sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Impor besi dan baja turun, pangsa pasar Krakatau Steel meningkat di 2020

Krakatau Steel saat ini lebih berdaya saing dengan berhasil menurunkan biaya operasionalnya.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 11 Feb 2021 17:56 WIB
Impor besi dan baja turun, pangsa pasar Krakatau Steel meningkat di 2020
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Upaya pengendalian impor yang dilakukan pemerintah pada 2020 telah membuahkan hasil. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor besi dan baja pada tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 36% menjadi 4,47 juta ton, dibandingkan dengan tahun 2019 sebesar 6,96 juta ton.

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) sekaligus Chairman Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia/The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Silmy Karim menyampaikan, produsen besi dan baja nasional mengapresiasi Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian, atas kinerjanya yang baik di 2020 dalam mengendalikan impor baja.

Silmy menyebut salah satu regulasi yang mengatur pengendalian impor besi dan baja dalam negeri adalah Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 3/2020 tentang Ketentuan Impor Besi atau Baja, Baja Paduan dan Produk Turunannya.

"Penurunan impor besi dan baja pada tahun lalu berdampak signifikan terhadap peningkatan kinerja serta utilisasi industri," kata Silmy dalam keterangan resminya, Kamis (11/2).

Dengan pengendalian impor tersebut, Krakatau Steel mencatat pangsa pasar produk utama perseroan yaitu Hot Rolled Coil (HRC) mengalami peningkatan dari 35% di tahun 2019, menjadi 45% di 2020. Begitu pula dengan produk Cold Rolled Coil (CRC) yang mengalami peningkatan pangsa pasar menjadi 21% di 2020, dari 14% di 2019.

“Peningkatan pangsa pasar Krakatau Steel di 2020, selain didukung peran pengendalian impor oleh pemerintah, juga karena Krakatau Steel saat ini lebih berdaya saing dengan berhasil menurunkan biaya operasionalnya”, ujar Silmy.

Inisiatif efisiensi yang dilakukan emiten berkode KRAS ini berhasil menurunkan biaya operasional sebesar 41% dari US$337,5 juta pada 2019, menjadi US$198 juta di 2020. Hal ini mendorong meningkatnya daya saing KRAS di pasar baja domestik.

“Penurunan impor besi dan baja di 2020 ini merupakan angin segar bagi industri baja dalam negeri. Hal ini dapat terus berlanjut di 2021, agar upaya peningkatan utilisasi industri besi dan baja nasional dapat segera terwujud," tutur dia.

Sponsored

Silmy pun berharap, kerja sama yang baik antara pemerintah dengan industri dapat terus meningkat, sehingga ikut menopang pembangunan ekonomi Indonesia.

Berita Lainnya