sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bangun pabrik di Myanmar, Kalbe siapkan capex US$20 juta

Pendirian pabrik di Myanmar ini dilakukan dengan skema joint venture (JV) dengan satu perusahaan distributor.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Selasa, 30 Okt 2018 17:23 WIB
Bangun pabrik di Myanmar, Kalbe siapkan capex US$20 juta

PT Kalbe Kimia Farma Tbk. (KLBF) akan melebarkan sayapnya ke jaringan pasar negara Asia Tenggara dengan mendirikan pabrik baru. Adapun saat ini proses pembuatan pabrik sedang berlangsung di Myanmar.

Direktur Utama KLBF Vidjongtius mengatakan, untuk pabrik di Myanmar, perseoran telah menyiapakan dana sekitar US$15 juta hingga US$20 juta. Diharapkan pabrik baru ini akan rampung dalam dua tahun ke depan.

"Ya, kami sedang menjajaki pasar di Asia Tenggara. Untuk pabrik di Myanmar masih tahap konstruksi. Dananya disiapkan dari belanja modal 2018 sekitar Rp1,5 triliun. Kami menganggarkan dana belanja modal di angka itu setiap tahunnya," ujar Vidjongtius saat ditemui di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (30/10).

Sementara itu, pendirian pabrik di Myanmar ini dilakukan dengan skema joint venture (JV) dengan satu perusahaan distributor. Nantinya kepemilikan KLBF di skema JV ini sekitar 90%. Sementara, produk yang akan menjadi andalan untuk ekspansi ini adalah Mixagrip.

Vidjongtius menyebutkan, pihaknya juga sedang melakukan evaluasi untuk masuk ke negara lain seperti Vietnam dan Filipina dengan skema yang sama yakni JV. KLBF baru memiliki satu pabrik di luar negeri yaitu di Nigeria serta melakukan survei pasar di Himalaya.

"Dengan yang di Myanmar akan menjadi dua. Kami akan tambah dua lagi dalam dua atau tiga tahun ke depan," ungkap Vidjongtius.

Saat ini pendapatan mayoritas KLBF masih untuk pasar domestik sebesar 94% dari total pendapatan. Sisanya sekitar 6% adalah untuk pasar ekspor. "Harapannya dengan ekspansi di luar negeri ini, pendapatan ekspor bisa sentuh angka 10%," imbuhnya.

Adapun hingga semester I-2018, pertumbuhan pendapatan KLBF hanya 3,12% year on year (yoy) menjadi Rp10,38 triliun atau tumbuh dari tahun sebelumnya sebesar Rp10,06 triliun. Tahun ini diharapkan pendapatan akhir tahun dapat tumbuh hingga 5% yoy.

Sponsored

"Kendala kami masih dari pelemahan rupiah. Hampir 90% bahan baku kami itu impor. Kami harus bekerja keras untuk atasi ini. Kami juga telah melakukan kenaikan harga sekitar 2% hingga 3% di semester I-2018," pungkasnya.