sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Holding pangan dikhawatirkan hambat investasi di sektor pertanian

Investasi asing di sektor pangan hanya sebesar 3%-7% dari total PMA pada 2015-2019.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Rabu, 21 Jul 2021 08:39 WIB
Holding pangan dikhawatirkan hambat investasi di sektor pertanian

Pembentukan holding klaster pangan berpotensi menghambat masuknya investasi pertanian dan mengurangi kompetisi. Pasalnya, keistimewaan dan kemudahan yang seringkali diterima BUMN membuat investor berpikir panjang untuk menanamkan modalnya di Indonesia apalagi penetrasi sektor ini tergolong rendah.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Indra Setiawan, memaparkan, investasi asing di sektor pangan hanya sebesar 3%-7% dari total penanaman modal asing (PMA) di Indonesia pada 2015-2019. Sebagian besar pun masuk ke sektor kelapa sawit, sedangkan untuk sektor pertanian lainnya, seperti tanaman pangan dan hortikultura, jauh lebih rendah. 

"Padahal peningkatan investasi di sektor pertanian perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk pertanian Indonesia," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (20/7).

Dia menjelaskan, pemerintah memberikan BUMN suntikan modal, penunjukan langsung, serta kemudahan birokrasi, terutama dalam pembebasan dan akuisisi lahan. Keuntungan tersebut tidak dapat dinikmati investor swasta. 

Indra menuturkan, rendahnya investasi dan keterlibatan swasta akibat dominasi BUMN telah terbukti di sektor infrastruktur. Ini tecermin dari kian menguatnya keterlibatan perusahaan "pelat merah" BUMN dalam pembangunan infrastruktur strategis sejak pemerintah menjadikannya sebagai prioritas.

Pembentukan holding pangan juga dibayang-bayangi kekhawatiran akan kinerja BUMN yang dianggap tidak efisien. Contohnya, kerugian tujuh BUMN pada 2018 meskipun telah diberikan suntikan dana oleh pemerintah. Hal tersebut, menjadi beban fiskal bagi pemerintah yang kini tengah fokus menangani pandemi dan membutuhkan anggaran besar.

"Rendahnya investasi di sektor pertanian akan berakibat pada terhambatnya upaya meningkatkan kemampuan manajerial di sektor pertanian," imbuhnya.

Lebih-lebih, mayoritas tenaga kerja di sektor pertanian Indonesia memiliki keterampilan rendah dan hanya sekitar 2% lulusan universitas. Sementara itu, investasi bakal membuka peluang pelatihan bagi petani maupun pekerja di sektor pertanian. 

Sponsored

"Perusahaan yang melakukan investasi umumnya memberikan pelatihan yang meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pertanian, seperti pertanian berkelanjutan dan pertanian presisi," paparnya.

Indra mengungkapkan, terhambatnya investasi di sektor pertanian juga berpotensi menghambat perkembangan teknologi terkait, padahal sangat dibutuhkan saat ini. Alasannya, investasi menjadi salah satu jalan transfer teknologi.

Oleh karena itu, CIPS menyarankan adanya rencana reformasi BUMN untuk mengurangi dampak negatif dominasi holding pangan pada kemudian hari. Pun perlu adanya rencana-rencana strategis guna meningkatkan tata kelola perusahaan, seperti melalui initial public offering (IPO) holding BUMN pangan agar pengawasan publik dapat lebih ditingkatkan sehingga transparansi semakin baik.

Holding BUMN pangan juga harus terbuka terhadap kompetisi pasar. Pemerintah perlu memberikan perlakuan yang setara antara holding BUMN ini dan pihak swasta yang hendak terlibat dalam sektor pangan dan pertanian," tuturnya.

Berita Lainnya