorong kinerja pelaku bisnis.

Nurul Nur Azizah
Nurul Nur Azizah Kamis, 08 Jul 2021 08:08 WIB
Aji mumpung bisnis kesehatan 

Gelombang pandemi kini belum juga surut. Masyarakat pun memberikan perhatian penuh pada keselamatan dan kesehatan. Seiring dengan itu, aneka produk hingga pelayanan kesehatan pun meraih peluangnya berkembang: aji mumpung karena banyaknya permintaan.  

Suryoko (32) tampak sedang sibuk menyiapkan bingkisan obat-obatan dan vitamin yang akan dikirim ke rekan-rekan kerjanya yang sedang isolasi mandiri akibat Covid-19. Dia sengaja membeli produk obat kumur anti bakteri, suplemen makanan dan multivitamin, hingga masker di apotek dekat rumahnya di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. 

"Ini ada sekitar lima bungkusan obat untuk teman-teman yang lagi isoman, ada juga sih yang di wisma atlet," ujar Suryoko kepada Alinea.id, Rabu (6/7).

Selama masa pandemi, karyawan di salah satu lembaga di Jakarta ini sudah lebih dari dua kali mengirimkan bingkisan aneka produk kesehatan. Itulah bentuk kesukarelaannya kepada teman-temannya yang membutuhkan.    

"Ini dipaketin pakai kurir yang dipesan online, tapi ya harus hati-hati, nanti dibilangin biasanya cuma sampai depan ya, prokes (protokol kesehatan)," imbuhnya. 

Lelaki asal Jawa Tengah ini mengaku kebutuhan akan produk kesehatan selama masa pandemi ini memang meningkat. Paling tidak, dia selalu mempunyai stok cukup untuk kebutuhan masker, hand sanitizer, hingga aneka obat serta vitamin untuk meningkatkan imun dan daya tubuhnya. 

"Beberapa bulan sekali, biasanya juga disinfektan rumah. Pokoknya dijaga, di masa kayak gini," kata dia. 

Ilustrasi Pixabay.com.

Sponsored

Hal serupa juga dilakukan Anto (34). Ia mengaku semakin menjaga pola hidup sehat di masa pandemi ini. Setelah sempat dirawat di wisma atlet akibat Covid-19 beberapa bulan lalu, dia tidak mau sembrono dalam hal protokol kesehatan. 

Karyawan swasta tersebut lebih hati-hati dalam mempersenjatai dirinya. Mulai dari menggunakan masker N95 atau masker rangkap, rutin minum multivitamin hingga melakukan tracing mandiri kondisi kesehatan.

"Karena kan kadang suka masih ke kantor, jadi biasanya tes kalau udah ada yang mulai bergejala. Udah beli oxymeter juga, jadi bisa mengukur saturasi oksigen," katanya kepada Alinea.id, Rabu (6/7). 

Cuan bisnis kesehatan

Menggeliatnya bisnis kesehatan tampak pada kinerja berbagai sektor usaha kesehatan yang membukukan kenaikan penjualan akibat kebanjiran order. Inovasi dan strategi pengembangan usaha sektor kesehatan ini pun terus dilakukan. 

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Vidjongtius mengungkapkan tren penjualan di perusahaannya tumbuh positif. Pada semester-I tahun 2021, penjualan tumbuh berkisar 5-7% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. 

"Kontribusi dari obat resep, vitamin, suplemen, herbal dan distribusi tumbuh lebih tinggi," ujar Vidjongtius saat dihubungi Alinea.id, Rabu (6/7). 

Selain mengembangkan produk andalan yang sudah ada, dia melanjutkan, pihaknya kini juga tengah membidik produk yang berhubungan dengan Covid-19. Termasuk menggenjot vaksin kerjasama dengan Korea Selatan. 

Ada pula pengembangan layanan kesehatan digital seperti KlikDokter, EMOS, MosHealth, dan KalCare. Kalbe Farma juga mengoptimalkan bahan baku produksi dari dalam negeri di sektor kesehatan yang juga potensial.  

"Potensi investasi TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) di alat kesehatan juga positif," imbuhnya. 

Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mencatatkan laba bersih sepanjang tahun 2020. Pada laporan keuangan kuartal-IV 2020 perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp17,63 miliar. Perolehan ini berbanding terbalik dari kondisi 2019 yang memperoleh rugi Rp12,72 miliar.

Tercatat, penjualan perseroan di kuartal-IV 2020 mencapai Rp10 triliun atau naik 6,44% dari tahun sebelumnya sebesar Rp9,40 triliun. 

Peningkatan penjualan tahun 2020 pada Kalbe Farma, didukung oleh sumbangsih Divisi Distribusi & Logistik yang meraih peningkatan penjualan bersih sebesar 5,1% dari Rp 7,37 triliun menjadi Rp 7,75 triliun.v

Divisi Produk Kesehatan meraih peningkatan penjualan sebesar 4,7% menjadi Rp3,63 triliun. Kalbe kini memiliki 41 anak perusahaan dan 15 fasilitas produksi berstandar internasional, mempekerjakan sekitar 16.000 karyawan dan mempunyai 76 cabang distribusi dan logistik di seluruh Indonesia. 

Tak hanya Kalbe, perusahaan jamu tradisional PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) sepanjang tiga bulan pertama pada 2021 mencatatkan penjualan hingga Rp793,42 miliar. Penjualan SIDO terkerek 8,58% (year on year) dari Rp730,72 miliar pada kuartal-I tahun lalu. 

Berdasar laporan keuangan, penjualan makanan dan minuman meningkat signifikan 30,2% (yoy) menjadi Rp257,45 miliar. Penjualan jamu herbal dan suplemen pun juga terkerek walaupun lebih tipis, sebesar 1,11% (yoy) menjadi Rp505,76 miliar. Hanya saja, penjualan farmasi cenderung menurun 7,97% (yoy) menjadi Rp30,20 miliar. 

Direktur Keuangan Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Leonard mengatakan penjualan domestik dan ekspor masing-masing mencatatkan pertumbuhan. 

"Hal ini didasari oleh permintaan yang kuat dari konsumen terutama untuk produk minuman kesehatan Sido Muncul," ujar Leonard dalam siaran pers, Senin (26/4).  

SIDO terus melakukan inovasi. Baru-baru ini, perusahaan jamu asal Jawa Tengah ini meluncurkan Jamu Heritage dengan tiga varian rasa Kunyit Asam, Beras Kencur, dan TeJamu. Ini seiring dengan perubahan kebiasaan masyarakat yang lebih sehat. 

"Menjawab peluang ini, Sido Muncul berinovasi mengembangkan produk herbal yang berkualitas dan bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan masyarakat," Direktur Utama Sido Muncul David Hidayat dalam keterangan resmi yang diterima Alinea.id, Rabu (6/7). 

Guna mendistribusikan produk-produk minuman RTD Jamu Heritage, Sido Muncul bekerja sama dengan Balina Agung Perkasa dan juga Sinbad Karya Perdagangan yang memiliki jaringan distribusi yang luas di wilayah Indonesia.

Sementara itu, salah satu supplier oksigen untuk medis di Bandung Jawa Barat, Margono, juga tengah kebanjiran order. Dalam sebulan terakhir ini, dia bisa menjual lebih dari 400 tabung oksigen. Padahal, normalnya 200 tabung.

"Sekarang sudah 400 tabung lebih, naik 100%," ujar Margono ketika dihubungi Alinea.id, Rabu (6/7).

Masyarakat antre mengisi tabung oksigen. Foto Reuters/Agung Fatma Putra.

Di situasi seperti ini, Margono mengakui bahwa permintaan lebih besar dibandingkan kapasitasnya memenuhi kebutuhan pelanggan. Meski begitu, dia mengaku tidak menaikkan harga jual oksigen tabung medisnya. Dia tetap membanderol harga oksigen Rp30 ribu per meter kubik.  

"Kalau yang di luar kan ada yang Rp40 ribu atau Rp50 ribu. Saya enggak. Prinsip saya, harus menolong orang sakit," imbuhnya. 

Margono mengaku bekerja sama dengan pabrikan oksigen yang ada di Cikarang, Jawa Barat. Dia biasanya mendistribusikan oksigen secara partai ke rumah sakit Immanuel Bandung ataupun eceran.

"Eceran ke homecare itu kan, dua atau tiga tabung," katanya. 

Tak selalu moncer, pelaku bisnis yang menangkap peluang kesehatan pun juga mengalami tantangan. Salah satunya, perusahaan tekstil ternama seperti PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex. Sempat mencicipi 'banjir order' masker kain pada masa awal pandemi, kini tidak lagi. 

Corporate Communications Sritex Joy Citradewi mengatakan penjualan masker dan alat pelindung diri (APD) tidak sebanyak seperti tahun 2020.

"Karena saat ini, di pasaran banyak produk masker dan harga-harga masker yang dulunya mahal sudah kembali ke harga normal, dan supply masker medis juga sudah banyak," ujar Joy kepada Alinea.id, Rabu (6/7). 

Dari laporan keuangan, Sritex memang mencatatkan penurunan laba bersih sepanjang tahun 2020. Pada laporan keuangan kuartal-IV 2020 perseroan mencatatkan laba bersih sebesar US$85,32 juta atau lebih rendah 2,65% dibanding tahun 2019 sebesar US$87,65 juta.

Namun begitu, dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), penjualan perseroan di kuartal-IV 2020 tercatat sebesar US$1,28 miliar atau naik 8,52% dari tahun sebelumnya sebesar US$1,18 miliar.

Adapun penjualan bersih perseroan terdiri atas penjualan ekspor dan lokal dengan rincian barang benang, kain jadi, pakaian jadi dan kain mentah. Penjualan ekspor tercatat US$762,37 juta atau lebih tinggi dari sebelumnya US$704,88 juta. Adapun penjualan lokal tercatat US$520,19 juta atau lebih tinggi dari sebelumnya US$476,94 juta.

Jika dipresentasikan, kontribusi penjualan produk masker dan APD tersebut hanya sekitar 3% dari semua produk industri tekstil Sritex. Joy bilang, pihaknya akan terus menjalankan strategi utamanya membidik online store

Agar tak sekadar 'Aji Mumpung' 

Selama masa pandemi, bisnis sektor kesehatan memang mengalami pertumbuhan signifikan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), sektor yang menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal-I 2021 adalah salah satunya kesehatan (3,64%). Sektor kesehatan berada di bawah sektor informasi dan komunikasi (8,72%) dan pengadaan air (5,49%). 

Pengamat Konsumen dan Pakar Marketing, Yuswohady menilai selama masa pandemi ini ada pergeseran prioritas utama bagi sebagian besar konsumen. Termasuk, untuk alokasi kesehatan. 

Seorang pekerja menunjukkan Oseltamivir, produk lokal Tamiflu yang diproduksi Kimia Farma. Foto Reuters/Dadang Tri.

"Itu terasa sekali dengan krisis pandemi ini, duit konsumen ditabung lalu dia menghentikan pengeluaran di luar kesehatan," ujar Yuswohady kepada Alinea.id, Rabu (6/7).  

Yuswohady bilang, tren menggeliatnya bisnis kesehatan ini paling tidak masih akan bertahan sampai 2-3 tahun ke depan. "Begitu pandemi, kita back to bottom, untuk makan minum, kesehatan dan keselamatan dan internet," kata dia. 

Agar tak sekadar 'aji mumpung', para pelaku bisnis kesehatan, menurut Yuswohady tetap perlu hati-hati. Jadi tak asal mengikuti tren pasar tanpa berinovasi. 

"Jangan hanya oportunistik lihat lonjakan pasar, yang terjadi selama pandemi, nanti begitu kondisi normal, kan pemainnya semakin banyak," kata dia.  

Senada, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda mengatakan sektor kesehatan memang relatif menjadi sektor yang esensial dan penting di masa pandemi ini. 

"Dia menentukan apakah memang sebuah negara care (peduli) sisi developmentnya," ujar huda kepada Alinea.id, Rabu (6/7). 

Menurutnya, perubahan pola pikir termasuk para konsumen juga sudah terjadi. Kebutuhan kesehatan semakin menjadi prioritas. Meski begitu, Huda juga menyoroti permasalahan di sektor bisnis kesehatan yang selama ini masih tak lepas dari tantangan. Utamanya soal bahan baku yang masih banyak diimpor. 
 
Dia bilang, tingkat importasi yang tinggi (mencapai 90%) ini, menunjukkan kurang optimalnya insentif bagi sektor swasta maupun perusahaan BUMN untuk penyediaan bahan baku sektor kesehatan. 

"Yang bisa menghasilkan bahan baku, bukan hanya membuat (dari bahan baku impor)," tegasnya. 

Selain itu, ia menilai perlu ada pengembangan sektor kesehatan dengan serius. Misalnya dalam hal meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), hak paten hingga digitalisasi. 

Ilustrasi Alinea.id/Oky Diaz.

Berita Lainnya