sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Babak belur, industri penerbangan tak mampu terbang tinggi

International Air Transport Association memperkirakan industri penerbangan baru pulih pada 2024.

Syah Deva Ammurabi
Syah Deva Ammurabi Jumat, 14 Agst 2020 18:53 WIB
Babak belur, industri penerbangan tak mampu terbang tinggi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 266845
Dirawat 60431
Meninggal 10218
Sembuh 196196

Kebijakan pembatasan sosial dan karantina wilayah akibat Covid-19 menyebabkan kelesuan dalam industri penerbangan. Bahkan, industri inilah yang terpukul sejak kali pertama Coronavirus mewabah. Kekhawatiran terjadinya penularan virus ini memicu keengganan banyak orang naik pesawat udara.

IATA (International Air Transport Association) mencatat penurunan revenue passenger kilometer (RPK) sebesar 86,5% pada Juni 2020 dibandingkan dengan Juni 2019. Hingga akhir 2020, perhitungan jumlah penumpang dikalikan jarak kilometer ini diprediksi anjlok hingga 54%. Bahkan, IATA merevisi prediksi pemulihan industri penerbangan hingga level pra-Covid-19 dari semula 2023 mundur menjadi 2024.

Di saat yang sama, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan penumpang penerbangan domestik dan internasional masing-masing sebesar 88,97% dan 98,84% secara year-on-year (yoy). Bila dibandingkan dengan kuartal I, jumlah penumpang penerbangan domestik dan internasional masing-masing anjlok sebesar 89,79% dan 98,34%.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengakui pandemi memukul sektor transportasi di Indonesia, termasuk transportasi udara yang kini terancam mengalami kebangkrutan. “Kita harus mengakui transportasi mengalami situasi yang parah. Diprediksi omzet mengalami penurunan 30%, bahkan transportasi udara bisa lebih dari 50%. Hal ini tentu membuat ancaman bangkrut,” tuturnya dalam webinar yang diadakan oleh Masyarakat Transportasi Indonesia, Selasa (11/8).

Ancaman kebangkrutan tersebut menimpa sejumlah maskapai mancanegara seperti Virgin Australia dan Thai Airways yang meminta dana talangan dari pemerintah. Belum lagi, Lufthansa dan Air France di Eropa yang juga terancam gulung tikar. 

Terpuruknya sektor transportasi berimbas pada lesunya sektor pariwisata. Begitu juga dengan sektor logistik yang terdampak oleh kenaikan biaya kargo akibat terhentinya operasional penerbangan. Menurut Budi, kelesuan tersebut berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terkontraksi sebesar 5,32% pada kuartal II 2020.

“Secara umum dampak pandemi terhadap industri penerbangan nasional tampak moderat pada kuartal pertama, dan menurun tajam pada bulan Maret. Memasuki kuartal kedua amat berat. Kita harapkan kuartal ketiga akan membaik,” jelasnya.

Direktur Keamanan Udara Kementerian Perhubungan Mohammad Alwi mengatakan pemerintah senantiasa melakukan pembinaan terhadap berbagai pemangku kepentingan transportasi udara untuk memastikan kelangsungan operasional penerbangan dengan mengindahkan protokol kesehatan.

Sponsored

Penerapan protokol kesehatan transportasi udara ini tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan 18/2020, Peraturan Menteri Perhubungan 41/2020, Surat Edaran Menteri Perhubungan 13/2020, dan Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Udara 32/2020.

Dalam kondisi pagebluk, kapasitas angkut (load factor) hanya dibatasi 70%. Namun untuk menanggulangi dampak penurunan penumpang, pihaknya mengizinkan konfigurasi pesawat penumpang untuk pengangkutan kargo.

“Kami tidak pernah mengizinkan menutup operasional bandar udara. Bandar udara walaupun dari awal covid ini, kita semua operasionalkan. Intinya untuk menjaga kelangsungan karena tidak semua daerah (memiliki konektivitas) seperti Pulau Jawa,” tuturnya dalam telekonferensi, Rabu (15/7). 

Siasat maskapai dan bandara

Muramnya industri penerbangan mendorong pemerintah menyuntikkan dana talangan Rp8,5 triliun kepada PT Garuda Indonesia Tbk. Dana tersebut merupakan bagian dari stimulus pemulihan ekonomi nasional (PEN) dalam rangka penanggulangan dampak Covid-19.

“Kita cukup iri melihat Singapore Airlines. Eksekutif mereka menganalisa pandeminya akan seperti apa dan pemerintahnya bilang akan memberi US$11,5 miliar. Kita mungkin akan mendapat US$600 juta talangan dari pemerintah Republik Indonesia. Klasifikasinya masih Insya Allah , belum alhamdulillah,” seloroh Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam webinar “Akankah Operator Bandara, Airlines, dan Travel Agent Akan Berjaya”, Kamis (13/8).

Irfan mengungkapkan jumlah penumpang maskapai pelat merah itu anjlok sebesar 94% di titik nadirnya pada bulan Mei. Kini, jumlah penumpang sudah mencapai 30% dari total sebelum pandemi. Peningkatan ini seiring dengan adanya kebijakan adaptasi kebiasaan baru (AKB) dan adanya libur panjang seperti Idul Adha.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Irfan Setiaputra. Foto Reuters/Ajeng Dinar Ulfiana.

Di lain kesempatan, Irfan menjelaskan pihaknya telah melakukan berbagai efisiensi seperti pemangkasan gaji, perumahan pegawai Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), dan penawaran pensiun dini kepada sejumlah pegawai. Adapun pemutusan hubungan kerja (PHK) merupakan opsi terakhir.

Garuda Indonesia juga meluncurkan lini bisnis “Kirim Aja” yang memfasilitasi pengiriman barang ke sejumlah destinasi penerbangan berbasis aplikasi digital. Semenjak pandemi, pihaknya kerap mendapat permintaan penerbangan sewa (charter) untuk pengangkutan kargo.

“Selama ini kita terlalu fokus kepada penumpang. Kita lupa di pesawat itu dibagi dua di atasnya penumpang, di bawahnya barang. 95% orang Garuda mengatasi setengah di atasnya dan 5% setengah di bawahnya. Revenuenya juga seperti itu juga,” ujarnya. 

Kondisi serupa juga berlaku bagi maskapai swasta, Lion Air. Corporate Communication Strategic of Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro mengungkapkan jumlah penerbangan maskapainya hanya sekitar 30-40% dari kondisi normal. Sebelum pagebluk, pihaknya menerbangkan 1.400-1.600 pesawat per hari. Sementara saat ini, kepentingan penumpang didominasi oleh keperluan kerja/dinas dan kebutuhan keluarga.

“Tentang situasi pasar saat ini, Lion Air Group melihat optimis karena Indonesia masih memiliki pasar domestik. Untuk potensi atau proyeksi akhir tahun diharapkan semakin membaik,” katanya melalui pesan singkat, Selasa (11/8).

Untuk menjamin keamanan selama penerbangan, pihaknya telah memasang penyaring High Efficiency Particulate Air (HEPA) yang mampu menghilangkan 99,99% partikel virus, jamur, dan bakteri, melakukan sterilisasi badan pesawat, pembersihan pesawat udara dan peralatan pendukungnya secara berkala dengan metode Aircraft Exterior and Interior Cleaning (AEIC), serta skrining kesehatan pada awak pesawat. 

Selain itu, pihaknya juga melayani jasa penyewaan pesawat untuk angkutan kargo demi mendongkrak pendapatan perusahaan. “Pengalihan (operasional pesawat) saat ini belum ada yang sepenuhnya ke kargo,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengakui kondisi pandemi berdampak signifikan terhadap jumlah penumpang pada 19 bandara yang dikelolanya. Penurunan mulai terjadi pada bulan Maret yaitu 27,8% secara bulanan (month-to-month) hingga puncaknya mencapai 85,5% pada bulan Mei. 

“Efektivitas pembatasan orang dilakukan secara konsisten oleh pelaku transportasi udara yang terbukti dari menurunnya penumpang secara drastis. Ini dampak dari regulasi yang kita dukung bersama,” katanya pada Kamis (13/8).

Seiring dengan diberlakukannya adaptasi kebiasaan baru (AKB), jumlah penumpang mulai meningkat secara bulanan pada Juni sebesar 466,2% dan terus berlanjut dengan pertumbuhan 47,5% selama 1-10 Agustus. Namun, angka ini masih jauh dibawah kondisi normal.

Penumpang mengantri pemeriksaan kesehatan dan suhu tubuh sebelum mengudara di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang 21 Mei 2020 lalu. Foto Reuters/Ajeng Dinar Ulfiana.

Awaluddin melihat peningkatan juga didorong oleh libur panjang Idul Adha dan kampanye “Safe Travel Campaign” yang dicanangkannya bersama maskapai penerbangan. Dia berharap industri penerbangan sudah mulai pulih pada 2023. Di sisi lain, AP II telah melakukan pengurangan biaya sebesar Rp1,4 triliun selama Januari-Juli dan memangkas belanja modal tahun ini dari Rp7,8 triliun menjadi Rp712 miliar. 

“Chief Irfan (Dirut Garuda) sama pusingnya dengan saya memanage cashflow (arus kas). Bagaimana kita membalance cash out dan cash in ketika sedang slowing down, sehingga saat fase recovery (pemulihan) datang, kita bisa mengambil peluang dengan cepat dan melayani demand kembali dengan baik,” terangnya.

Awaluddin menjelaskan perusahaannya bersama pihak maskapai mendorong maksimalisasi slot penerbangan, aktivasi kembali destinasi penerbangan yang ditutup, dan peningkatan frekuensi penerbangan.

“Kami persiapkan semaksimal mungkin fasilitas di bandara. Kalau maskapai kagak mau terbang dan enggak ada demand bagaimana? Costnya juga pasti lebih besar yang harus kita tanggung,” ungkapnya.

Dalam menghadapi pandemi, AP II memperhatikan lima hal untuk meningkatkan layanan mereka, yaitu menjaga jarak (physical distancing), pemeriksaan kesehatan, layanan nirsentuh, pembersihan fasilitas dan proteksi bagi para petugas bandara.

“Transportasi udara harus mendorong kepercayaan publik dan bandara sebagai tempat yang pertama kali dikunjungi masyarakat. Kalau tidak, akan menimbulkan suatu ketidakyakinan kalau mereka dilindungi dengan baik,” tegasnya.

Nasib industri pendukung

Lesunya transportasi udara kala pandemi juga memukul berbagai industri pendukungnya seperti perusahaan bengkel pesawat (MRO/Maintenance, Repair, and Overhaul) dan sekolah penerbangan.

Vice President Corporate Strategy and Business PT GMF Aero Asia Desrianto Adi Prayogi mengatakan jumlah pesawat yang dilayani oleh perusahaannya turun dari 400-600/hari kala normal menjadi 40/hari pada April. Angka tersebut merambah naik menjadi sekitar 150/hari pada Juli. Yogi memprediksi pendapatan perusahaan akan turun sebesar 50% pada akhir tahun lantaran sepinya permintaan dari maskapai.

“Ada juga yang menyampaikan bahwa industri MRO tetap bisa survive karena terbang enggak terbang persawat di maintain. Ada yang terlupa dampak pandemi sehingga menyebabkan likuiditas airline menurun, dampaknya terhadap likuiditas MRO sendiri. Daya bayar airline ke MRO berkurang,” jelasnya dalam webinar The Habibie Center, Rabu (29/7).

GMF AeroAsia telah melakukan berbagai langkah efisiensi seperti pemangkasan dan pengefektifan biaya dan pemutusan kontrak pekerja alih daya (outsourcing). Ia menegaskan pihaknya kini fokus untuk mengamankan arus kas. Kemudian, pihaknya juga membentuk Satgas Crisis Center yang terdiri dari keterlibatan konsumen terkait protokol kesehatan, uji stres finansial, manajemen stabilisasi rantai pasok, dan perlindungan tenaga kerja.
 
“Kita bisa bersihkan area pesawat menggunakan protokol Covid. Ini potensi bisnis yang bisa kita tangkap bersama untuk hal lain. Selain cabin cleaning (pembersihan kabin), kita bisa lakukan untuk industri mana saja karena MRO punya basic pembersihan pesawat yang jauh lebih steril dan higienis dibanding industri lain,” tuturnya.

Di sisi lain, turunnya industri penerbangan juga membuat sekolah penerbangan turut terdampak. Direktur Flybest Flight Academy Karin Item mengatakan pihaknya hanya meluluskan 10% calon pilot dari kapasitas sekolah lantaran lesunya industri penerbangan nasional. Menurutnya, lesunya sekolah penerbangan telah terjadi sejak 2016 lantaran pertumbuhan industri penerbangan yang stagnan beberapa tahun belakangan.

“Dengan adanya Covid-19 sejak Maret, keputusan itu mereka tunda karena orang tua yang tadinya sudah mengalokasikan dana untuk pendidikan anaknya akhirnya menahan karena mau melihat situasi,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya melakukan diversifikasi dengan membuka pelatihan penerbang profesional untuk menerbangkan pesawat jenis tertentu. Sebelumnya, Flybest hanya melatih calon pilot komersial yang belajar dari nol.

“Kita juga mengembangkan training center untuk advanced training pilot. Tidak hanya untuk pilot, kita juga kembangkan training-training jangka pendek untuk memperoleh cash. Misalnya nanti barangkali bisa dikembangkan ke pramugrari dan lain sebagainya. Kita sedang proses untuk sertifikasi untuk menjadi operator, general aviation (penerbangan umum non-militer) and aeroworks,” katanya.

Masa depan industri penerbangan

Irfan Setiaputra memandang dunia penerbangan pascapandemi akan berbeda dibandingkan sebelumnya. Sebelum pandemi, harga dan jadwal penerbangan merupakan prioritas utama. Namun, rasa aman kini seolah menjadi pertimbangan utama, meskipun kenyataannya tak selalu demikian.

“Mengharapkan situasi kita seperti sebelum covid itu insanity (kegilaan), menurut saya situasi yang agak mimpi. Kenapa begitu? Krisis pandemi berubah menjadi krisis ekonomi dan berubah sebenernya menjadi krisis peradaban, Yang terjadi adalah semua berubah dengan cara yang berbeda,” terangnya. 

Irfan berpendapat maskapai seyogyanya tak hanya melihat jumlah penerbangan dan jumlah penumpang sebagai masalah utama. Menurutnya, kuncinya terlatak pada maksud kepergian orang (intent of people).

Oleh karena itu, Irfan melihat adanya peluang dalam penerbangan sewa. Semenjak pandemi, pihaknya kerap mendapat permintaan untuk penyewaan pesawat, misalnya saja permintaan sebuah kontraktor pertambangan untuk mengangkut para karyawannya yang menjalani cuti atau resepsi pernikahan di atas pesawat. 

“Justru terlalu banyak oportunity (kesempatan) yang selama ini kita abaikan di sisi industri airline karena kita terlalu fokus ke penumpang, kita terlau fokus berantem sesama airline, kita terlalu fokus kebutuhan slot, kita terlalu fokus terbang ke Bali dan kota-kota besar, sementara area-area lain kita abaikan dan hari ini mulai kebuka,” jelasnya.

Ketua Umum INACA (Indonesian National Air Carriers Association) Denon Prawiraatmadja melihat pemeriksaan kesehatan akan menjadi norma baru di industri penerbangan sebagaimana halnya pemeriksaan barang-barang yang dicurigai terkait aktivitas terorisme.

“Sejak 10 tahun lalu, bandara melakukan pemeriksaan yang ketat terhadap kegiatan teroris. Saya pikir khusus Covid ini sama, bisa jadi lebih dari 5 tahun. Bahwasanya, semua penumpang harus dipastikan kesehatannya, sehingga pemeriksaaan E-HAC (Electronic Health Alert Card) akan lebih panjang dari yang kita lakukan,” ungkapnya.

INACA menargetkan jumlah penumpang pesawat udara akan mencapai 40 juta orang hingga akhir 2020.

Pengamat Penerbangan Chappy Hakim melihat penurunan industri ini disebabkan oleh anjloknya penerbangan pesawat penumpang, sementara itu penerbangan angkutan barang dan penerbangan tak berjadwal (charter) relatif stabil. Berdasarkan kajian berbagai pakar, dia melihat industri penerbangan baru pulih 3-5 tahun mendatang.

“Dalam kondisi ini kita tidak bisa meramal, tergantung (penemuan) vaksin dan obat. Kalau kita tidak bisa menjawab vaksin dan obat, kita tidak bisa menjawab kapan pullihnya industri penerbangan,” katanya kepada Alinea.id, Selasa (11/8).

Lambatnya pemulihan tersebut, kata Chappy, disebabkan oleh sulitnya mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap keamanan moda transportasi, sehingga menyebabkan rendahnya permintaan tiket penerbangan pesawat.

Menurutnya, protokol kesehatan seperti jaga jarak, pakai masker, dan sering cuci tangan tetap menjadi andalan untuk menjaga diri dari penularan Covid-19. Pasalnya, teknologi HEPA belum sepenuhnya mampu membunuh seluruh virus sebagaimana temuan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat.

“Sampai dimana maskapai mampu mengoperasikan penerbangan dengan tidak untung atau rugi? Kita tidak tahu. Tinggal tunggu waktu saja. Trennya sangat jelas kelihatan yaitu pilot diberhentiin, staf diberhentikan, gaji dipotong, dan sebagainya. Pada saat tertentu dia akan berhenti,” jelas Mantan Kepala Staf Angkatan Udara tersebut.

Chappy menyarankan adanya intervensi pemerintah berupa satuan tugas (satgas) untuk menyelenggarakan perhubungan udara demi keberlangsungan tata kelola logistik dan pelayanan transportasi publik. Menurutnya, pemerintah memiliki cukup dana tersedia di tengah sulitnya pendanaan investor.

Meskipun babak belur akibat pagebluk, Ketua Dewan Pembina The Habibie Center Ilham Akbar Habibie menilai prospek industri penerbangan di Indonesia masih cerah lantaran penduduknya yang besar dan kondisi geografisnya berupa kepulauan.

Ilham membandingkan Indonesia yang memiliki jumlah tertinggi penumpang pesawat udara 101 juta pada 2018 dengan jumlah penumpang pesawat udara AS yang mencapai lebih dari 1 miliar pada tahun yang sama. Padahal penduduk Indonesia dan AS tak jauh berbeda, yakni 264 juta berbanding 327 juta.

Dia melihat adanya tren konsolidasi industri penerbangan secara global. Konsolidasi tersebut dapat berupa suntikan dana maupun pencaplokan perusahaan yang kesulitan modal, terutama di negara-negara yang memiliki pasar potensial. Menurutnya, berkurangnya kompetitor menyebabkan struktur industri penerbangan lebih sehat. 

“Menurut saya Indonesia mesti sangat hati-hati karena merupakan salah satu pasar itu (potensial). Yang masih ada di tangan kita sebagai negara baik swasta maupun BUMN mestinya ada kolaborasi yang erat, bahkan konglomerasi dengan cara yang sehat dan wajar agar kita bisa pertahankan kekuatan (kedirgantaraan) nasional,” jelasnya.

Berita Lainnya
×
img