sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bahana TCW: Koreksi IHSG hanya sementara

Kondisi pasar saat ini tidak akan mengulang peristiwa koreksi pasar serupa pada Maret.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Sabtu, 12 Sep 2020 17:21 WIB
Bahana TCW: Koreksi IHSG hanya sementara
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 291182
Dirawat 61839
Meninggal 10856
Sembuh 218487

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis (10/9) sempat terkoreksi 5,01% menyentuh level 4.891. Sementara mata uang rupiah melemah terhadap kurs Dollar AS yang sempat menyentuh Rp14.900/ US$.

Tekanan terhadap IHSG dan rupiah ini diyakini adanya kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi dengan kembalinya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mulai 14 September. Tak salah jika muncul kekhawatiran koreksi IHSG ini akan memicu kejatuhan seperti Maret 2020.

Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management (BTIM) Budi Hikmat mengatakan, kondisi pasar saat ini tidak akan mengulang peristiwa koreksi pasar serupa pada Maret.

“Tekanan di bursa dan nilai tukar saat ini diharapkan sementara. Sebab, penyebabnya lebih bersifat lokal sebagai antisipasi perlambatan ekonomi akibat PSBB," kata Budi dalam keterangannya yang dikutip Alinea.id, Sabtu (12/9).

Apalagi beragam macrowave indicator untuk kondisi pasar eksternal global masih cukup stabil. Selain menjaga suku bunga global rendah, kelebihan likuiditas akan memaksa dolar masuk siklus melemah dan emas berpeluang paling moncer. 

Meski demikian, lanjutnya, investor memang harus mewaspadai retorika politik di Amerika Serikat (AS) menjelang pilpres dan masih ada keraguan efektivitas vaksin Covid-19.

Pemberlakuan kembali PSBB, kata Budi, sangat wajar membuat investor saham khawatir akan terjadi perlambatan ekonomi kembali. Perbankan diduga akan menahan keinginan untuk menyalurkan kredit, sehingga mereka akan terus menempatkan dana dalam surat berharga negara.

"Investor asing juga bertanya apakah Bank Indonesia akan terus mengemban skema burden sharing, di mana aksi quantitative easing yang dilakukan akan memperlemah rupiah," ujarnya.

Sponsored

Adapun untuk investor awam, Budi menyarankan untuk defensif dengan memanfaatkan instrumen surat berharga negara (SBN) yang sedang ditawarkan. Sementara untuk investor yang lebih mahir dan berani, dapat secara selektif berinvestasi pada saham yang paling banyak ditinggalkan oleh investor asing.

Selama sepekan pada periode 7–11 September 2020, pasar modal Indonesia bergerak secara variatif dan mayoritas ditutup pada zona merah. Meskipun demikian, transaksi harian pada akhir pekan ini, yaitu pada Jumat (11/9) mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, yaitu sebesar 934,733 ribu kali dari rekor sebelumnya pada 9 Juni 2020 sebesar 928,565 ribu kali transaksi.

Untuk data sepekan ini, rata-rata frekuensi harian mengalami pelemahan sebesar 0,41% menjadi 712,986 ribu kali transaksi dari pekan lalu sebesar 715,901 ribu kali transaksi. 

Kemudian, data rata-rata volume sepekan mengalami perubahan sebesar 11,50% menjadi sebesar 11,255  miliar saham dari 12,718 pada pekan sebelumnya. Sedangkan rata-rata nilai transaksi harian bursa mengalami  peningkatan sebesar 1,45% menjadi Rp8,810 triliun dari Rp8,684 triliun sepekan yang lalu.

Selain itu, kapitalisasi pasar bursa selama sepekan juga turut mengalami pelemahan sebesar 4,17% menjadi Rp5.827,724 triliun dari Rp6.081,396 triliun pada pekan lalu. IHSG melemah sebesar 4,26% pada level 5.016,712 dari level 5.239,851 pada pekan yang lalu.

Berita Lainnya

, : WIB

, : WIB

, : WIB