sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

E-commerce lama paling dipercaya konsumen RI

Bisnis dalam jaringan (daring) alias e-commerce yang telah berdiri lama ternyata paling dipercaya oleh konsumen Indonesia.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Selasa, 26 Feb 2019 23:00 WIB
E-commerce lama paling dipercaya konsumen RI

Bisnis dalam jaringan (daring) alias e-commerce yang telah berdiri lama ternyata paling dipercaya oleh konsumen Indonesia.

Survei Asosiasi E-commerce Indonesia (IdEA) menunjukkan kecenderungan konsumen lebih percaya pada e-commerce yang sudah berdiri lama. 

Berdasarkan hasil survei IdEA di Jabodetabek, sebanyak 40,4% konsumen berusia sekitar 34 tahun merasa lebih aman dan percaya menggunakan jasa perusahaan e-commerce yang sudah lama eksis di platfrom online

Ketua Umum idEA Ignatius Untung mengatakan, bisnis daring lama ini lebih dipercaya ketimbang e-commerce baru dari perusahaan industri yang telah lama berkiprah. Sebab, lamanya usia e-commerce merupakan bukti bahwa perusahaan tersebut layak dipercaya. 

"Terlebih perusahaan yang sudah lama, setidaknya 10 tahun berkecimpung dalam platfrom digital, akan semakin membuat konsumen aman berbelanja. Bukan sekadar percaya, tapi merasa begitu nyaman ketika harus bertransaksi melalui platfrom digital," tutur Untung dalam pemaparan hasil survei sustainability e-commerce dengan tema kepak sayap digital ekonomi Indonesia, yang berlangsung di Rumah Koeliner, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (26/2).

Menurut dia, penting bagi e-commerce untuk menjadi unicorn. Namun, jauh lebih penting untuk memastikan keberlanjutannya (sustainability). Oleh karena itu, bertahan dari pelbagai kondisi selama bertahun-tahun menjadi tolok ukur keberlanjutan e-commerce.

Seiring dengan perluasan jangkauan layanan internet, kata Untung, e-commerce di Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam dekade terakhir. Perusahaan rintisan yang memiliki valuasi US$1 miliar kian gencar, dan menyebabkan persaingan semakin berwarna.

"Tantangan semakin berat dan persaingan semakin ketat. Pendanaan, ekspansi, dan peraihan kepercayaan konsumen di tengah semakin banyaknya pilihan konsumen," tutur Untung.

Sponsored

Memang, kata dia, sejumlah e-commerce tumbuh kian kokoh. Sebaliknya, ada pula e-commerce yang akhirnya harus menutup bisnisnya. Padahal, tidak sedikit dari nama-nama e-commerce yang gulung tikar berasal dari luar negeri dan didukung dengan modal yang sangat besar.

Dengan demikian, kata Untung, para pemain e-commerce akan berupaya mencari solusi atas pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana cara terbaik agar e-commerce dapat bertahan lama dan menuai kepercayaan konsumen (sustain). 

Ekosistem pendukung

Sementara itu, seiring sejalan dengan perkembangan e-commerce, maka lapangan kerja akan terbuka lebar. Menurut Ignasius, e-commerce membutuhkan ratusan ribu talent. E-commerce setaraf unicorn membutuhkan ribuan talent, kata Untung, jadi total perkiraannya tergantung jumlah technopreneur dan kalikan saja.

Namun, Untung menyadari perkembangan e-commerce kurang disokong sumber daya manusia yang mumpuni. Oleh karena itu, Untung pernah diundang Kemrisetdikti untuk mendiskusikan kualifikasi sumber daya manusia yang dibutuhkan demi menunjang ekosistem e-commerce. Menerapkan mata kuliah saja prosesnya berbelit-belit, kata Untung, belum program studi, harus didaftarkan, diuji-coba, dan pelbagai tahapan-tahapan proses yang menyita waktu lama.

“Industri digital bergerak sangat cepat, jikalau pemerintah Indonesia menyediakan sumber daya manusia yang professional, maka sebaiknya segera mengubah proses yang berbelit-belit tersebut,” urainya.

Apabila pemerintah Indonesia tidak segera memperbaikinya, kata Untung, maka dengan terpaksa akan membangun pesaing perguruan tinggi untuk mengedukasi masyarakat. Jikalau terbukti efektif, orang tidak akan perlu kuliah, bahkan tanpa gelar, dapat diterima kerja dengan penghasilan baik dan karir bagus. Hal demikian tentunya merupakan ancaman bagi perguruan tinggi ke depannya,

“Dari 600.000 lulusan S1, masih sangat jauh sekali dari target talent yang dibutuhkan. Toh, lulusannya saja belum tentu bagus kualitasnya,” ujar Untung.

Kelangkaan talent berbakat dan tidak adanya standar baku gaji karyawan yang bekerja dalam ranah perusahaan ekonomi digital mendorong idEA meluncurkan produk bernama idEA job market. Sebuah platform digital yang menyediakan referensi data gaji karyawan dan pelbagai kualifikasi calon karyawan berdasarkan pengalaman kerja.

idEA job market merupakan upaya mengantisipasi melambungnya tarif karyawan, yang mana seringkali perusahaan harus membayar gaji jauh melampaui parameter umumnya.

“Misalnya, fresh graduate software engineer saja bisa digaji 5 juta. Jikalau berpengalaman satu tahun, gajinya langsung loncat menjadi 7-10 juta, sedangkan product manager bisa berkisar 25 juta," tegasnya.