sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Impor senjata dan amunisi melonjak hingga Rp2,9 triliun

Impor senjata dan amunisi serta bagiannya adalah impor wajib pemerintah yang dilaksanakan setiap tahunnya.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Rabu, 15 Apr 2020 14:45 WIB
Impor senjata dan amunisi melonjak hingga Rp2,9 triliun
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor amunisi dan senjata pada Maret 2020 mencapai US$187,1 juta atau Rp2,9 triliun (kurs Rp15.670 per US$1). Nilai impor ini melonjak hingga 7.384% dibandingkan pada Februari 2020.

Kepala BPS Suhariyanto memaparkan impor senjata dan amunisi serta bagiannya adalah impor wajib pemerintah yang dilaksanakan setiap tahunnya. Berbeda dengan tahun sebelumnya, impor senjata tahun ini datang pada Maret.

"Senjata dan amunisi dan bagiannya ini memang impor yang kita lakukan setiap tahun untuk pertahanan dan keamanan. Kebetulan tahun ini jatuhnya Maret," katanya dalam video conference, Rabu (15/4).

Berdasarkan data BPS, impor senjata dan amunisi serta bagiannya pada Februari 2020 hanya menyentuh US$2,5 juta. Sementara, nilai  impor senjata dan amunisi pada kuartal I-2020 US$207,7 juta, atau meningkat sebesar 606% dibandingkan kuartal I-2019 yang hanya US$29,4 juta. 

Meski demkian, Suhariyanto tidak menjelaskan musabab besarnya impor senjata dan amunisi tersebut di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akibat Covid-19 seperti saat ini.

Sementara itu, golongan barang impor yang juga mengalami peningkatan adalah golongan mesin dan perlengkapan elektrik sebesar US$422,8 juta atau 35,60%, lalu plastik dan barang dari plastik sebesar US$161,0 juta atau 28,15%.

Kemudian diikuti oleh golongan besi dan baja US$159,7 juta atau 25,43%, serta logam mulia, perhiasan/permata sebesar US$146,1 juta atau 146,25%. 

Sementara itu, golongan mesin dan peralatan mekanis mengalami penurunan terbesar yaitu US$97,5 juta atau 5,09%, lalu barang dari besi dan baja sebesar US$65,4 juta atau 22,57%, pupuk sebesar US$23,5 juta atau 23,62%, dan bijih, terak dan abu logam US$18,6 juta atau 29,11%.

Sponsored

Dengan demikian, secara kumulatif nilai impor nonmigas Indonesia Maret 2020 mencapai US$11.743,6 juta atau naik 19,83% dibanding Februari 2020 yang hanya US$9.800,5 juta.

Nonmigas masih menjadi impor terbesar yang masuk ke dalam negeri dengan porsi sebesar 86,38% dari total impor sebesar US$13,35 miliar. Sedangkan porsi migas dalam total impor hanya sebesar 13,64%.

Jika dirinci, impor migas pada Maret hanya tumbuh sebesar US$1.606,5 juta, atau tumbuh minus sebesar 8,07% dibandingkan dengan impor migas Februari yang mencapai US$1.747,6 juta. 

Berita Lainnya