sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

CEO Bukalapak: Industri e-commerce di Indonesia belum ideal

Saat pandemi ini masyarakat lebih cepat mengadopsi e-commerce.

Firda Junita
Firda Junita Rabu, 16 Des 2020 12:24 WIB
CEO Bukalapak: Industri e-commerce di Indonesia belum ideal

CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin mengatakan, e-commerce masih sangat baru di Indonesia. Namun perkembangannya sudah cukup signifikan. Terlebih lagi, saat pandemi ini masyarakat lebih cepat mengadopsi e-commerce.

"Kami sebagai pelaku usaha juga mengapresiasi pemerintah untuk menjamin kenyamanan dan menargetkan pasar yang sangat potensial dengan maksimal,” katanya dalam webinar yang digelar IDX Channel, Rabu (16/12).

Namun menurut Rachmat, industri e-commerce di Indonesia belum bisa dikatakan ideal. Masih banyak tantangan dari berbagai sisi seperti infrastruktur, banyaknya jumlah penduduk, kondisi geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan, dan sebagainya.

“Tetapi ekosistem e-commerce ini, dapat kita manfaatkan bersama-sama. Pengguna atau pelaku usaha UMKM juga dapat membuka toko dengan mudah,” ucapnya.

Menanggapi itu, Ketua Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Sidharta Utama mengungkapkan, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Sistem Elektronik untuk mendukung pertumbuhan ekosistem e-commerce di Indonesia.

“Tujuan dari peraturan ini untuk membangun kepercayaan konsumen kepada e-commerce dengan memastikan adanya perlindungan konsumen dan mendorong terciptanya persaingan usaha yang sehat,” ujarnya. 

Dengan adanya peraturan tersebut, diharapkan dapat meningkatkan aktifitas dan pertumbuhan perdagangan serta industri e-commerce. Selain itu, peraturan ini juga untuk memastikan e-commerce terus berkembang di Indonesia dan pada saat yang sama dapat melindungi hak konsumen.

“Selain peraturan itu, Kementerian Perdagangan juga menerbitkan peraturan Nomor 20 Tahun 2020 untuk mengatur beberapa aturan lanjutan seperti perizinan usaha, periklanan, pembinaan, dan pengawasan pelaku usaha e-commerce. Dengan aturan yang jelas, kami berharap akan tercipta keseimbangan berusaha di bidang e-commerce,” jelasnya.

Sponsored

Di sisi lain, Sidharta menyebutkan e-commerce memiliki potensi usaha yang sangat besar. Menurutnya, jumlah penduduk Indonesia yang sebanyak 250 juta jiwa mempunyai kebutuhan belanja yang sangat tinggi. Untuk itu, pihaknya terus berupaya memfasilitasi untuk menciptakan ekosistem e-commerce yang maju.

“Untuk menjamin persaingan sehat dalam iklim e-commerce, kami perlu menjaga pelaku usaha agar mendapatkan kemudahan untuk masuk ke dalam bisnis e-commerce, tanpa melalui prosedur yang rumit. Selain itu, perlu memastikan adanya persamaan perlakuan dari pelaku usaha, misalnya pelaku usaha dari dalam dan luar negeri atau pelaku usaha offline dan online,” jelasnya.

Sidharta menambahkan, pihaknya juga mendorong adanya kerja sama antarpelaku usaha, seperti pedagang di pasar tradisional dengan platform e-commerce untuk menjual produknya secara daring.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Direktur Utama Perum Bulog Gatot Trihargo menyatakan, Indonesia memiliki potensi pasar yang besar untuk e-commerce

“Untuk itu, Bulog juga sedang berupaya untuk ikut masuk ke dalam e-commerce. Sejauh ini, respons yang diberikan oleh masyarakat sangat baik. Bulog telah membuka pelayanan untuk tujuh kota di Indonesia, yaitu lima kota di Pulau Jawa dan dua kota lainnya di luar Pulau Jawa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gatot mengatakan, Bulog telah melakukan berbagai upaya strategi promosi untuk menarik perhatian konsumen, yaitu dengan membuktikan bahwa Bulog menghasilkan produk beras yang berkualitas dan juga memanfaatkan platform media sosial untuk mempromosikan produknya.

Berita Lainnya