sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Indef prediksi pertumbuhan ekonomi 2020 hanya 4,8%

Perkiraan Indef jauh dari target pemerintah sebesar 5,3%.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Selasa, 26 Nov 2019 14:49 WIB
Indef prediksi pertumbuhan ekonomi 2020 hanya 4,8%
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26940
Dirawat 17662
Meninggal 1641
Sembuh 7637

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan ekonomi Indonesia di tahun 2020 hanya akan tumbuh sebesar 4,8%. Angka ini jauh dari proyeksi pemerintah yang mencapai 5,3%.

Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad menjelaskan faktor penyebabnya adalah ketegangan perang dagang yang terus menguat sehingga menyebabkan tren pertumbuhan ekonomi dunia menurun, dan berdampak kepada perdagangan lintas negara.

Ketegangan tersebut, lanjutnya, berdampak kepada turunnya permintaan barang dari Indonesia dan secara langsung berdampak kepada penurunan pertumbuhan ekonomi nasional.

"Negara mitra dagang Indonesia pertumbuhannya slow down di 2020, China di bawah 6%, AS di bawah 2%, Jepang di bawah 1%. Itu yang membuat kita pesimistis pertumbuhan hanya akan tumbuh 4,8%," katanya di Jakarta, Selasa (26/11).

Selain itu, lanjut Tauhid, pertumbuhan investasi juga tidak berkontribusi banyak mendorong pertumbuhan ekonomi meski secara nominal meningkat. Investasi, katanya, lebih banyak mengalir ke sektor tersier yang tidak berkontribusi terhadap pembukaan lapangan kerja baru dan mendongkrak produksi.

Pertumbuhan investasi hanya berkontribusi menyerap sekitar 230.000 sampai 240.000 tenaga kerja baru. Padahal kebutuhan normal sekitar 450.000. 

“Jadi kami yakin dari sisi kedua itu menyebabkan pertumbuhan turun," ucapnya.

Selain itu, lanjut Tauhid, realisasi penanaman modal asing (PMA) hingga akhir 2019 diperkirakan hanya akan tumbuh 8%, jauh lebih rendah dari target pemerintah sebesar 11%.

Sponsored

"Artinya sumbangan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi tidak terlalu menggembirakan," ujarnya.

Selanjutnya, dari sisi domestik, meski kontribusi konsumsi masih relatif besar, namun terjadi penurunan konsumsi untuk barang ritel. Hal ini dapat dilihat dari penurunan penjualan produk otomotif seperti motor dan mobil.

"Itu menunjukkan permintaan domestik produk ritel semakin rendah. Meski untuk kebutuhan bahan pokok tetap stabil," tuturnya.

Dengan penurunan konsumsi, kata Tauhid, akan berdampak kepada berbagai sektor. Misalnya, dapat dilihat dari pertumbuhan industri yang yang stagnan di angka 4,5% dan sektor perdagangan yang tumbuh di bawah 5%.

"Jadi lewat tiga sektor utama itu kami melihat tidak akan begitu baik di tahun 2020, (target) 5,3% di Juli hingga Agustus, sementara Oktober, beberapa lembaga dunia sudah koreksi terhadap pertumbuhan ekonomi 2020," jelasnya.

Tauhid mengatakan konsumsi masih akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi ke depan dengan tetap tumbuh di atas 5%.

"Meski sedikit melambat, konsumsi masih akan tumbuh di atas 5% dan menjadi faktor penyokong ekonomi," ujarnya.

Berita Lainnya